Long Trip

1054 Words
   Niana sudah tertidur dengan tenang di kamarnya, pasca pertolongan tadi, kini dia sudah bisa pulang kerumah.    Bara sangat kecapekan hari ini, dia bahkan nyaris tertidur sambil duduk menemani Niana.    Tersadar dirinya mulai terserang kantuk, Bara berdiri, dia menggapai saklar dan mematikan lampu kamar Niana, sebagaimana kebiasaan Niana tidur dengan lampu yang padam.    "Bara... Jangan matiin lampunya, aku... Aku takut gelap." ucap Niana terpatah-patah, rupanya gadis itu trauma pada kegelapan dalam peti.    "Oh... Iya sayang, tentu saja, aku akan nyalain lampunya." ucap Bara, kemudian menyalakan lampu kamar Niana kembali.    "Are you ok?" tanya Bara.    Niana mengangguk. Bara mengecup kening Niana lalu meninggalkannya.    Bara masuk ke kamarnya, di sana ada Brian yang tengah memantau cctv.    "Dia udah tidur?" tanya Brian.    "Udah.. jadi takut gitu sama gelap." jawab Bara.    "Menurut aku, kayanya aku butuh bawa dia menjauh deh untuk beberapa saat, sampai semua gejolak Salma memudar." ucap Bara.    "Terus... Lo mau bawa dia kemana?" tanya Brian.    "Entahlah... Aku belum tau Yan, yang jelas ke tempat yang dia bisa nyaman menjadi diri sendiri." jawab Bara.    "Ehmm okay... It's been how long you go?" tanya Brian.    "Ini juga aku belum tau, tapi aku juga enggak bisa selamanya pergi, karena tanggung jawab ku pada Ellea nggak akan pernah berhenti sampai dia menikah." jawab Bara.    "Rumit banget sih hidup Lo." ucap Brian.     "Okke Lo mau pergi kapan, mau gue bantuin packing-packing nih?" tanya Brian.     "Ya udah boleh deh, dan kayanya kamu juga harus nerima semua tugas yang harus aku kerjain.     "Ya asal gak bahaya banget gue pasti terima." ucap Brian.     "Taik Lo... Gue bilang semuanya Yan." ucap Bara kesal pada adiknya.     "Gue lebih suka cara bicara Lo yang kek gini ke gue, karena ngerasa kalau kita beneran Deket banget." ucap Brian.     "Hmmm whaterver lah ya, as.. house wish." sahut Bara.     "Sekarang kalau Lo jadi gue, menurut Lo, gue harus bawa Niana kemana?" tanya Bara.     Sebenarnya Brian sangat menghargai karena Bara benar-benar menganggap keberadaanya, Bara bahkan selalu meminta pendapatnya untuk hal-hal yang sebenarnya bisa Bara putuskan sendiri.    "Lo yang lebih tau Niana Bar, jadi Lo yang lebih tau bakalan kemana." jawab Brian.    "Okke... Besok pagi gue akan ngomong ke dia soal rencana pergi sementara ini." ucap Bara.    Malam ini Bara di bantu Brian untuk merapikan apa saja yang harus ia bawa. Dia juga sudah mempersiapkan akomodasi kepergian mereka.    "Jadi Lo mutusin buat kemana?" tanya Brian.    "Ehmm kayanya trip ke private island ini deh." jawab Bara sambil melemparkan sebuah brosur.    "Wiih gila mahal banget berapa lama Lo bakalan tinggal disana?" tanya Brian.    "Sampai Niana ngerasa lebih baik gitu, mungkin sebulan dua bulan." jawab Bara.    "Hmmm pulang-pulang ngasilin ponakan baru nih." kata Brian.    Bara terlihat memikirkan kata-kata Brian kemudian menggetok kepala Brian dengan keras menggunakan remote AC.    "Ya Lo mau ngapain lagi, nggak ada kerjaan juga Lo disana, waste time dengan making baby adalah best choice." bisik Brian.    "Nyesel banget punya adek otaknya cuman 20%." kata Bara.    "Ya Lo mau ngapain lagi coba, di private island, yang paketnya mahal banget, cuman berdua, serasa kek bulan madu, dan Lo nggak nge s*x sama dia, it's bullshit man..." kata Brian.     "Sumpah ya, sebelum Lo ngomong tadi, gue sama sekali nggak kepikiran, buat ngehamilin anak orang." kata Bara.     "Terus sekarang udah kepikiran kan?" tanya Brian.     "Lo mau tau aja urusan orang dewasa." kata Bara.     "Okke tugas gue udah selesai.. Nih cukup kan semua gak ada yang ketinggalan?" tanya Brian kemudian.     "Okkee .. kayanya nggak ada deh, thanks, Lo jaga diri baik-baik, jaga rumah... Jangan masukin cewek ke rumah, awas aja Lo, sampai gue balik dan Lo udah buntingin anak orang." kata Bara.    "Hahahahahaha..." Brian tertawa ngakak sambil pergi dari kamar Bara untuk kembali ke kamarnya.     Sebelum dia masuk ke kamar, dia menyempatkan diri untuk menjenguk Niana. Gadis itu masih terlelap.     Brian menaikkan selimut Niana kemudian keluar kamar Niana.     "Gue ikhlas ngelepas Lo Na.. Lo berada di tangan yang tepat buat jagain Lo." batin Brian.    Keesokan harinya, Niana baru membuka mata saat sinar Matahari sudah menerobos masuk ke dalam kamarnya.    Dia menggeliat sambil melirik jam digital yang ada diatas nakas.     "Jam 7 pagi." ucap Niana.     "Pagii..." sapa Bara yang sudah ganteng dengan kemeja berwarna putih dengan celana senada.     "Kamu... Tumben kerja nggak pakai item-item, biasanya selalu pakai hitam?" tanya Niana.     "Hmmm... Kamu lupa? Aku kemarin udah janji mau ngajakin kamu long trip." jawab Bara.     "Hmmm?" gumam Niana.     "Iya kita bakalan liburan, berdua saja untuk waktu yang lama." jawab Bara.     "Brian?" tanya Niana.     "Dia stay disini, kan dia harus kerja." jawab Bara.     "Dia merangkap kerjaan aku juga." tambahnya.     "Kenapa nggak kita bertiga pergi jauh aja, meninggalkan ini semua dan menjadi manusia baru di tempat lain?" tanya Niana penuh harap.    "Aku takut... Aku takut banget Bara." tambahnya.    Bara menghampiri Niana dia duduk di samping gadis itu kemudian memeluknya. ,    "Karena tugas aku belum selesai di sini sayang, aku janji begitu kita kembali, semua akan baik-baik saja, aku janji. Dan Brian juga bisa memastikan itu." kata Bara.    "Apakah karena Ellea, kamu nggak bisa ninggalin dia sendirian kan?" tanya Niana.    "Iya .. itu salah satunya." jawab Bara.    "Percayalah ini bukan karena Ellea tapi ini adalah tanggung jawab dan janji aku pada mendiang tuan Shannon." tambah Bara.     Niana mengangguk pelan.    "Apakah kamu juga akan ngerasa baik-baik saja, kalau aku dijagain cowok lain?" tanya Niana.    Bara terdiam dia telihat tidak bisa memberikan jawaban apapun.    "Bercanda kok." ucap Niana sambil tersenyum.    "Lagian aku nggak kenal cowok lain selain kalian berdua." Kata Niana.    Bara tersenyum kemudian mengusap rambut Niana dengan lembut.    "Aku janji, tanpa cowok lain, aku bisa lindungi kamu." jawab Bara.    Niana mengangguk.    "Yaudah kita akan berangkat jam 10 pagi, jadi kamu bisa siap-siap mandi dan packing, ok?" tanya Bara.     "Okkee siapp..." jawab Niana.    Dan saat Niana mandi, Bara menelpon Ellea.    "Ada apa Bara?" tanya Ellea dari seberang.    "Selamat pagi Nona, maaf saya menelpon sepagi ini." Jawab Bara.    "Iya nggak papa, what going on?" tanya Ellea.    "Tidak ada apa-apa Nona. Tapi saya hanya ingin memberi tahu bahwa saya akan pergi ke suatu tempat agak lama, untuk urusan apapun yang anda percayakan pada saya, anda bisa melimpahkannya pada adik saya." jawab Bara.    "Kamu mau kemana Bara?" tanya Ellea.    "Ada tugas yang harus saya kerjakan dalam beberapa bulan ini." jawab Bara.    "Kamu sendirian? Atau sama cewek?" tanya Niana. Oh    "Yang jelas saya tidak pergi seorang diri Nona, jaga diri anak baik-baik ya, kalau anda butuh bantuan, saya kirimkan nomor adik saya." jawab Bara sambil mengirimkan nomor Brian.           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD