2.kebohongan Elvan

891 Words
Saat Laurin berlarian di kantin, dia tercekat ketika punggungnya menabrak dada seseorang. Ia membalikkan tubuhnya, untuk melihat siapa yang baru saja tak sengaja ia tabrak. Mata Laurin melebar kaget dengan mulut menganga, mendapati seorang cowok beralis tebal yang menatap sinis seolah jijik. Dia adalah Elvano Adli Cetta, salah satu siswa dari FKDK. "Sorry. Gue nggak sengaja," kata Laurin gugup. Elvan masih berdiri kokoh dengan tatapan sinisnya, seakan mengatakan pada Laurin sebuah kalimat 'Jangan ngomong sama gue!'. Laurin bisa melihat kalimat itu dari tatapan mata Elvan. Laurin pun berdehem kikuk, menggaruk tengkuknya, lantas berjalan cepat menuju meja makannya. "Lo kenal sama dia?" tanya Rega yang sempat melihat Elvan ditabrak oleh Laurin. "Enggaklah. Gue nggak mungkin kenal sama anak udik kayak gitu," kilah Elvan yang kini duduk bersama teman-teman sekelasnya. Mata Alan memicing curiga, menangkap ada gelagat kaku dari gestur tubuh Elvan. Sepertinya, Elvan sedang menyembunyikan sesuatu. Ucapan Elvan berkebalikan dengan gerakan tubuhnya. Sudah jelas Elvan berbohong bawasannya dia tak mengenal gadis berjerawat itu. Alan mengedikkan bahu, merasa ia tidak perlu ikut campur urusan Elvan dengan gadis berjerawat itu. Karena memang ia tidak peduli dengan orang lain dan ia tak mau dipedulikan oleh orang lain. Ia hanya ingin sendirian tanpa ada yang mengganggu. "Bushet. Rasanya ketabrak cogan gimana, Rin?" tanya Chika setengah berbisik. "Takut gua," jawab Laurin nyaris tak terdengar. "Duh, andai aja gue yang nabrak Elvan." Vania mulai menghayal. "Eh gue yang seharusnya nabrak!" sanggah Chika tak terima. "Apaan sih kalian bedua!" tegur Laurin marah, heran mengapa kedua sahabatnya sangat menyukai para cowok tampan dari kelas unggulan yang usianya satu sampai dua tahun lebih muda dari mereka. Para siswa kelas unggulan juga menempuh kelas akselerasi saat SMP. Wajar jika usia mereka lebih muda. "Kalau dilihat lagi, Elvan itu nggak kalah ganteng lho." Vania mulai beropini. "Iya-iya," sahut Chika penuh semangat. "Alisnya itu lho. Tebel banget. Bikin greget hati gue." "Gilak ya kalian! Katanya tadi suka sama Rega dan Alan. Pas Elvan dateng, kalian malah pindah. Kosisten dong jadi orang!" "Iya juga ya." Chika meringis seraya menggaruk rambut, membenarkan teguran Laurin barusan. "Makanya, jadi jomblo jangan kebanyakan menghayal!" "Kayaknya kita bertiga harus daftar kartu indonesia pintar deh. Biar pintar mencari pasangan." "Ucul banget sih lo!" Vania tertawa lantas menjitak pelan kepala Chika. "Iiiish udah yuk lanjut makan!" ajak Laurin. "Habis ini kita harus lari-lari lapangan buat latihan fisik." aurin, Vania, dan Chika adalah siswa Delton yang masuk dari jalur beasiswa non-akademik. Mereka mendapatkan beasiswa penuh selama tiga tahun. Jika Laurin berprestasi dalam beberapa cabang ilmu bela diri, Vania dan Chika berprestasi dalam olahraga renang. Tak heran jika napsu makan mereka begitu besar. Itu semua karena mereka harus latihan fisik setiap hari. "Oh my God." Sharfi melirik ke arah tiga cewek yang tengah asyik makan dengan begitu lahap. "Untung aja meja kita jauh dari kalangan bawah. So, gue jadi nggak perlu repot buat minta kantin khusus ke kepsek." "Emang lo pikir, sekolah ini punya nenek moyang elo?" ledek Arsen. Dia adalah anak orang kaya. Namun ia tak peduli jika hanya ada satu kantin di Delton, di mana semua siswa bisa berkunjung ke sana, baik siswa dari jalur non-beasiswa maupun siswa dari jalur beasiswa. "Sekolah ini emang bukan milik nenek moyang gue. Apalagi milik leluhur gue. Tapi bokap gue punya terlalu banyak uang buat menyumpal mulut kepala sekolah." "Sombong banget. Anjir lo!" Rega berdiri setelah menyudahi makan siangnya. Ia kemudian berjalan keluar kantin menuju lorong sekolah. Rasanya ia sudah biasa menjadi sorotan sejak ia menjadi aktor. Kilatan kamera seolah sudah menjadi teman baiknya. Di mana pun ia berada, pasti selalu ada para gadis yang berteriak histeris memujanya. Sungguh, ia tak memiliki waktu kosong untuk sendirian. Langkah Rega terhenti sebelum memasuki kelas. Seorang gadis berambut pendek menghadangnya bersama dua orang teman. Tenggorokan gadis itu seolah tercekat, gugup berjumpa dengan sang idola. Siapa lagi kalau bukan Arkharega Argantha, cowok berhidung mancung yang sudah menyabet berbagai penghargaan film dengan kategori pemeran utama pria terbaik. "Bo ... boleh minta foto nggak?" pinta gadis itu kaku, terlalu gugup bertemu dengan Rega. "Enggak," sahut Rega santai dan terkesan ketus. "Sa ... satu kaliiii aja." "Enggak." "Karena gue nggak lagi kerja," geram Rega menaikkan oktaf suaranya, membuat mata gadis itu mengerjap takut. "Ta ... tapi-" "Minggir lo!" Rega menepikan gadis itu, melangkah lancang memasuki kelasnya, tak peduli jika gadis itu masih berharap bisa berfoto dengannya. "Sadis banget lo jadi artis. Entar kagak laku lho kalau nggak ada fans," kata Vikram mengingatkan. "Bodo." Rega memutar malas kedua bola matanya, memasang headset di kedua telinga, lantas menikmati musik, tak peduli apa yang dikatakan orang lain tentang dirinya. "Yeeeee nih anak dibilangin malah dicuekin. Mentang-mentang udah kaya, tak jadi artis pun tak apa-apa." "Berisik lo!" "Yeee elo juga berisik pas lahir. Ngaku lo! Gue ramal, elo pasti nangis koar-koar pas bayi." "Bushet nih anak. Nggak bisa diem kayaknya." Rega cepat-cepat menyobek selembar kertas dari bukunya lalu meremasnya menjadi bola. "Ngapain lu nyobek buku segala? Apa nggak cukup, elo menyobek hati para cewek itu?" "Nih rasain!" Rega menyumpal mulut Vikram dengan cepat, membuat Vikram terbatuk. Bola kertas tersebut langsung jatuh ke lantai. Vikram segera mengambilnya, mencoba menjejalkannya ke mulut Rega. Sayang tak berhasil. "Awas lo! Entar gue bales." Rega tertawa puas. Senang sekali rasanya membuat Vikram marah. Meskipun Rega tak terlalu bisa bersikap hangat terhadap banyak orang, tapi Rega bisa bersikap hangat pada orang-orang terdekatnya, seperti Vikram yang merupakan sahabatnya sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD