Setelah Adelle mengamati perhiasan itu, ia mengambilnya dengan hati-hati lalu memakaikan kalung itu pada lehernya. Tapi wajah Adelle langsung masam dan tersenyum kecut melihat lehernya yang tidak cocok dengan perhiasan itu.
“Ck!” Adelle berdecak kesal dan melepaskan kalung itu dari lehernya segera.
Adelle kesal karena tidak semua perhiasan akan cocok di lehernya. Ia pun segera memasukkannya kembali ke dalam kotak itu dan menutupnya. Rasa lapar dan juga sudah waktunya jam makan siang, Adelle pun keluar dari kamarnya dan tak lupa ia mengunci pintu.
Tapi baru saja ia turun ke lantai dua, tiba-tiba seorang maid menghampirinya dengan ekspresi pucat pasi.
“Nona Adelle, Nyonya Besar Cameron datang berkunjung.” Kata maid itu seperti baru saja melihat bencana datang ke kediaman Cameron. Moodnya semakin terkikis setelah tahu siapa lagi orang datang hari ini.
“Ck! Katakan padanya aku sedang makan siang.” Ujarnya melenggang pergi.
Adelle tahu bahwa orang itu pasti cepat akan lambat akan tahu tentang kejadian pagi tadi yang dilakukan oleh Christian. Ia benci sekali mengakui bahwa sebenarnya ia tidak ingin dekat-dekat dengan keluarga bak kerajaan itu.
Ibunya yang merasa lebih terhormat dari ratu kerajaan Heavennese itu membuatnya muak. Felicita Cameron, ibu beranak tiga itu tahu suatu saat ia akan digantikan oleh menantunya di masa depan. Putra pertamanya Dante Cameron sekaligus adik bungsu Adelle yang menyedihkan.
Mati-matian Felicita menjaga nama baik keluarga bangsawan yang selalu ia banggakan itu. Menekan Adelle sebagai kakak tertua agar bisa menjadi contoh yang baik untuk kedua adiknya. Adelle muak dengan semua itu.
Semua keegoisan Mondo dan Felicita yang hanya mementingkan bangsawan. Apa arti sebuah keluarga jika mereka berdua yang seharusnya menjadi tiang penopang dan genteng yang kokoh untuk melindungi anak-anaknya itu malah mementingkan ego dan kekuasaan.
Demi tuhan Adelle tidak butuh itu. Jika saja gelar itu bisa ia berikan pada orang lain, Adelle akan berikan. Ia memilih untuk menjadi rakyat biasa dan akan menguasai egonya juga seperti apa yang diajarkan oleh Felicita dan Mondo dari ia kecil.
Menjadi orang yang egois.
Adelle sampai di ruang makan dan segera ia mengambil piring. Buffet menu yang setiap hari disediakan di Manornya ini akan dibagi rata dengan para pekerja di kediamannya. Ia tidak ingin ada satupun pelayan yang sakit dan kurang gizi.
Jika ada satu saja pelayan yang tidak masuk kerja, Adelle akan mencarinya. Karena baginya, semua pelayan sampai tukang kebun pun adalah orang-orang kepercayaan Adelle yang telah bekerja dengannya sejak ia kecil.
“Selamat siang Nona Adelle. Apakah Nona suka dengan menu hari ini?” Adelle mengangkat wajahnya. Pria berseragam chef itu tampak semangat sekali berdiri di seberang meja. Bibir Adelle juga ikut tersenyum membalas sapaan chef Julio.
“Aku selalu suka masakanmu, Julio. Tolong tuangkan sup jamur untukku.” Julio terkekeh senang.
“Sesuai pesanan, Nona Adelle.” Adelle menggelengkan kepalanya saja dan menerima semangkuk sup pesanannya lalu membawanya ke atas meja.
Tidak ada table manner ala kerajaan, Adelle makan seperti manusia pada umumnya. Terkadang sesekali ia mengecek ponsel atau sengaja makan sambil menonton film dari ponselnya. Tapi hari ini ada yang berbeda, Adelle menatap sekeliling ruang makan dan memang tidak ada ketiga sahabatnya yang menemani.
“Julio, dimana Sulli dan yang lainnya?” Tanya Adelle pada Julio yang tampak mengelap piring makanan.
“Bukankah biasanya mereka selalu bersama Nona Adelle? Hari ini mereka belum ada datang ke dapur sejak pagi.”
“Aku sudah memecat mereka semua.”
Adelle menoleh ke arah pintu dan selera makannya langsung hilang. Sengaja ia melemparkan sendoknya ke atas piring dan menatap ke samping dengan ekspresi yan sulit sekali dijelaskan. Julio juga langsung tertunduk dan buru-buru pergi undur diri.
“Jangan melakukan hal yang sia-sia, Felicita. Mereka semua pelayan pribadiku. Selama mulutku tidak berkata memecat mereka, maka tidak ada yang dipecat. Termasuk semua pekerja yang ada di Manor PRIBADIKU.” Kata Adelle sengaja ia menekan kata diujung perkataannya tadi.
Tapi tampaknya perkataan pedas dan kalimat sindiran itu tidak berdampak apapun pada ibunya. Dan Adelle juga tahu bahwa semua perkataannya tidak akan didengar oleh wanita tua itu.
Felicita mendengus jijik melihat perilaku putrinya itu. Matanya mengedarkan pandangan ke segala arah dan menatap sinis pada makanan yang disusun berjajar di meja. Tidak habis pikir bahwa putrinya benar-benar hidup dengan gaya menjijikkan seperti ini.
“Apa maksudmu dengan semua makanan itu? Kau berniat makan seperti rakyat jelata?” Tanya Felicita geli sekali melihat pemandangan di ruang makan ini. Adelle hampir saja tertawa mendengar pertanyaan ibunya.
“Memangnya bangsawan sepertimu bisa apa jika tanpa rakyat jelata, Felicita? Kau bahkan tidak pernah mencuci sapu tanganmu sendiri. Kenapa? Jijik dengan ingusmu sendiri?”
“ADELLE!”
“DIAM!”
Felicita langsung memegangi dadanya setelah putri kandungnya itu membentaknya keras sekali. Ia tidak menyangka jika Adelle bisa sekeras ini padanya. Felicita berjalan mendekat ke arah putrinya dan tak lupa deru nafasnya yang memburu.
Adelle langsung bersiaga dan dengan cepat ia menepis tangan sang ibu yang melayang siap mendarat di pipinya. Felicita mendelik bertambah kaget. Mulutnya terbuka tutup sambil menatap Adelle dengan tatapan sakit hatinya.
“SIAPA YANG MENDIDIKMU MENJADI ANAK KURANG AJAR SEPERTI INI?!” Teriaknya murka.
“Kau tidak sadar atau sedang berpura-pura bodoh? Tentu saja kau dan Mondo yang mengajariku. Berapa kali kalian merundungku agar menuruti perkataan kalian? Mengurungku di ruang bawah tanah, memberiku makan dua hari sekali dengan makanan basi, menyuruh para pelayan untuk menyiksaku… Semua siksaan sudah pernah kau lakukan padaku, Felicita… Jangan lupakan bahwa kau juga manusia sampah sepertiku.”
Felicita langsung mundur beberapa langkah. Mulutnya bergetar sampai tidak sanggup lagi mengucapkan kata-kata. Memang ia sudah menyiksa Adelle sejak ia berumur 15 tahun. Tapi semua itu ia lakukan karena sifatnya yang keras kepala dan selalu bersikap semaunya.
Ia tidak punya pilihan lain selain membuatnya jera dan mau mengikuti aturan keluarga. Tapi yang ia dapatkan malah Adelle yang semakin membangkang dan sifatnya berkali lipat lebih parah dari sebelumnya.
“Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk kurang ajar dengan ibu kandungmu sendiri, Adelle. Apa kau tidak pernah merasa telah berhutang nyawa denganku setelah aku melahirkanmu ke dunia? Kau memang anak tidak tahu diuntung.” Felicita kembali memasang wajah angkuhnya.
Adelle tidak habis pikir bahwa wanita di hadapannya ini tiba-tiba mengungkit hutang nyawa dengannya. Padahal puluhan kali wanita ini berusaha melenyapkannya dari keluarga Cameron.