Sementara itu, Niana mulai sadar, namun dia kesulitan bernafas, karena tempatnya gelap dan sempit.
Meraba ke sekitarnya, ada dinding di kanan kiri dan atasnya, dia mulai panik ketika menyadari dirinya berada di dalam peti.
"Hahhh... Enggak nggak mungkin, Baraa... Tolong aku, kamu tau aku ada di mana Bara." kata Niana berusaha berteriak dengan keras namun mulutnya telah di lakban.
"Aku nggak boleh mati konyol kaya gini, berapa lama manusia bisa bertahan hidup dalam peti mati kaya gini." ucap Niana.
"Tunggu... Aku belum dikubur, ini masih berada di jalanan, aku ngerasain getaran nya." ucap Niana.
"Okke aku harus hemat oksigen gak boleh panik, biar oksigen gak cepet habis." ucap Niana, dia berusaha membuka penutup mulutnya dengan pelan.
"Buat apa dia melakukan ini, kali ini siapa lagi yang bayar orang buat bunuh aku, tapi dia membungkam mulutku dan membiarkan tanganku terbuka." ucap Niana.
Niana mulai memukul dan menendang peti yang sudah di skrup itu dengan tangan dan kakinya, tapi nihil.
"Ya Tuhan... Aku udah sesak nafas. Kumohon Bara, tolong aku." ucap Niana.
Sementara itu Bara dan Brian berhasil menemukan sebuah bangunan dengan cctv terdekat dari lokasi peleburan limbah plastik.
"I... Ini ada truk es krim lewat sini, bisa nggak sih kalau kita persempit kemungkinan dia dibawa dengan trusk es krim ini?" tanya Brian.
"Tapi kemungkinan lain lebih banyak Yan." sangkal Bara yang em coba berpikir realistis karena tentu banyak kendaraan yang lewat.
"Lagian kenapa sih Lo bisa-bisanya ninggalin dia sendirian, berarti pelaku udah ngikutin kita sejak Niana keluar dari rumah sakit." kata Brian.
"Ya nggak tau juga, aku nggak ninggalin Yan, aku cuma kembali buat ambil hp, dan dia jalan duluan." kata Bara.
"Tuh kan... Nggak ada akomodasi lain yang lewat daerah sini yang kiranya berkapasitas besar, orang tempat limbah itu udah lama tutup, buat apa juga ada truk es krim Bar." kata Brian.
"Iya bener kamu yan, nggak ada lagi selain truk es krim tadi, yaudah buruan ayo." ucap Bara.
"Kita kemana?" tanya Brian.
"Kita cari tempat gedung tua, atau pabrik atau apalah yang udah lama gak kepake, karena biasanya pelaku selalu mengubur korban di tempat seperti itu." kata Bara.
"Gue nggak paham derah sini." kata Brian.
"Tunggu-tunggu..." ucap Bara.
"Apaan?" tanya Brian.
"Ssst... Bentar." tahan Bara.
"Iyaaa... Lo inget nggak kenapa kita bisa nemuin jejak ban tadi?" tanya Bara?" tanya Bara.
"Karena jejaknya aneh, kaya ada ninggalin bekas minyak gitu kan?" kata Bara.
"Tadi pagi sebelum kita keluar dari rumah sakit, aku denger dari security yang lagi ngebahas katanya di kota B, terjadi kemacetan karena truk pengangkut minyak yang kecelakaan dan terguling, karena itulah minyak jadi kemana-mana, dan hanya kendaraan yang berasal dari kota B lah yang kemungkinan meninggalkan jejak minyak kemana-mana mereka pergi, terus menurut kamu kalau kendaraan dari kota B, mungkin nggak sih bakalan kembali ke sana?" tanya Bara.
"Ya bisa jadi sih." Kata Brian.
"Dan kamu lihat kan, di video tadi dia mengarah ke persimpangan mana?" tanya Bara.
"Kota B." jawab Bara.
"Kita cari gedung tua di kota B." jawab Bara.
Mereka berdua lantas bergerak cepat mengendari mobil mereka dan mulai menyusuri jalanan.
Namun ditengah jalan tiba-tiba Bara mengurangi laju kendaraannya.
"Kita salah Yan." kata Bara.
"Kenapa, kita bentar lagi sampai di kota B." kata Brian.
"Ya... Feeling aku, dia nggak dibawa keluar dari kota ini." kata Bara.
"Please Bar, Lo tuh jangan main-main feeling segala macem, ini nyawa Niana dalam bahaya tau." kata Brian.
"Beneran yan... Gue selalu ngerasa kaya gini pas ninggalin Niana sendirian, dan ini nggak pernah terlewat, kita harus puter balik. Gue nggak mau ninggalin Niana sendirian." kata Bara.
"Bar...." kata Brian.
"Diem Yan, please kasih gue waktu buat mikir." bentak Bara.
"Okke... You get the time." kata Bara.
Bara semakin kencang memacu mobilnya, dia tidak ingin terlambat barang sedetik.
"Menurut Lo mungkin nggak sih, kalau kendaraan itu di curi di kota B, perusahaan melaporkan hilangnya kendaraan, otomatis polisi berkeliaran di kota untuk mencari, lalu dengan membawa korban si pelaku kembali ke kota B, mungkin nggak sih?" tanya Bara kemudian.
Brian hanya terdiam, dia membenarkan deduksi kakaknya, namun dia terlanjur kesal pada Bara.
"Terus... Menurut Lo, sekarang mereka ada di mana?" Tanya Brian.
"Ke tempat, dimana mobil box es krim parkir tanpa di curigai, dan bisa menurunkan peti itu dengan tenang di siang hari." Kata Bara.
Brian kembali terdiam. Mereka sama-sama berpikir dimana tempat itu berada kira-kira.
"Tunggu Bar... Itu... Di depan, gedung apa?" tanya Brian.
"Itu pembangunan untuk gedung bioskop yang baru. Tapi prosesnya berhenti sejak bulan kemarin, karena para pekerja menolak upah kerja yang rendah." jawab Bara.
"Kita kesana!" kata Bara.
"Iya kamu bener, disana banyak galian bakal tiang." kata Bara.
Dengan kecepatan penuh, Bara membelokkan mobil menuju bangunan di belakang sebuah mall.
"Jangan parkir terlalu dekat." bisik Brian.
Mereka menjaga jarak aman dan benar saja saat mereka tiba di sana, ada sebuah truk es krim yang parkir disana.
"Sial... Itu truk nya ada disana." kata Bara.
"Kita berpencar, Lo langsung masuk ke sana, bia rgue periksa truknya!" perintah Brian.
"Hati-hati!" bisik Bara.
Mereka pun berpencar. Dengan sangat hati-hati, mengendap tanpa meninggalkan suara mereka mulai mencari kesetiap titik.
Dari mobil Brian tidak menemukan apapun, dia membuka box tak ada apapun di sana.
Sementar Bara mulai mencari setiap titik. Dia bahkan menggeser setiap lantai yang tertutup dengan pintu beton.
"Brian... Sini!" panggil Bara.
Brian langsung melompat dan berlari mendekati Bara.
"Kita buka tutup tutup saluran ini." perintah Bara.
Namun sia-sia mereka hanya membuang waktu dan tenaga untuk melakukan membuka tutup beton itu.
"Ngggak bisa, ada cara lain." kata Bara.
Dia berjalan kesana kemari mencari sebuah tutup yang nampak pernah dibuka sebelumnya.
"Briann... Ini!" teriak Bara.
Brian menoleh dan mendapati abangnya kesulitan membuka tutup itu. Karena tenaga mereka yang mulai terkuras.
"Lo yakin?" tanya Brian.
"Kita buka aja." kata Bara.
Dan mereka begitu tercengang memang ada sebuah peti di dalam lubang itu.
Mereka langsung berusaha membuka peti itu.
"Ini udah di skrup yan, carid i mobil ada pengungkit." Kata Bara.
"Iya gue akan segera kembali." ucap Brian.
Brian berlari ke mobil kemudian membuka pintu lalu mengemudikan mobil ya untuk mendekat ke tempat mereka tadi.
Sementara Bara mencoba membuka tutup itu secara paksa menggunakan belati yang selalu ia bawa kemana-mana.
"Na... Bertahan ya please, maafin aku Na." ucap Bara.
"Ini...." Ucap Brian sambil melempar pengungkit itu ke tempat Bara.
Bara di bantu adiknya berusaha dengan cepat membuka peti itu.
"Lapor polisi Brian!" perintah Bara.
Tanpa banyak bertanya lagi Brian menelpon kepolisian. Dan hanya dalam hitungan detik, polisi yang sedang berpatroli meluncur ke tempat mereka.
Mereka berhasil membuka tutup peti, dan mendapati Niana sudah tidak sadarkan diri di dalamnya.
"Ya Tuhan..." ucap Brian.
Mereka berdua mengangkat Niana ke atas.
"Dia kehabisan nafas dan nadinya sangat lambat." ucap Bara.
"Lakukan CPR, sekarang Bar!" Ucap Brian.
Disaat yang bersamaan dua orang polisi tiba di tempat kejadian, mereka bertanya-tanya pada Brian, dan terlihat menelpon ke kantor untuk beberapa hal.
"Please Na... Kumohon." ucap Bara dia terus memberikan pertolongan pertama untuk Niana yang tengah nafas henti.
Usai menekan d**a berkali-kali dia membuka mulut Niana dan mengalir kan nafasnya disana.
"Na.... Please!" ucap Bara, keringat mulai membasahi kening dan sekujur tubuhnya.
Beberapa polisi medis datang dan mereka mengambil alih.
"Sudah terlambat, korban tidak bisa diselamatkan." ucap salah seorang dari mereka.
"Enggak... Lakukan lagi." ucap Bara.
Bara merangsek dan mengambil celah diantara mereka dia merebut alat bantu itu dan melakukannya sendiri.
"Bara..." panggil Brian.
"Enggak yan... Dia masih bisa diselamatkan." ucap Bara yang menolak mengakui bahwa tubuh Niana semakin membiru.
"Bar..." panggil Hanna, ingat? Dia salah teman Bara yang menjadi salah satu dokter di tim darurat kepolisian.
"Dia udah nggak ada." ucap Hanna.
"Enggak Han... Lo salah." ucap Bara.
Bara yang putus asa, kini benar-benar menangis dan mengangkat Niana lalu memeluk ya dengan erat.
Tiba-tiba Niana tersedak dan terbatuk-batuk, Bara membatu. Hanna segera memberikan pertolongan untuk Niana, dia memasang kan kembali alat bantu pernafasan tadi. Sambil mengelus rambut Niana.
"Na..." lirih Bara, dia mengendurkan pelukannya dan merebahkan Niana kembali.
Gadis itu masih pucat namun tangannya bergerak menggapai lengan Bara.
"Bawa kerumah sakit." perintah Hanna pada rekan-rekannya.
"Lo bisa pergi bersama kami Bar." kata Hanna.
"Makasih Han." ucap Bara.
Mereka mengangkat Niana ke mobil ambulan, sedangkan Bara mengikuti nya masuk ke dalam kabin.
Brian mengikuti dengan mobil mereka usia memberikan beberapa keterangan kepada kepolisian.
Dan berita ini kembali menghebohkan dunia Maya.
"Kondisinya kritis karena karena nafas henti tadi, tapi dia akan membaik kok." ucap Hanna.
Bara terus memegangi jemari Niana, seakan dia sangat ketakutan Niana akan meninggalkannya.
"Lo yang sabar Bar. Gue denger dia juga barusan keluar dari rumah sakit karena penusukan." kata Hanna.
Bara hanya memejamkan mata sambil menunduk menciumi jemari Niana.
Hanna menepuk-nepuk bahu Bara.
"Secinta itu ya Lo sama dia?" batin Hanna.
"Gue sayang banget sama dia Han." ucap Bara lirih.
"Hanya dia yang gue punya dari kecil." ucap Bara sambil menatap kalung berliontin warna biru yang ia berikan sewaktu kecil dulu dari mendiang ibunya.
Mereka tiba dirumah sakit. Niana segera di berikan pertolongan lebih baik.
Setengah tersadar, dia tidak mau melepaskan tangan Bara, dia trauma pada keberadaan orang asing.
"Iya aku temenin kamu Na." ucap Bara.
"Ini pasti perbuatan Salma." batin Bara.
Brian yang baru saja sampai, hanya bisa menunggu di luar.
Dia menghentikan Hanna yang baru saja keluar dari ruangan dimana Niana berada.
"Dokter gimana keaadan korban?" tanya Bara.
Hanna berhenti sejenak dan memberikan jawaban.
"Pasti akan membaik, kami sudah berusaha sebaik mungkin, dan sekarang sudah ditangani oleh dokter di rumah sakit ini. Anda siapa? Maksud saya apa hubungan anda dengan korban?" tanya Hanna.
"Saya... Saya, saya hanya tim nya Bara." jawab Brian.
"Senang sekali... Niana pasti dikelilingi orang-orang baik seperti kalian." ucap Hanna.
"Dokter kenal dengan Niana?" tanya Brian.
"Iyah... Saya teman Bara sejak lama, saya juga yang nolongin Niana sewaktu kematiannya di kamuflase." bisik Hanna.
"Ohhh... Anda pasti teman kebanggaannya Bara." kata Brian.
"Kenalin saya Brian, saya sebenarnya adiknya si Bara." ucap Brian.
"Bukannya dia anak tunggal?" tanya Hanna.
"Iya saya pun juga baru tau belakangan. Kalau kami bersaudara beda ayah, dia ganteng karena bapaknya orang Rusia, kalau saya ya biasa aja karena bapak saya orang lokal." Kata Brian.
"Enggak juga .. kamu juga menarik. Mirip nggak beda jauh sama Abang kamu." jawab Hanna yang berubah ringan cara bicaranya mengetahui bahwa lawan bicara berumur lebih muda darinya.
"Hmmm makasih dok, boleh tau nama anda. Ya maksud saya, tanpa saya membaca nametag anda." kata Brian.
Hanna tersenyum kemudian menyebutkan namanya.
"Makasih dokter Hanna." ucap Brian.
"Sama-sama Brian." ucap Hanna.
"Pasien sudah bisa di kunjungi kok, kamu bisa masuk." ucap Hanna.
"Menurut anda, Abang saya nggak butuh privasi? tentu dia butuh privasi, saya nggak mau ganggu mereka berdua. Dokter mau pulang?" tanya Brian.
"Kenapa? Mau ngajak saya makan siang?" tanya Hanna masih dengan tersenyum.
"Iya... Gimana ya, soalnya mau minta diobatin juga nggak ada yang sakit." kata Brian.
"Bisa aja, yaudah ayo, ini juga udah jam makan siang." ajak Hanna dengan akrab.
"Padahal Niana baru tadi pagi keluar dari rumah sakit karena luka tusuk Minggu lalu." ucap Brian.
"Sepertinya memang ada yang benar-benar menginginkan kematian gadis itu." ucap Hanna.
"Iya..." jawab Brian.
"Kamu... Gimana? Nggak ada rasa ke dia? Secara kalian kan tinggal bertiga?" tanya Hanna.
"Ada... Awalnya saya cinta banget sama dia, tapi begitu tau Bara yang lebih layak buat dia, yaudah saya ngalah dok." ucap Brian.
"Darimana kamu tau Bara lebih layak sama dia?" tanya Hanna.
"Sejarah mereka dari kecil, yang aku enggak punya." jawab Brian.
"It's okay... You deserve happy without her." ucap Hanna sambil menepuk bahu Brian.
"Beda berapa tahun kamu sama Bara?" tanya Hanna.
"Beda 3 tahun." jawab Brian.
"Oow.. berarti beda 5 tahun dari saya." kata Hanna.
"Umur mah bukan ukuran dan patokan buat ngelakuin sesuatu kan dok." kata Brian.
"Iya kamu bener." kata Hanna.
"Okke tuh kantinnya, kamu pingin makan apa?" Tanya Hanna.
"Ehmm apa aja deh, yang penting bisa dimakan." jawab Brian.
Sementara itu di dalam ruangan Niana. Gadis itu mulai tersadar dan Bara tak sedetik pun meninggalkan wanita nya.
"Na..." ucap Bara begitu melihat Niana membuk mata.
"Bara... Mereka mau bunuh aku bar, aku berada di kotak sempit dan terkunci, gelap banget aku nggak bisa nafas." ucap Niana ketakutan.
"Jangan takut... Kamu udah selamat, ok? Jangan takut aku ada disini." Bara menenangkan Niana.
"Aku nggak mau kaya gini terus Bar... Aku pingin hidup normal, bawa aku pergi jauh Bar, aku nggak mau tinggal disini, dia akan terus membayar orang buat bunuh aku." Pinta Niana.
"Iya... Setelah ini kita bakalan pergi jauh ya." Kata Bara menenangkan.
"Janji?" Tanya Niana.
"Iya..." jawab Bara.