Laurin mendesis kesal setelah membaca pesan itu. Saat Chika dan Vania tengah asyik berbincang sendiri, dia mencari kesempatan untuk pergi tanpa disadari orang lain. Laurin berjalan sesantai mungkin agar dia tak menjadi sorotan siswa lain. Setelah ia merasa aman, dia cepat-cepat menuju halaman belakang sekolah yang cukup jauh dari keramaian siswa-siswi Delton.
"Oi!" panggil Laurin
Seorang cowok bertubuh tinggi tegap lantas berbalik, melihat Laurin dengan tatapan jijik. Ia menghela napas jengah, bosan dipaksa menemui Laurin hampir setiap akhir bulan seperti ini. Tak mau berlama-lama, cowok itu langsung mengeluarkan sebuah amplop pada Laurin. Laurin menatap amplop itu sebentar lalu beralih menatap cowok berambut acak-acakan itu.
"Cepat terima!" cowok itu meraih tangan Laurin lalu meletakkan amplop tersebut dengan paksa.
"Bisa nggak, lo berhenti kasih gue duit?" Laurin menatap amplop itu dengan tatapan miris.
"Gue nggak mau ambil pusing. Lo mau terima atau enggak, itu bukan urusan gue."
"Lo tau kan kalau gue nggak pernah gunain duit ini? Ngapain lo masih kasih gue duit?"
Cowok itu memutar malas kedua bola matanya, heran mengapa Laurin begitu bodoh. "Lo bisa bahasa manusia nggak sih? Gue udah jelasin ke elo berulang kali. Kalau lo mau berhenti, bilang ke orangnya sendiri."
"Tapi elo kan bisa nolak."
"Gue nggak mau mendengar rengekan orang cerewet. Jadi terima aja duit itu dan berhentilah jadi orang cerewet seperti dia. Ngerti?" tandas cowok itu yang terkesan tegas.
Seorang gadis yang kebetulan mencari tempat sepi untuk menelpon pacar tiba-tiba tercekat ketika melihat Laurin tengah berbincang-bincang dengan salah seorang cowok paling hits di sekolah. Siapa lagi kalau bukan Elvano Adli Cetta?
"Eh itu kan Laurin?" mata gadis itu memicing, memastikan bahwa Elvan memang benar sedang berbincang-bincang dengan Laurin, si buruk rupa dari kelas XI-IPS F.
"Ngapain dia ngobrol sama Elvan? Di tempat sepi pula! Wadaw wadigidigidaw! Gossip anget nih." Gadis itu lantas menyiapkan ponselnya, memperbesar fokus kamera, lalu memotret Elvan dan Laurin berulang kali. "Amazing! Gue kasih judul apa nih?"
Gadis itu cepat-cepat mengirim foto-foto tersebut ke semua grup WA yang ia ikuti, dari grup kelas, grup OSIS, grup pramuka, sampai grup paskibra. Tak butuh waktu lama, foto-foto itu langsung menyebar ke semua kelas dan menjadi trending topic terhangat dengan judul 'Handsome and the beast'
Elvan memasukkan salah satu tangannya ke kantong celana lalu pergi begitu saja meninggalkan Laurin yang masih berdiri mematung sambil menatap amplop putih berisi sejumlah uang bergambar Soekarno-Hatta. Ia benar-benar tak peduli dengan Laurin dan uang itu. Terserah Laurin mau menggunakan uang itu untuk apa. Bahkan jika Laurin ingin membakar uang itu, Elvan tetap tak peduli.
"Elvaaaaan!" teriak Sharfi heboh. Ia berlari menghampiri Elvan di ambang pintu.
"Apaan sih? Berisik!"
"El, elo beneran pacaran sama si buruk rupa itu?"
"Siapa?" dahi Elvan berkernyit heran. Ia melangkah lancang, mengabaikan Sharfi yang ingin mengorek informasi darinya.
"Itu lho si Miss acne dari kelas IPS-F."
Elvan berpikir sejenak. Tak butuh waktu lama, ia sudah tahu siapa yang dimaksud Sharfi. Siapa lagi kalau bukan Laurin? Delton International High School bukanlah sembarang sekolah, hanya siswa-siswi dari kalangan atas yang bisa sekolah di sana kecuali siswa-siswi yang masuk dari jalur beasiswa akademik maupun non-akademik. Jumlah penerima beasiswa pun tak seberapa, mungkin sekitar 10% dari seluruh siswa Delton. Dan tentunya, siswa-siswi yang berasal dari kalangan atas pasti melakukan segala cara untuk menghilangkan jerawat, tak peduli berapa pun harga yang akan mereka bayar.
"Iiiiiih kok elo diem aja sih? Jawab dong, El!" geram Sharfi.
"Gue nggak mungkin pacaran sama si udik itu. Najis!" Elvan mengambil buku, membuka halaman 125, lalu membacanya, mengabaikan Sharfi yang terus mengganggunya.
"Terus, kenapa elo bisa ketemuan sama dia di halaman belakang? Hah? Apa mata lo nggak auto katarak setelah lihat muka dia? Gue penasaran banget. Jawab dong, El!"
Tak ada respon dari Elvan. Ia tak mau repot menjawab karena semakin ia menanggapi pertanyaan-pertanyaan Sharfi, pasti gadis berambut panjang itu akan menyiksanya dengan ratusan pertanyaan lain.
"Kalangan atas nggak seharusnya bergaul dengan kalangan bawah," sindir Thirza.
Elvan tak merespon, merasa sindiran Thirza sama sekali tak mengganggunya. Sejak awal dia sudah menduga kalau pertemuannya dengan Laurin di halaman belakang sekolah akan mengundang gosip heboh di sekolah.
"Lo bener banget, Za," timpal Grace dengan nada bicaranya yang selalu terkesan sombong. "Nggak ada malaikat yang rela berbagi surga sama iblis. Biarin aja iblis bermain di habitatnya. Ne-ra-ka."
Thirza terkekeh mendengar gurauan Grace. Mereka berdua seolah melarang Elvan beriteraksi dengan Laurin. Namun larangan mereka hanya berupa sindiran, belum berani berkata langsung pada Elvan.
"El ayo cerita, El." Sharfi mengoyak lengan Elvan, membuat Elvan melirik sinis padanya. Seketika Sharfi menelan ludah, lalu menutup mulutnya rapat-rapat, takut jika Elvan marah padanya.
"Mampus lo! Kena macan marah!" ledek Arsen diikuti gelak tawa Vikram.
Sharfi mengerucutkan bibir tipisnya, menghentak-hentakkan kakinya ke lantai, kesal karena diledek. Ia pun terpaksa kembali ke mejanya seraya melipat tangan. Padahal ia masih penasaran dengan kehidupan pribadi Elvan. Bagaimana bisa cowok seperti Elvan bisa mengadakan pertemuan rahasia dengan gadis buruk rupa dari kelas F pula.