Satya meneliti pemandangan di depan netranya. Rahang kokoh lelaki itu reflek membentuk sudut dan bibirnya tertarik ke atas melengkungkan senyum tipis. Senyum semringah yang melegakan. Secangkir kopi panas masih menguapkan asap yang tersuguh di depannya tak lebih menarik perhatian lelaki itu daripada sosok sang isteri yang sedang berkutat di dapur membuat menu untuk makan malam. "Kenapa sih Mas, senyum-senyum terus dari tadi? Ada yang aneh ya sama Rissa?" Pertanyaan meluncur dari Rissa saat ekor matanya menangkap sang suami yang henti mengulas senyum. Sejenak fokusnya memotong-motong bawang agak terganggu. "Nggak pa-pa Sayang. Seneng aja bisa dimasakin lagi sama kamu," sahut Satya. Lelaki itu bangkit serta-merta meninggalkan kopi yang belum tersentuh. Menghampiri Marissa, kedua tanganny

