"Lauriiiiiiiiiin." Teriakan kedua sahabat Laurin benar-benar memekik telinga, membuat mata Laurin terpejam menahan deru nyaring suara itu. Ia buru-buru menutup kedua telinganya sebelum ia benar-benar membutuhkan jasa dokter THT.
"Laurin, apa bener lo ada hubungan sama Elvan? Apa bener kisah handsome and the beast itu nyata?" tanya Vania begitu antusias.
"Aduuuh gue nggak percaya kalau elo bisa ketemuan sama Elvan. Di tempat sepi pula. Pasti kalian lagi cinta-cintaan. Iya kan? Ngaku lo!" tebak Chika tak kalah heboh.
"Apa sih yang kalian omongin? Gue nggak ngerti." Laurin berjalan santai menuju tempat duduknya, tak peduli dengan Vania dan Chika yang mengikutinya dari belakang lantas duduk di sampingnya.
"Nih. Lihat nih." Chika mengeluarkan ponsel dari dalam sakku seragamnya lalu menunjukkan salah satu foto yang ia dapat dari grup WA.
Mulut Laurin langsung menganga lebar, tak percaya dengan apa yang ia lihat. Padahal ia sudah berhati-hati dalam menyimpan rahasia. Sebelum ia menemui Elvan, dia sudah mengecek keadaan. Namun tak ia sangka ada orang yang memotretnya hanya untuk dijadikan bahan gosip di seluruh penjuru sekolah.
"Eh lo itu diam-diam menghanyutkan ya. Gara-gara elu, stok cogan Delton jadi berkurang satu." Vania mencubit gemas pipi Laurin, dan berhasil membuat Laurin meringis kesakitan karena cubitan Vania tentu saja menyakiti sejumlah jerawatnya yang baru tumbuh subur.
"Aw!" Laurin menghempaskan tangan Vania sambil mendengus kesal. "Sakit tau!"
"Pokoknya lo wajib cerita semuanya. Gue harus tau gimana elo dapetin si Elvan." Chika mengoyak kedua pundak Laurin, memaksa Laurin bercerita.
"Iya-iya. Gue cerita." Laurin melepaskan kedua tangan Chika dari pundaknya. Kemudian menghela napas jengah.
"Ayo cepetan cerita!" paksa Vania tak sabar.
"Em ..." Laurin mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam saku seragamnya kemudian menunjukkan isinya pada kedua sahabatnya. "Gue nggak sengaja jatuhin amplop ini ke jalan. Terus dia yang nemuin. Habis itu dia kasih amplop ini ke gue."
Mata Chika memicing curiga, tak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan Laurin. "Terus, kenapa dia bisa tau kalau amplop itu punya elo?"
"Em ... ada tulisan nih. Tuh lihat!" Laurin bergegas membalik amplop tersebut dan menunjukkan bahwa di sana ada tulisan 'Untuk Laurin'
"Oooh sudah kudugong," ucap Vania dan Chika bebarengan seraya mengangguk paham. Padahal mereka tidak tahu bahwa Laurin telah mengarang cerita. Sebenarnya ada sebuah rahasia besar yang Laurin simpan rapat-rapat bersama Elvan.
"Seharusnya gue bisa nebak kalau seorang Elvano Adli Cetta nggak mungkin suka sama seorang Laurindya Ailani," kata Vania.
"Heeeem." Chika mengangguk, mengibaskan kedua telapak tangan ke dekat hidung, lantas menghirup udara dalam-dalam seperti seorang paranormal yang kerap ia lihat di televisi. "Gue mencium bau cinta yang bertepuk sebelah tangan."
"Mantul, Chikayioshi!" Vania tergelak sembari bertepuk tangan heboh. "Bravo! Bravo!"
Laurin memasuki rumahnya, melepaskan sepatu dan kaos kaki, lalu meletakkannya ke rak. Langkah kakinya terhenti saat sampai di ruang tengah. Ia melihat Pak Asep yang tengah memijat pelipisnya, tampak pusing dan bingung bukan main.
"Ayah? Ayah sakit ya?" Laurin bergegas duduk di samping ayahnya. Dahi Laurin berkerut, cemas dengan kondisi ayahnya yang tampak kurang sehat.
"Laurin, Ayah mau ngomong sesuatu." Pak Asep meraih tangan Laurin, menggenggamnya erat. Ada kekuatan dalam genggaman itu.
"Iya. Ada apa, Ayah? Kok serius banget sih?"
"Sepertinya kita harus segera pindah dari rumah ini."
Laurin terlonjak kaget. "Pindah? Kenapa ... kenapa kita harus pindah, Ayah? Laurin suka rumah ini."
"Laurin. Maafin Ayah. Sebenarnya ... Ayah bangkrut total."
Lagi, Laurin terlonjak kaget bukan main. "Bangkrut? Kok bisa?"
Pak Asep adalah seorang pelatih beberapa cabang ilmu beladiri. Sejak tahun 2002, ia berhasil mendirikan pusat pelatihan ilmu beladiri yang ia namai 'Pagar Jiwa'. Setelah cukup berjaya selama 16 tahun, kini ia harus menutup pusat pelatihan tersebut karena sejumlah masalah yang ia hadapi.
"Lahan Pagar Jiwa ternyata adalah lahan sengketa, Laurin. Sebenarnya, Ayah sudah mengurus masalah ini di pengadilan. Tapi hakim memenangkan orang itu. Terpaksa Pagar Jiwa harus ditutup," jelas Pak Asep.
"Kenapa Ayah baru cerita sekarang?"
"Maaf, Laurin. Ayah hanya ingin kamu fokus belajar dan latihan. Itulah sebabnya Ayah menyembunyikan masalah ini."
"Terus kita mau tinggal di mana?"
Rumah Laurin satu lahan dengan pusat pelatihan ilmu bela diri Pagar Jiwa, yang mana rumah Laurin terletak di lantai dua pusat pelatihan tersebut. Tak heran jika Laurin harus pindah sesegera mungkin sebelum diusir secara paksa.
"Ayah sudah ngelamar kerja jadi satpam. Dan untungnya, mereka membolehkan kamu tinggal di sana juga bersama Ayah. Kamu mau kan?"
Iya, Ayah. Ke manapun Ayah pergi, aku mau ikut." Laurin tersenyum. Ia peluk Pak Asep sambil menepuk-nepuk punggung pria yang hampir berusia setengah abad itu.