BAB IV

2991 Words
"Hah?" Kaget mereka saat mendengar pernyataan dari Vani. Kecuali Leo, Alexa, dan Vani yang sedang membayangkan makanan enak yang slalu di masakin Alexa tentunya. "Kamu bisa masak Lex?" Tanya Felix kepada Alexa. "Hm" dehem Alexa membalas pertanyaan Felix. "Benar benar calon istri idaman" Batin Felix takjub dengan bakat Alexa. "Wah! Kalau begitu kita boleh ikut makan bersama kalian lain kalinkan!?" Saran Kevin yang penasaran dengan masakan Alexa. "Boleh juga! Bagaimana kalo sebentar malam kita bikin saja acara makan malamnya di kamar Alexa sama Vani!?" Tawar Farel kepada mereka semua. "Aku setuju! Boleh kan Lex?" Setuju Vani dan menanyakan hal itu ke Alexa sambil membuat puppy eyes andalannya yang menurut Alexa sangat mebggelikan. Karna tak mau lama lama melihat puppy eyes Vani yang sangat menggelikan (menurutnya), Alexa hanya menganggukan kepalanya pasrah. "Yeay! Terima kasih Alexa" ucap Vani senang saat mendapat anggukan dari Alexa. "Ok! Kalau begitu sudah di putuskan kan kalau makan malam ini kita akan ke kamar Alexa dan Vani. Soal minta izinnya, serahkan saja sama kita. Oke!?" Tanya Farel kepada yang lainnya. "Oke!" Sahut Kevin dan Vani semangat. Sedangkan Leo, Alexa, dan Felix hanya menganggukkan kepalanya singkat. Tett.. teettt... Tak terasa mereka sudah mengahbiskan 1 jam di kantin sekolah. Akhirnya mereka pun pergi ke kelas masing masing setelah mendengar bel masuk berbunyi. *** Farel sudah meminta izin kepada Mrs. Lili untuk tidak mengikuti acara makan malam ini. Sedangkan Kevin juga telah meminta izin kepada kepala asrama perempuan, Mrs. Fanny. Untuk memasuki mamar Alexa dan Vani untuk makan malam bersama. Akhirnya setelah perdebatan yang cukup panjang, mereka di perbolehkan memasuki asrama perempuan asalkan tidak membuat keributan dan batas sampai pukul 20.30 yang di angguki oleh Kevin. Sekarang mereka telah berada di depan pinta kamar Alexa. Sekarang pun masih pukul 19.00, terlalu cepat untuk mereka datang. Tetapi itu untuk membuat mereka cepat kembali ke asrama agar tidak di marahi oleh Mrs. Fanny dan Mr. Roy (kepala asrama laki laki). Tok.. tok.. tok.. Ceklek "Oh, kalian toh rupanya, ayo masuk!" Ajak Vani menyuruh mereka masuk ke dalam dan kembali duduk di ruang bersama sambil menonton TV dan diikuti oleh yang lainnya. "Alexa mana?" Tanya Leo kepada Vani yang sedang asik menonton TV. "Lagi masak di dapur" Jawab Vani yang langsung membuat Leo pergi ke dapur untuk membantu adiknya. "Butuh bantuan Princess?" Tanya Leo saat sampai di dapur. Alexa yang mendengarnya hanya tersenyum tipis dan mengangguk, karna ia tau kalau ia mengatakan tidak pasti kakaknya itu akan memaksanya memberikannya pekerjaan. Barang sekecil apapun pekerjaan itu. "Kakak bisa potongkan sayur sayuran yang sudah ku siapkan di atas meja gak?" Tanya Lexa kepada kakaknya sambil menyiapkan ayam dan bahan yang lain yang akan di masaknya. "Bisa kok dek!" Jawab Leo mantap dan pergi memotong sayuran yang di maksud oleh Alexa. Butuh waktu beberapa jam untuk Alexa memasak. Harum yang di timbulkan dari masakan Alexa pun sampai di ruang tengah dam membuat Leo dkk segera pergi ke arah meja makan yang muat untuk mereka ber-6 saat menyadari kalau masakan Alexa sudah selesai. Tak lama saat mereka duduk di tempat masing masing, Leo dan Alexa keluar membawakan beberapa menu makan malam, piring, mangkuk, beberapa gelas dan juga air untuk mereka santap bersama. Setelah selesai menyajikan masakannya, Alexa segera menjelaskan secara satu satu menu masakannya malam ini. "Steak, currwurst, Goulash, jajangmyeon, fried chicken and french fries. Serta minumannya ada air mineral dan orange jus." ucap Alexa sambil menunjuk satu persatu masakan yang dimasaknya dalam porsi yang cukup besae itu. Sesaat setelah Alexa menjelaskannya, mereka mulai mengambil berbagai makann yang ingin mereka makan. "Wow. Kau memasak masakan korea juga Lex!? Ini hebat!" Seru Vani senang dan langsung mengambil mie jajangmyeon dalam porsi banyak. Selang beberapa menit kemudian, mereka telah menghabiskan makanan mereka masing masing. Bahkan masakan yang tadinya sengaja Alexa buat banyak, sudah habis seketika. Bahkan piring tempat ia menaruh masakan pun telah bersih akibat ulah mereka membuat Alexa menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka yang seperti anak kecil. Setelah itu Alexa mengumpulkan semua piring kotor dan gelas gelas yang sudah kotor bekas makanan dan minuman tadi. Melihat Alexa yang kesusahan, Leo dan Felix pun membantunya membawa semua bekas piring dan gelas kotor ke wastafel. "Perlu bantuan?" Tanya Felix saat meletakkan piring kotor, disusul Leo di belakangnya yang membawa gelas kotor dan menaruhnya juga di wastafel. "Tidak usah, kau temani mereka saja di sana" Tolak Alexa sambil mencuci tangannya di wastafel dan hanya di angguki oleh Felix dan pergi kembali ke ruang makan yang dihalangi oleh dinding kaca. "Dek?" Panggil Leo kepada Alexa. "Hm?" Dehem Alexa dan melihat ke arah Leo sambil menaikan sebelah alisnya. "Perlu bantuan?" Tanya Leo kepada adiknya itu. "Tidak usah kak. Tapi kalau kakak mau bantu kakak bisa bersihin meja makan kok!" Tawar Alexa dan mengambil salah satu piring kotor untuk di bersihkannya. "Oke!" Seru Leo dan mencium kilat bibir Alexa kemudian berlari sebelum sang empunya bibir marah. "Kak Leo!!!" Teriak Alexa dari arah dapur yang hanya di tanggapi oleh kekehan Leo. "Woah! Kau mencium bibirnya Alexa!?" Tanya Kevin takjub dengan kemesraan adik kakak itu. Leo hanya mengangkat bahunya acuh dan membersihkan meja makan sesuai perintah Alexa. "Tidak biasanya kau rajin seperti ini, Le. Ada apa denganmu?" Tanya Farel yang bingung dengan sikap rajin Leo itu. "Aku tidak bisa diam saat adikku sedang berkerja sendiri. Kalau aku melihatnya seperri itu, pasti aku akan memintanya untuk memberikanku pekerjaan. Meskipun itu hanya pekerjaan kecil seperti ini. Setidaknya aku bisa membantu kerjannya sedikit kan." jawab Leo santai menanggapinya membuat mereka takjub akan kakak beradik itu. Tak lama kemudian, Alexa datang dari arah dapur dengan pipi yang di kembungkan menahan kesal yang membuatnya nampak imut dimata mereka semua. Sial! Imut banget! Batin mereka semua melihat keimutan Alexa. "Kalau mau cium itu liat dulu bibir kotor atau tidak! Jadinya kotorkan bibir Lexa!" Kesal Alexa sambil mengelap bibirnya yang basah sehabis di cucinya tadi dengan tisu yang ada di meja. "E.. eh... jangan marah ya dek! Please! Kakak turuti satu permintaan Lexa deh! Janji!" Bujuk Leo sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk peace. Alexa yang tertarik akan penawaran itu pun tertarik dan menanyakannya. "Serius!?" Tanya Alexa. "Serius Princess" jawab Leo gemas kepada adiknya itu. "Temani Lexa tidur!" Pinta Alexa kepada Leo yang lebih terdengar seperti sebuah rengekan. Leo yang mendengar itu pun hanya menganggukan kepalanya. Ia tau, jika Alexa sudah memintanya untuk menemaninya tidur itu berarti ia sedang rindu sama kedua orang tua mereka. Meskipun kedua orang tua mereka telah jahat kepadanya, ia tetap merindukan kedua orang tuanya itu. "Kalian bertiga balik aja ke asrama langsung. Aku besok pagi aja baliknya. Kalau Mrs. Fanny sama Mr. Roy tanya aku dimana, bilang saja aku sudah balik diluan menggunakan teleportasi. Aku mau menginap dulu disini hari ini" ucap Leo sekilas sebelum masuk ke kamar Alexa. Mereka yang melihat interaksi dua bersaudara itupun hanya bisa diam sambil menatap kagum dengan keduanya. Sampai akhirnya Felix mulai berdehem memecahkan keheningan. "Ekhem! BTW ini jam berapa ya?" Tanya Leo kepada yang lainnya. "Ini jam 20.21. Kenapa kak?" Tanya Vani bingung kepada kakaknya itu. Hening. 1 detik 5 detik 30 detik 1 menit "Gawat!!! TINGGAL 9 MENIT LAGI WAKTU KITA KEMBALI!!" Ucap mereka panik kemudian berlari keluar asrama. "Kami balik dulu ya dek!" Pamit mereka bersamaan sebelum pergi keluar kamar Vani dan Alexa. "Eh.. i.. iya" jawab Vani yang masih bingung. "Loh? Ngapain aku di sini ya? Lebih baik aku tidur sajalah di kamar." Ucap Vani sendiri saat menyadari hanya dirinya yang berada di ruang makan, kemudian ia pergi ke kamarnya dan tidur. Sementara itu di kamar Alexa, terlihat Alexa sedang berbaring sambil memeluk tubuh kakaknya. Dan tangan Leo yang mengusap usap lembut kepala Alexa. "Kak, kira kira mama sama papa kangen kita gak ya?" Tanya Lexa sambil menatap kosong kedepan dan tangan yang memeluk tubuh kakaknya itu. "Pasti kangen kok dek" jawab Leo mananggapinya. Sebenarnya Leo juga merindukan kedua orang tuanya itu. Tetapi dia sembunyikan dari adiknya karena tak ingin membuat adiknya khawatir. "Aku tau pasti kakak juga rindu sama papa dan mama. Hanya saja kakak pendam. Aku tau itu kok kak. Kira-kira kapan ya keluarga kita akan harmonis seperti keluarga yang lain?" Tanya Alexa sambil tersenyum miris mengingat betapa kejamnya orang tuanya keoada dirinya. "Pasti kita akan berkumpul bersama kok suatu hari nanti. Kamu hanya harus bersabar menunggunya" jawab Leo seolah mengerti apa yang dipikirkan Alexa. "Ya sudah, kamu tidur dulu gih. Besok kan harus sekolah" ucap Leo mengalihkan pembicaran. "Hm. Good night my brother and my prince" ucap Alexa sambil mengecup bibir Leo dan kemudian memejamkan matanya. "Good night too my sister and my princess" balas Leo sambil mengecup puncak kepala Alexa dan memejamkan matanya menyusul Alexa yang sudah tertidur. *** Tempat apa ini? Aku tak pernah melihat tempat seindah ini sebelumnya. Batin Alexa bingung sambil menatap ke arah sekitarnya dengan tatapan penasaran. "Lexa" Siapa itu? Kenapa ia bisa mengetahui namaku? Dari mana ia mengetahuinya? Batinnya lagi saat mendengar sebuah suara yang memanggil dirinya. "Lexa" Sekali lagi suara itu terdengar membuat Alexa yang sedang menatap sekitarnya langsung bersikap waspada. "Siapa itu?" Tanyanya dengan suara yang keras ke sekitar. "Alexa" "Siapa kamu? Tunjukanlah dirimu yang sebenarnya!" Ucap Alexa lagi dengan lantang. Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya yang mendekati Alexa. Lama kelamaan cahaya itu berbubah menjadi lebih besar dan terang sampai membuat Alexa harus menutup matanya karena silaunya cahaya itu yang sangat membuat mata sakit saat melihatnya. Perlahan lahan cahaya itu meredup dan menghilang. Memperlihatkan sosok gadis yang sama seperti Alexa sedang berdiri di hadapannya , hanya saja mereka ada 9 orang. Masing-masing diantara mereka sendiri menggunakan pakaian-pakaian yang terlihat sangat mencolok. "Hai Alexa" sapa mereka serempak. "S... siapa kalian? Kenapa kalian mirip sepertiku?" Tanya Alexa gugup kepada mereka sambil terus memasang sikap waspada. "Tenanglah. Kami adalah dirimu yang lain. Warna kami adalah masing masing lambang dari kekuatanmu" ucap salah satu dari mereka yang memakai baju serba putih dan memiliki sayap malaikat di punggungnya. "Ow.. oke.. bisa kalian perkenalkan diri kalian?" Tanya Alexa sambil berusaha menetralkan kegugupanku. "Perkenalkan, namaku adalah Angelia. Kau bisa memanggilku Angel. Aku adalah wujud dari ras malaikatmu" ucap sosok gadis yang seperti wujud malaikat tadi memperkenalkan dirinya. "Aku Delora, kau bisa memanggilku Lora. Aku adalah wujud dari kegelapanmu. Tak perlu khawatir, aku tak berniat jahat sedikitpun kok kepada dirimu." Ucap seorang gadis berpakaian serba hitam keunguan dan terdapat sayap Demon di puggungnya sambil tersenyum manis kepadaku. "Aku Frenssca. Kau bisa memanggilku Frens, atau terseralah. Aku adalah wujud dari element Es mu." Ucap seorang gadis dengan pakaian serba Es sambil tersenyum tipis kepada Alexa. Tampak di belakangnya terdapat sebuah sayap seperti sayap peri yang ada di Film yang pernah di tontonnya dulu saat masih di dimensi tengah. Hanya saja sayapnya agar membeku. "Halo Lex! Perkenalkan, aku Crystallia, kau bisa memanggilku apa saja sesukamu. Aku adalah wujud dari elemen Crystalmu." Ucap seorang gadis di sebelah Frenssca dengan pakaiannya yang serba Crystall dari atas sampai bawah. "Halo, Namaku Fira, aku adalah wujud dari element Larva mu." Ucap Larva dengan senyuman tipisnya. Terlihat rambutnya yang seperti api itu menyala nyala dan pakaiannya yang serba merah. Tetapi tak ada hawa panas yang aku rasakan di sekitarnya. "Aku Sera, wujud dari Power pengendali darah yang kau miliki. Salam kenal" ucap Sera lembut sambil melambaikan kecil tangannya kearahku yang ku balas dengan senyuman tipis. "Aku Flora, wujud pengendali cuaca yang kau miliki. Salam kenal Lea" ucap Flora semangat. "Aku Stella, wujud Power penghancur yang kau punya. Salam kenal" ucap Stella dengan senyuman tipisnya. "Dan aku Forencia. Aku adalah wujud Dewi yang tersembunyi dari dalam dirimu. Salam kenal" ucap seorang gadis yang memiliki sayap seperti Angel. Hanya saja sayapnya lebih besar dan di ujungnya terdapat warna emas. "Jadi, apa tujuan kalian membawaku kemari?" Tanya Alexa langsung kepada mereka. "Kamu ingin kau membuka semua segelmu agar kau dapat lebih menguasai kekuatanmu Lex." Jelas Crystall mewakili mereka semua. "Baiklah. Tapi bagaimana caranya?" Tanyanya bingung kepada mereka. "Kemarilah" panggil Lora kepadaku. Aku pun berjalan mendekatinya dan mereka membuat lingkaran mengelilingiku dengan aku yang berada di tengah tengahnya. "Ikuti kata kataku" pinta Forencia kepadaku yang hanya aku angguki. "Delõņtrįou§ Pøťŕinciųs Feřęnțoš" "Delõņtrįou§ Pøťŕinciųs Feřęnțoš" Ikut Alexa dengan sedikit lantang. "ßtejīgœhťørtętus. TERBUKALAH!" Ucap Forencia lantang. "ßtejīgœhťørtętus. TERBUKALAH!" Lagi, Alexa mengikuti semua kata katanya dengan lantang. Tiba tiba, sebuah cahaya warna warni mengelilingi mereka dan kemudian hal terakhir yang di ingatnya adalah pandangannha yang kemudian menjadi gelap seutuhnya. *** Sudah 5 hari Alexa tak membuka matanya. Selama 1 minggu itu pula Leo tak henti hentinya mengkhawatirkan Alexa. Bagimana tidak? Saat pagi pagi buta tubuh Alexa tiba tiba kejang kejang. Membuat Leo yang sedang tidur bersamanya menjadi panik dan langsung membawanya ke unit kesehatan menggunakan kekuatan teleportnya. Kemudian menghubungi teman temannya dengan keadaan Lexa. Saat Mrs. Riana (dokter disana) memeriksanya, ia mengatakan tidak terjadi apa apa kepada Alexa. Hanya saja ia akan koma selama beberapa saat kedepan karena ia tak menunjukan reaksi apapun untuk sadar. Hal ini tentu saja membuat Leo khawatir dan menjadi penghuni tetap di sana untuk menjaga adiknya. Kadang kadang teman temannya ikut menemani Leo menjaga Alexa. Setiap pulang sekolah pun mereka selalu ke ruang rawat Alexa untuk melihat keadaannya. Seperti ini misalnya, Leo, Felix, Vani, Farel, dan Kevin sedang berkumpul di ruang rawat Alexa. Tampak Leo dengan wajah sendunya menatap adiknya yang sedang berbaring dengan alat bantu nafasnya itu. "Dek, kapan kamu sadarnya sih? Kakak kesepian tau gak!?" Ucap Leo sambil menggemgam tangan Alexa yang tidak di imfus. Tiba tiba, jari jari tangan Alexa yang di pegang Leo bergerak membuat Leo melihat ke arah tangan Alexa. Sontak hal itu membuat Leo senang dan memanggil petugas kesehatan di sana untuk memeriksa keadaan Alexa. "K.. kak.. h... ha..us" ucap Alexa terbata bata membuat Leo segera mengambil minum yang ada di atas nakas samping tempat tidur Alexa. "Kondisinya sudah membaik, ia sudah bisa kembali besok. Asalkan jangan sampai kecapekan." Ucap Mrs. Riana, dokter di academy ini setelah memeriksa keadaan Alexa. "Terima kasih Mrs." Ucap mereka serenpat kecuali Alexa yang hanya senyum tipis karma masih sulit bicara. "Sama sama. Saya permisi dulu ya anak anak." Pamit Mrs. Riana kepada mereka semua. "Kamu sudah gak papa kan dek?" Tanya Leo khawatir kalau adiknya merasakan sakit di tubuhnya. "Tidak kok kak. Bantuin Lexa duduk dulu dong" protes Alexa kepada Leo yang langsung di turuti olehnya. "Ada yang sakit gak?" Tanya Vani kepada Alexa. "Gak kok" ucap Alexa menatap kesekitar. Kemudian ia menatap ke arah jendela yang berad di sampin timpat tidurnya dengan jarak yang agak sedikit jauh. Hal itu sontak membuat yang lain sadar dengan perubahan Alexa. "Loh. Bukannya rambut kamu warnanya hanya silver saja ya Lex?" Tanya Felix bingung. Pasalnya rambut Alexa sekarang berwarna silver dan di bagian bawahnya terdapat warna emas. Alexa yang di tanya seperti itu hanya melihat rambutnya dan kemudian menghembuskan nafasnya saat mendengar suara Angel di dalam kepalanya. "Itu adalah tanda kau sudah membuka segelmu." Begitulah perkataan Angel yang menggema di pikirannya. "M..matamu Lex?" Tanya Vani takjub dan bingung di saat yang bersamaan. Bagaimana tidak? Mata Alexa yang awalnya berwarna coklat, kini tlah berubah menjadi warna gold yang sangat indah. Alexa yang sadar dengan bentuk matanya yang berubah pun membuat cermin dengan element es nya. Dan benar apa yang dikatakan mereka. Warna matamu bisa kau ubah sesuai keinginanmu kok! Ubahlah jika kau mau. Hal itu juga untuk melindungimu dari bangsa Darkness yang nantinya akan tertarik dengan mata gold itu. Kali ini suara Forencia yang menggema di dalam pikirannya. Ia pun menghilangan cerminnya dan memejamkan matanya lagi dan memfokuskan dirinya dengan warna mata sebelumnya. Kemudian ia membuka kembali matanya dan terlihat kalau warna matnya telah kembali seperti semula. "B..ba.. bagiman..a bb...bisa??" Tanya Kevin tergagap gagap. "Aku telah membuka semua segel yang ada di tubuhku" jawab Alexa singkat kepada mereka semua yang membuat mereka mengerti. "Apakah kau mau membukakan segel kakakmu?" Terdengar suara Sera dari kepalanya. "Bisakah?" Tanya Alexa tertarik. "Tentu saja. Aku kan memberikan arahan untukmu. Asalkan kau meminta teman temanmu untuk meninggalkan kalian berdua" terdengar suara Forencia menyaut di dalam pikirannya. "Oke" balas Alexa setuju dengan syarat dari Forencia. "Bisakah kalian meninggalkan aku dan kakakku? Ada yang ingin ku sampaikan kepadanya" pinta Alexa kepada yang lainnya. "Oke. Kebetulan juga kita mau balik ke kamar masing masing untuk membersihkan diri. Setelah itu kita akan kembali lagi ke sini. Ya kan!?" Ucap dan tanya Vani kepada yang lainnya dan di angguki oleh ketiga pria tersebut. "Kalau begitu kita pamit dulu ya Lex" Pamit Farel mewakili mereka semua yang di balas anggukan dari Alexa dan Leo. Setelah itu mereka keluar dan menutup pintu ruang rawat Alexa. Alexa yang merasa keadaan sudah aman pun turun dari kasur dan menutup semua gorden yang ada di ruangannya. Kemudian ia memasang seperti sebuah barier pelindung yang kedap suara. Sontak hal itu membuat Leo bingung dengan apa yang akan di bicarakan oleh Alexa. Kemudian Alexa mendekat ke arah Leo dan memegang tangan Leo dan berucap seuatu. "Ikutilah kata kataku. Akan ku jelaskan setelah ini selesai." Pinta Alexa lembut kepada Leo yang di angguki pemuda itu. "Delõņtrįou§ Pøťŕinciųs Feřęnțoš" ucap Alexa yang juga di ikuti oleh Leo. " Delõņtrįou§ Pøťŕinciųs Feřęnțoš" ikut Leo. "ßtejīgœhťørtętus. TERBUKALAH!" "ßtejīgœhťørtętus. TERBUKALAH!" Ikut Leo dan mengucapkannya dengan lantang seperti yang di lakukan oleh Alexa sebelumnya. Kemudian cahaya yang terang pun mengelilingi mereka, setelah cahaya itu redup, Leo tiba tiba saja pinsan. Untung saja mereka tepat berada di samping ranjang Lexa di ruang rawat itu sehingga membuat Alexa mudah membaringkan Leo di ranjangnya. Kemudian ia menghilangan kembali barier yang di buatnya tadi dan membuka kembali gordennya. Setelah itu ia ikut naik ke ranjang tempat Leo pinsan dan tertidur disana dalam keadan memeluk Leo dengan erat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD