Malam harinya Bara sudah nampak hadir sebagai undangan VIP dari Salma Issabel Groom. Wanita yang menjadi istri kedua papa Niana.
Salma menghampiri Bara yang nampak lebih senang menyendiri daripada bergabung bersama yang lainnya.
"Malam Bara..." sapa Salma.
"Selamat malam Nyonya..." balas Bara.
"Yang pakai gaun hitam itu, Lucia, putri semata wayang saya, gimana kamu suka acaranya?" tanya Salma pada Bara sambil memperkenalkan putrinya pada Bara.
"Oh iya... Saya suka." jawab Bara.
"Kamu tau... Sebenarnya saya tidak pernah mengundang sembarang orang ke acara private saya. Walaupun sekedar makan malam seperti ini." ucap Salma.
"Oh... Terimakasih nyonya, suatu kehormatan bagi saya, bisa menjadi undangan anda." ucap Bara.
"Jadi... Sebenarnya saya tertarik sama kamu secara personal, saya sedang mencari pengawal pribadi untuk anak saya Lucia, well sepertinya kamu memenuhi syarat itu." kata Salma.
"Oh... Begitu, tapi maaf nyonya, saya tidak pernah bekerja dan terikat pada siapapun, jadi mungkin saya tidak bisa menerima pekerjaan yang sangat bagus ini, atau bisa saya rekomendasikan seseorang kepercayaan saya mungkin." ucap Bara. Seketika Salma mengkerut, dia merasa kesal karena kesempatannya untuk bisa setiap saat bertemu Bara memudar seketika.
"Apakah kamu sedang mengencani seorang wanita?" tanya Salma.
"Maksud anda nyonya?" tanya Bara, yang tidak menyukai hal pribadinya diusik orang lain.
"Oh bukan maksud saya, apakah karena menjaga perasaan pada pasangan jadi tidak mau menjadi pengawal anak saya?" Salma meralat ucapannya.
"Ehmm... Tidak juga. Alasan nya hanyalah karena saya merasa lebih nyaman dan bebas bekerja sendirian. Tapi kalau suatu saat anda membutuhkan bantuan saya, saya bisa membantu anda dan keluarga." kata Bara.
"Ehmmm bagaimana dengan Niana, kamu pernah dengar anak sambung saya, yang bernama Niana..." ucap Salma yang sengaja memperlambat tempo pengucapan diujung kalimatnya.
"Saya mengenalnya? Dia adalah gadis kecil yang pernah saya antar kerumah ini sewaktu kecil karena berhasil saya selamatkan dari penculikan, dan saat dewasa seseorang membayar saya untuk membunuh gadis itu." jawab Bara.
"U.. uwauw... Sungguh? Apakah kamu benar-benar membunuh anak saya yang tidak berdosa itu?" tanya Salma.
"Sepenting apa jawaban saya untuk anda kali ini?." Bara membalikkan pertanyaan tersebut.
"Ehmm... Oh tidak maksud saya, siapakah yang menyuruh kamu untuk membunuh anak saya." ralat Salma dengan salah tingkah.
"Seseorang yang anda kenal." kata Bara.
"Aku... Aku hanya menemukan beberapa kemiripan antara Nona Rayya dan Niana." lirih Salma.
"Anda tidak yakin pada jasad yang anda makamkan?" tanya Bara.
"Berarti kamu benar-benar membunuhnya?" tanya Salma.
"Apa yang sudah anda lakukan pada sosok pembunuh di depan anda, anda justru menawarinya pekerjaan dan mengundangnya sebagai tamu VIP, apakah klien saya waktu itu adalah anda?" tanya Bara yang pura-pura tidak tau.
"Hahaha... Apa kamu sudah gila, untuk apa aku membunuh anak dari suamiku sendiri." elak Salma.
"Lebih tepatnya anak dari istri pertama." ralat Bara.
"Hahahaha kenap jadi serius banget topiknya, yaudah saya mau menyapa para investor saya, silakan nikmati makan malamnya ya." pamit Salma buru-buru pergi dari sana.
Usai Salma pergi, Bara pun menyelinap pergi. Dia meninggalkan acara makan malam itu tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang ada di sana.
"Gila si Salma... Bisa-bisa nya dia nanya langsung apakah aku membunuh Niana waktu itu." kata Bara.
Bara melepas jas nya dan melonggarkan dasinya. Kemudian mulai mengemudi untuk pulang.
Salma kembali dan tidak menemukan Bara disana. Emosinya meledak namun berusaha ia tahan.
Dia menghubungi salah seorang anak buahnya. Terjadi percakapan yang sangat serius.
"Okkke... Rayya ataupun Niana kali ini kau tak bisa lolos dari Kematian." batin Salma.
"Jangan pernah bermain api dengan Salma, atau kau akan terbakar bara mu sendiri." lanjutnya.
Dia kembali menelpon, dan agak menjauh dari keramaian tamunya.
"Aku tidak mau kamu gagal, pastikan dia benar-benar mati, atau aku yang akan memenggal kepalamu, kalau kamu berhasil akan ada 100 lot saham atas nama kamu." Kata Salma.
"Siapp nyonya, saya akan mengikuti kemanapun mereka pergi, dan begitu ada kesempatan langsung ekskusi." kata Roy.
"Nggak peduli, jangan jelasin apapun sekarang aku hanya butuh bukti, bukan omong kosong." kata Salma.
"Baik nyonya... Saya janji akan berhasil." kata Roy.
Sementara itu di rumah sakit, Niana sudah menyambut Bara dengan senang hati, dia sudah bisa duduk di diranjangnya tanpa kesakitan.
"Kok udah pulang?" tanya Niana.
"Nggak seneng ya, aku pulang cepet?" tanya Bara sambil mengecup kening Niana.
"Seneng... Tapi bukannya kamu ada acara sama Salma." kata Niana.
"Iya udah selesai kok, makan doang, kamu kan tau aku makannya cepet." kata Bara.
"Dia udah nambah sampe 10 porsi tuh." sambar Brian yang tengah sibuk dengan laptop nya.
"Dia lagi sibuk ngapain?" tanya Bara pada Niana.
"Nggak tau, dia lagi nyari informasi tentang pembunuh yang ngubur hidup-hidup korbannya itu." jawab Niana.
"Ohhh..." gumam Bara.
"Ehhh Bara, tau nggak besok pagi aku udah boleh pulang loh, kamu gak lupa kan ada janji sama aku?" tanya Niana.
"Enggak lah..." jawab Bara.
"Kalau pulang pagi, gimana kalau kita langsung ke sana?" Tanya Bara.
"Bolehh... "jawab Niana dengan senang hati.
"Soalnya malam harinya aku ada tugas." jelas Bara.
"Iya nggak papa, aku paham kok." jawab Niana.
"Yaudah aku coba lihat ke te.pat Brian dulu ya, kamu istirahat aja udah malam ini." kata Bara.
"Okkkee siap." jawab Bara.
"Gimana?" tanya Bara.
"Lihat... Awalnya gue ngira ini tuh kaya random gitu loh, dia Nerima semua permintaan dari semua orang yang membayarnya, ternyata enggak loh." kata Brian.
"Maksud kamu?" tanya Bara.
"Jadi ini adalah deduksi gue sendiri, tapi Lo bebas mau pake atau enggak." kata Brian.
"Jadi si pembunuh ini hanya membunuh cewek, lihat dari semua korban yang berhasil ditemukan dan dilaporkan menghilang adalah cewek." kata Brian.
"Kedua dia hanya mengubur korban di dalam gedung-gedung yang tidak terpakai, itu artinya dia tidak mengubur korbannya, di sembarang tempat. Hanya di gedung tua tak terpakai." lanjut Brian.
"Ketiga, dia tidak memiliki kendaraan secara pribadi buat ngebawa peti dan korban. Dia selalu mencuri dari tempat lain. Alasannya adalah agar tidak bisa dilacak." jelas Brian.
"Ohh... Okke." sahut Bara.
"Kenapa?" tanya Brian.
"Lo lagi mikirin apaan?" tanya Brian.
"Nggak tau perasaan aku nggak enak aja." jawab Bara.
"Niana...?" tanya Brian.
"Atau Ellea?" tambah Brian.
"Jangan mulai deh ya." kata Bara.
"Entahlah... Yang jelas aku khawatir pada Niana. Sepertinya Salma udah curiga pada tentang siapa Rayya." kata Bara.
"Terus?" tanya Brian.
"Entahlah, aku takut dia makin nekat kali ini, Yo know what I feel?" tanya Bara.
"Ditambah pembunuh ini kenapa jadi parno banget sih aku." tambah Bara.
"It's okay, kita jagain dia sama-sama." kata Brian.
"Jangan sampai si Salma nyentuh dia lagi." kata Brian kemudian.
"Btw... Kamu tau nggak, kalau kamu yang udah sabotase kecelakaan mobil papa nya?" Tanya Bara.
"Iya... Gue tau, dan kita udah pernah bahas ini, ini tuh sumpah bikin gue nyesel banget, satu-satunya kesalahan yang bakalan bantuin gue seumur hidup nih Bar, tapi please jangan katakan apapun ke dia ya, aku takut dia benci banget ke gue, yah emang cepat atau lambat pasti bangkai bakalan kecium, DNA saat tuh tiba gue harus pasrah kalau Niana benci banget sama gue." kata Brian.
"Sssssttt..." ucap Bara, dia takut Niana masih bisa mendengar percakapan mereka.
Brian pun mengecilkan volume nya. Mereka berdua begadang sepanjang malam, sementara Niana sudah tertidur sejak usai makan malam.
***
Keesokan harinya, benar usai Niana di nyatakan boleh pulang, Bara lantas mengajaknya mengunjungi tempat yang sangat bersejarah bagi mereka berdua.
Sampai di sana Brian hanya menunggu di dalam mobil, dia membiarkan dua sejoli itu menghabiskan waktu bersama.
Bara dan Niana berjalan sambil terus bercerita, hingga mereka tiba di gubug yang dulu pernah menjadi rumah Bara.
Niana masuk kedalam, dia terpaku beberapa saat.
"Kamu tau... Dulu setiap saat aku kemari dan selalu bawa hadiah buat kamu." ucap Niana.
Bara memeluk Niana dari belakang. Kemudian membalikkan badan Niana hingga puas memeluknya.
"Maafin aku ya, bahkan setelah kita jadian Pun, aku tidak bisa membawamu ke luar, dan kencan seperti manusia normal, makan dan minum di kafe, nonton di bioskop, atau bahkan sekedar jalan berdua di tempat umum. Maafin aku ya." ucap Bara.
"It's okay Bara, kamu udah ngelakuin yang terbaik buat kita, aku memahaminya." kata Niana.
Bara membingkai wajah Niana kemudian menciumnya dengan sangat lembut.
"Makasih sayang... Aku janji setelah kehidupan normal kamu telah kembali, aku bakalan menebus semuanya." ucap Bara.
"Aku sangat sedih dengan melihat kamu menjalani hidup seperti disekap seperti ini." lanjutnya.
Niana membungkam Bara dengan bibirnya, dia mencium bibir bagian bawah Bara untuk beberapa saat, ketika Niana hendak menarik dirinya, Bara memegangi tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya.
Mereka saling menghisap dan beertukar Saliva di sana. Bara menyibakkam rambut Niana kebelakang, lalu meninggalkan beberapa kissmark di leher putih gadis itu.
Untuk beberapa saat Bara terpaku kemudian tersenyum melihat karyanya.
"Jangan di sini Bar... Keliatan si Brian tau." kata Niana.
"Ya emang kenapa kalau dia lihat, toh dia tau kita pacaran, mau ngapain lagi emang kalau berduaan?." kata Bara.
"Iyaa tapi aku nggak enak aja kalau dia lihat." kata Niana.
"Nggak kelihatan sayang, nih kamu bisa tutupin pakai rambut kamu lagi." ucap Bara.
"Hmmm... Udah jangan di tambah lagi." pinta Niana.
"Iya iya ..." kata Bara.
"Na... Kita kan tinggal bareng, kadang aku juga suka nyusulin kamu buat tidur di kamar kamu, ehmm setelah kita pacaran, gimana kalau aku khilaf?" tanya Bara.
Niana tertawa...
"Ya itu urusan kamu lah, kan kamu yang khilaf." jawab Niana.
"Serius Na." ulang Bara.
"Iya kalau sampai itu terjadi makan kamu harus nikahin Rayya." jawab Niana kemudian.
"Emang nggak papa?" tanya Bara.
"Ya papa lah Bar, kan aku sama Rayya itu orang yang sama, gimana sih." kata Niana.
"Maksud aku... Apakah nggak papa seorang bangsawan kaya raya, menikah dengan pengawalnya, publik bakalan melihatnya seperti itu Na." kata Bara.
"It's okay... Biar nanti aku yang klarifikasi bilang apa kek, I'am crush on him, I'am crazy over him or something like that." kata Niana.
Bara tersenyum.
"Kalau gitu... Mari kita lakukan?" ucap Bara.
"Ngelakuin apa?" tanya Niana.
"Iihh... Ogah dasar mesum." ucap Niana sambil memukul d**a Bara.
"Bercanda sayang, ehh btw nggak mau ambil foto bareng nih? Yuk foto di tempat ini, ini historial banget loh." Kata Bara.
"Iya mau-mau." kata Niana.
"Pakai hp kamu aja, aku gak bawa hp ada di mobil." kata Niana lagi.
"Iya sayang..." ucap Bara.
Mereka mengambil banyak sekali foto di tempat itu.
"Coba mana aku lihat." pinta Niana.
Bara menyerahkan ponselnya untuk Niana, dan sesaat kemudian gadis itu tersenyum senang melihat foto-foto itu.
"Kirim ke aku ya." ucap Bara.
"Siappp sayang, gimana udah puas belum, kita balik yuk!" ajak Bara.
"Iya kasian Brian di kacangin." ucap Niana.
Mereka berdua pun berjalan meninggalkan rumah singgah bara itu.
Namun sampai di tengah jalan menuju ke tempat Brian memarkir mobilnya, Niana menyadari sesuatu.
"Ya ampun Bara... Hp kamu udah aku balikin belum?" tanya Niana.
"Belum masih ada di kamu kan tadi." kata Bara.
"Kayanya ketinggalan deh, biar aku ambil bentar ya." pamit Niana.
"Enggak sayang udah, kamu balik ke mobil aja ya, biar aku yang ambil." kata Bara.
"Ohh gitu.. maaf banget ya, mana agak jauh pula." kata Niana dengan sangat menyesal.
"Enggak papa, kamu tunggu di mobil ya." ucap Bara, sesaat setelah mencium Niana dia kembali lagi gubug itu, sementara Nianaasih terpaku di tempatnya memandangi punggung bara yang kian menjauh.
Begitu dia berbalik dan hendak jalan ke tempat Brian, tiba-tiba seseorang memukulnya, sampai jatuh tak sadarkan diri.
Sementara Bara yang sudah berhasil mengambil ponselnya, segera kembali ke tempat Brian.
Dia masuk ke mobil, namun dia tidak melihat Niana di sana.
"Yan... Niana mana?" tanya Bara.
"Bukannya dia sama Lo, kok nanya ke gua, mana gua tau Bar." jawab Brian.
"Serius yan... Dia harusnya udah disini, aku balik lagi ambil hp yang ketinggalan." jawab Bara mulai panik.
Seketika Brian membuka pintu mobil dan mulai berteriak memanggil Niana.
Bara juga segera berlarian mencari dan memanggil Niana.
"Lo yakin dia nggak salah jalan?" tanya Brian.
"Enggak lah Yan... Dia bahkan lebih hafal tempat ini daripada aku." jawab Bara.
"Siaaalll..." ucap Bara kemudian.
"Kalian pisah di mana?" tanya Brian.
"Kita ke sana sekarang." ajak Bara pada Brian untuk menyusuri dari mana mereka berpisah tadi.
"Di sini... Aku balik ke sana buat ambil hp, dan aku minta dia buat balik kamu." ucap Bara.
"Tunggu... Apa ini?" ucap Bara kemudian.
Bara melihat bekas aneh di tanah. Semacam bekas seretan yang sangat pendek.
"Seseorang pernah ada di sini sama dia Yan. Aku yakin banget dia udah jatuhin Niana di sini." tunjuk Bara.
"Ada bekas ban mobil di sana Bar." kata Bara yang melihat memang ada bekas mobil di tempat yang agak jauh dari mereka.
Mereka berdua mendekat. Seketika Brian mengeryit.
"Ini... Bukan ban mobil seperti truck atau mobil box kan?" tanya Brian.
Seketika darah Bara membeku.
"Ayo Brian, kit abutuh cctv yang terdekat dari tempat ini." ajak Bara.
Sementara itu, Niana mulai sadar, namun dia kesulitan bernafas, karena tempatnya gelap dan sempit.
Meraba ke sekitarnya, ada dinding di kanan kiri dan atasnya, dia mulai panik ketika menyadari dirinya berada di dalam peti.