Mulut Laurin menganga lebar saat ia tiba di depan sebuah rumah besar berpagar tinggi. Kemudian ia menelan ludah, takjub mengapa ada rumah sebesar itu di Jakarta. Perlahan, ia melangkahkan kaki memasuki halaman rumah itu setelah dibukakan pintu gerbang oleh seorang wanita berseragam layaknya baby sitter. Lagi, mulut Laurin menganga takjub, mengikuti langkah Ayahnya dari belakang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman rumah yang terhampar rerumputan hijau, bunga-bunga, dan pepohonan kamboja yang mengeluarkan harum semerbak.
"Silahkan duduk, Pak." Baby sitter itu mempersilahkan Pak Asep untuk duduk saat mereka memasuki ruang tamu.
Mata Laurin memicing, membaca name tag di seragam baby sitter itu. "Makasih ya, Mbak Mirna."
Baby sitter itu tersenyum. "Iya. Sama-sama."
Laurin kembali melihat-lihat desain interior rumah yang berbau gaya Eropa. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sosok penghuni rumah semewah itu dan seberapa kaya hingga bisa membangun rumah yang megah dan indah. Ia hanya berharap Ayahnya tidak bekerja di rumah seorang koruptor atau semacamnya, takut jika Ayahnya dipecat apabila majikannya terciduk KPK. Laurin menggeleng kuat-kuat, merasa khayalannya begitu liar.
"Silahkan diminum." Mbak Mirna kini menyuguhkan dua cangkir teh hangat untuk Laurin dan Ayahnya.
"Mbak Mirna, di sini ada toilet nggak?" tanya Laurin sambil tersenyum kaku, masih sungkan beradaptasi dengan tempat baru.
"Sebelah sana." Mbak Mirna menunjuk ke arah timur, membuat Laurin menoleh dan mengangguk paham.
"Makasih, Mbak."
Laurin kemudian berjalan cepat menuju toilet, menutup pintu, lalu membuang air kecil. Setelah selesai, ia tak lupa mencuci tangan di wastafel. Langkah kakinya tercekat ketika ia membuka pintu toilet. Matanya menyipit saat melihat sesosok cowok tampan yang kini sedang menuruni tangga. Mulutnya kemudian terbuka lebar kaget. Berulang kali ia mengerjap dan mengucek mata. Tapi ternyata benar ia tak salah lihat.
"Gue nggak salah lihat kan?" Laurin bertanya pada dirinya sendiri. "Itu kan Atta."
Laurin mulai mondar-mandir bingung, memegangi kepalanya yang mendadak pusing. "Aduuuh, gimana ini? Gawat jika Atta tahu kalau gue adalah anak satpam di rumah dia."
"Atta itu kan cowok yang gue suka."
Laurin terus berbicara sendiri sambil terus mengamati Atta dari balik pintu toilet. Cowok berambut rapi itu terlihat sudah keluar rumah, membuat Laurin bisa bernapas lega.
"Gue nggak bisa tinggal di sini. Atta pasti illfeel banget kalau harus lihat muka gue tiap hari." Laurin menatap cermin, meraba wajahnya yang penuh dengan jerawat, lalu bergidik ngeri. Dia menyadari bahwa dia sangat buruk rupa. Ada banyak jerawat yang tumbuh subur di kulit putihnya.
"Gue harus bagaimana dong? Apa sebaiknya gue tinggal di asrama Delton aja? Lagian, gue juga malu kalau ketemu Atta."
Setelah berpikir keras, Laurin pun keluar dari toilet dan berjalan menuju ruang tamu, duduk di sebelah Ayahnya. Ia terdiam sejenak, takut jika Ayahnya tak memberi izin padanya agar tinggal di asrama.
"Laurin, kok kamu lama banget di toilet?" tanya Pak Asep.
"Em ... iya, Ayah. Aku kan lagi dapet. Jadi agak lama di toilet," jawab Laurin.
"Oooh."
"Ayah."
"Hmmmm?."
"Setelah aku pikir, sebaiknya aku tinggal di asrama aja deh."
"Kenapa? Kok tiba-tiba berubah pikiran?"
"Nggak apa-apa. Kayaknya seru aja kalau tinggal bareng sama temen."
"Kebetulan sekali, Laurin. Tadi pemilik rumah ini sudah berbicara sebentar dengan Ayah. Katanya, kamar pembantu sudah full semua. Jadi kamu nggak bisa tinggal di sini sama Ayah. Maaf."
Alis Laurin terangkat, kemudian ia menghela napas lega. "Nggak apa-apa, Ayah. Laurin tinggal di asrama aja."
"Maaf ya, Rin. Tapi Ayah janji bakal jenguk kamu tiap minggu."
"Ashiyaaaap." Laurin mengangkat tangannya, menempelkannya ke kening, memberi hormat pada Pak Asep.
Senyuman Laurin mengempis ketika sosok Atta memasuki rumah. Ia buru-buru menaruh rambut panjangnya ke depan, menutupi sebagian besar mukanya, berharap Atta tidak mengenalinya.
"Mbak Mirna, ambilin kunci mobil di kamar!" perintah Atta.
"Iya, Tuan." Mbak Mirna mengangguk patuh, berlari secepat mungkin menaiki tangga menuju kamar Atta untuk mengambil kunci mobil.
Tak butuh waktu lama, Mbak Mirna sudah kembali membawakan kunci mobil Atta. Lagi, Laurin bisa bernapas lega karena Atta tak melihatnya. Ia pun segera merapikan rambutnya ke belakang seperti biasa. Kalau tidak ia rapikan cepat, ia takut dikira Sadako.
"Ayah, kalau gitu aku pergi dulu mau ke asrama." Laurin berdiri lantas memegang kopernya.
"Kenapa buru-buru, Rin?"
"Aku mau daftar kamar asrama, Yah. Takutnya entar malah udah full."
"Ayah anter ya."
"Nggak usah, Ayah. Aku pesen ojol aja. Ayah kan hari ini udah mulai bertugas."
"Ya udah kalau gitu hati-hati ya."
"Iya, Ayah." Laurin meraih tangan Pak Asep lalu menciumnya. "Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Mbak Mirna dengan sigap mengantar Laurin keluar rumah. Mereka berjalan santai di halaman rumah yang sangat luas menuju gerbang. Sesekali Laurin melontarkan pertanyaan pada Mbak Mirna, penasaran dengan sosok Atta.
"Mbak, menurut Mbak Mirna, cowok tadi itu kayak gimana sih?"
"Tuan Atta?"
"Oooh namanya Atta?" Laurin mengangguk, berpura-pura tak mengenal Atta.
"Dia ... dia baik kok."
Sudah gue duga,"batin Laurin seraya mengusap dagu. "Baiknya dia tuh kayak gima-"
"Eh itu ojek kamu udah datang," potong Mbak Mirna cepat. "Udah ya. Sampai jumpa."
Laurin mengedikkan bahu, tak mengerti mengapa Mbak Mirna buru-buru kembali ke dalam rumah. Ia kemudian bergegas menaiki ojek online yang ia pesan menuju asrama Delton.