Surga tersembunyi

1339 Words
   Mereka berdua diantar oleh Brian ke Airport. Sampai di sana, Brian melepas mereka dan segera pulang karena ada tugas yang menunggunya.    Sementara Bara dan Niana, berjalan menuju departure keberangkatan.    Entah kenapa berjalan di keramaian seperti ini membuat Niana tidak nyaman, dia tampak gelisah dan cemas. Mungkin trauma dengan beberapa kekerasan yang ia terima akhir-akhir ini.    Bara melingkarkan tangannya di pinggang Niana.    "Nggak papa, ada aku disini, kamu nggak perlu takut." ucap Bara yang seakan melihat baliho besar di dahi Niana bertuliskan aku takut sekali.    "Kita mau kemana sih Bar, please untuk saat ini aku nggak nyaman bepergian, mungkin aku memang ingin berlibur dan jalan sama kamu, tapi nggak tau kenapa kondisinya nggak nyaman banget buat aku Bara. Dua kali loh aku nyaris terbunuh." ucap Niana.    "We Will go to Heaven, jangan takut lagi." kata Bara.    "Heaven nya kamu itu belum tentu sama kaya Heaven nya aku Bar." kata Niana.     "Emang Heaven kamu kaya gimana sih Na? Aku bisa merubah destinasi kita, sesuai keinginan kamu." tanya Bara.    "Heaven aku..?" Niana balik bertanya.    "Bareng kamu kaya gini aja udah heavenly days Bar." jawab Niana dengan jujur.    Bara tersenyum.     "Sesederhana itu?" tanya Bara.    "Iya... Please give me your time, sebenarnya aku nggak suka kamu selalu ada waktu buat Ellea sedangkan buat aku cuman sisa waktu di hari libur kamu." jawab Niana.    "Okke sayang... Kita bakalan habiskan waktu yang begitu panjang hanya berdua saja. Aku udah kasih tugas ku ke Brian." lanjut Bara.    "Tapi Bar... Menurut kamu di tempat tujuan kita nanti, kamu bisa jamin aku bakalan safe? Aku tuh takut banget Bara." ucap Niana.    Bara menghentikan langkahnya, dia berbalik kearah Niana. Memengang kedua pipi Niana.    "Kalau sama Warrior nggak perlu worrier." jawab Bara.     "Jangan tinggalin aku lagi." ucap Niana.    "Siappp... Permintaan mu adalah perintah yang mulia." kata Bara, yang disambut cubitan oleh Niana.    "So... Ready to go?" tanya Bara.    "Of course..."jawab Niana.    Setelah menempuh beberapa jam penerbangan dan jalur darat mereka tiba juga di tempat yang dituju.    Matahari mulai tenggelam dengan rona kemerahan yang semburat menghiasi langit.    Sungguh indah langit sore ini. Berada di surga tersembunyi bersama orang terkasih. Momen yang sempurna.   "Kamu suka?" tanya Bara.   "Suka..." jawab Niana.    "Bentar lagi kita sampai, dan kamu bisa istirahat." ucap Bara.    "Iya... "jawab Niana, perjalanan yang panjang ini membuat luka di perut Niana terasa nyeri karena terlalu lama duduk, namun dia tidak mau merusak suasana dengan mengeluh. Dia hanya memegangi sambil menatap keluar jendela.    "Are you ok?" tanya Bara.    Niana tersenyum sambil mengangguk. Bara meraih kepala Niana dan menyandarkan ke bahunya.    "Capek banget ya?" tanya Bara.    "Enggak kok, aku seneng banget, aku nggak pernah pergi sejauh ini sebelumnya, dan ketempat seperti ini." jawab Niana.    "Malam ini kita istirahat dan besok kita bisa jalan-jalan." ucap Bara.    "Iya." jawab Bara.    Mereka tiba di sebuah resort, yang mana satu unit resort ini adalah milik Bara secara pribadi.    Keren banget emang si Bara, duitnya dia investasikan ke property juga.     "Ayo sayang.." ajak Bara usai mengambil kunci unitnya.    "Hmmm pasti mahal banget disini, kenapa enggak cari penginapan yang murah aja yang kaya kos-kosan bayar tiap bulan gitu?" tanya Niana.    Bara hanya tertawa, dia mengambil koper Niana dan membimbingnya berjalan menuju unitnya.    "Aku udah beli satu unit di sini, dan yang bakalan kita tempatin selama beberapa bulan mendatang adalah milik aku sendiri. Jadi kamu nggak perlu khawatir, just enjoy your day." kata Bara.    "Aaaa iya iya iya harusnya aku udah mikir kaya gitu tadi. Aku lupa kalau kamu banyak duit." kata Niana dengan wajah datar.    "And... Here we come..." ucap Bara sambil membuka pintu resort miliknya.     "Kerenn..."ucap Niana dia terkagum-kagum dengan arsitektur di dalam nya.    Niana berkeliling, dia sangat senang berada di sini, ada private pool nya juga, ada side dengan dinding kaca berbentuk cembung.    "Tunggu, sebagus ini hanya ada satu bed?" tanya Niana.    "Iya... Kan kita bisa join tempat tidur, lagian juga king size kan?" tanya Bara.    "Ehmm... Iya udah, tapi janji jangan macem-macem ya." ucap Niana.    "Hmmm..." sahut Bara.    "Aku mau bersih-bersih dulu. Bau keringat." ucap Niana, dia mengambil salah satu kimono towel dan masuk ke kamar mandi.    Begitu masuk ke kamar mandi, dia langsung duduk merosot ke lantai memengangi perutnya.    "Tahan... Tahan, jangan sakit please." ucap Niana.     Lama sekali Niana berada di dalam. Akhirnya dia keluar dengan mengganti pakaiannya dengan setelan piyama.    Dia melihat Bara sudah tertidur kala menonton tv. Niana kesulitan berjalan untuk sampai ke arah tempat tidur. Namun dia tidak ingin menganggu istirahat Bara.    Begitu berhasil menjangkau, tempat tidur, Niana langsung merebahkan diri. Bara menyadari pergerakan di sampingnya, dia membuka mata dan mendapati Niana yang kesakitan sambil memegangi bekas lukanya.    "Na... Kamu kenapa?" tanya Bara.    "Perlu aku panggilan dokter?" tanya Bara sambil menarik selimut untuk Niana.    "Aku nggak papa, cuman kayanya tadi kelamaan duduk jadi terasa nyeri lagi." jawab Niana.    "Kenapa kamu nggak minta bantuan aku?" tanya Bara.    "Maaf aku tadi ketiduran soalnya." ucap Bara.    "It's ok Bara, nggak papa, tolong ambilin obat aku di koper ya, di tas aku yang warna putih." ucap Niana.    Bara bergegas membuka koper Niana dan mencari tas yang dimaksud.    "Na... Kamu nggak lupa kan, ini nggak ada obatnya loh." ucap Bara mulai panik.    "Ya Tuhan... Tadi aku sempat minum sebelum berangkat mungki lupa nggak aku masukin lagi." ucap Niana dengan lemah.    "Yaudah aku beliin dulu ya." ucap Bara.    "Enggak Bara, nggak mau, jangan kemana-mana, kamu temenin aku aja, aku takut." ucap Niana.    "Tapi kamu butuh obat ini Na." kata Bara.    "Enggak aku bisa tahan cuman butuh istirahat aja, kamu temenin aku ya, jangan kemana-mana." pinta Niana.    "Kamu yakin?" tanya Bara.    "Iya." jawab Niana.    "Apa perlu aku minta tolong pihak resort buat sediain obatnya?" tanya Bara.    "Nggak perlu Bara, udah aku cuman minta kamu buat nemenin aku aja. It's ok, aku nggak papa." jawab Niana.     "Gimana bisa bilang nggak papa, udah kaya gini juga." kata Bara dia beranjak pergi, namun buru-buru Niana meraih tangan Bara.    "Enggak mau Bara.. jangan pergi, jangan tinggalin aku, aku takut. Udah kamu disini aja, aku nggak papa." kata Niana.    "Beneran kamu nggak papa?" tanya Bara.    "Iya... Udah sini balik tidur lagi." kata Niana.     Bara pun akhirnya hanya menuruti permintaan Niana. Dia berbaring di sebelahnya sambil memeluk Niana.    "Nanti kalau sakitnya nggak reda juga kamu bilang ke aku ya." ucap Bara.    "Iya." jawab Niana.    Entah berapa lama mereka berdua dalam posisi seperti ini, yang jelas Niana sudah terlelap saat Bara hendak memindahkan tangannya perlahan.    Dia menata posisi Niana senyaman mungkin. Lalu membetulkan letak selimut Niana.    Bara memandang wajah gadis di sebelahnya lekat-lekat, kemudian membelai rambut Niana dengan penuh kasih sayang.    "Makasih udah menjaga kalung ibu aku selama ini." batin Bara ketika melihat kalung yang masih dipakai oleh Niana.    Usapan Bara pindah ke pipi Niana, kemudian berhenti di sana.    Bara memberanikan diri mencium Niana saat gadis itu tengah tertidur.    Kecupan kecil itu berlanjut menjadi lumatan dan hisapan. Bara tersenyum.    "Dasar... Kebo. Bisa-bisanya dia tetap tertidur dan nggak ngerasa apa-apa." kata Bara.    Bara beringsut pelan, dia bangkit dan duduk di sofa. Meraih ponselnya dan membuka pesan masuk.    "Begitu sampai kasih kabar." tulis Brian.    "Kamu bakalan balik kapan?" tulis Hanna.    "Miss U Bara." tulis Ellea dengan disertai foto dirinya tengah memakai gaun malamnya.    Bara membalasnya satu persatu lalu mulai mengecek informasi lainnya.    Hingga lewat tengah malam, Bara mulai terserang kantuk, dia kembali ke tempat tidur. Dilihatnya, Niana masih terlelap.     Bara memeluk Niana, dia menyusup ke ceruk leher Niana. Sebagai laki-laki yang normal, sebenarnya timbul juga hasrat terlarang ingin menikmati tubuh Niana malam ini. Namun dia menahannya.    "Si Brian ada benernya juga sih, berdua saja sama dia tempat ini, impossible kalau nggak ngapa-ngapain." kata Bara.    "Mana candu banget bibirnya." batin Bara.    "Kasih tanda aja, besok dia pasti marah-marah." kata Bara dalam hati.    Dia membuka 2 buah kancing piyama Niana hingga menampakkan dadanya yang mengintip.    Dengan hati-hati Bara meninggalkan jejaknya disana.    "Tuh kan enggak bangun juga., Kayanya benaran kecapekan dan kesakitan nih anak." kata Bara kemudian.    Keesokan harinya Niana agak kaget karena Bara memeluknya dan tidur dengan nyaman di sampingnya.    Niana menghindari perlahan kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mandi. Sampai hari terang juga Bara belum bangun juga.    Bahkan sarapan mereka sudah diantarkan. Niana yang sudah lapar akhirnya mencoba membangunkan Bara.                      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD