9. Perceraian yang Terjadi di Tengah Kegagapan

1315 Words
Hujan sore itu terasa seperti ikut mengabarkan kabar buruk yang sudah berhari-hari menggantung di udara. Di apartemen kecil yang kini kutinggali bersama Papa, aroma kopi hitam bercampur dengan sunyi yang tebal. Dua minggu terakhir ini, aku tidak menginjakkan kaki di sekolah. Hari-hariku hanya kuhabiskan di kamar, memandangi jendela yang selalu tertutup tirai. Kadang kupikir... mungkin jendela itu cuma jadi hiasan. Seperti aku di rumah ini. Diam. Ada. Tapi tidak benar-benar hidup. Perceraian orangtuaku resmi berjalan, dan semua terasa terlalu cepat, terlalu keras, hingga aku nyaris tidak punya waktu untuk bernapas. Papa, yang biasanya jarang berlama-lama menatap layar ponsel, hari itu duduk lama di sofa. Kopinya sudah dingin, tak disentuh. Tangannya menggenggam ponsel, tapi tak segera menekan tombol apa pun. Kursi berderit pelan saat tubuhnya bergeser resah, seperti hati yang mencari posisi nyaman tapi tak menemukan satu pun. Aku hanya memperhatikannya dari kejauhan, mencoba membaca pikiran lewat bahunya yang tampak berat. Lalu dia menekan tombol panggil. Telepon tersambung. Suaranya pelan, nyaris seperti berusaha menahan sesuatu. "Matt, kamu harus tahu... mama dan papa sudah resmi bercerai. Rumah di Jakarta sudah bukan lagi rumah yang sama. Adikmu... dia butuh kamu, tapi aku tahu jarak membuat itu sulit." Aku mendengar suara Matthew dari kejauhan, tapi tak bisa menangkap jelas apa yang dia katakan. Papa hanya menunduk, mendengarkan, lalu mengangguk meski Matthew tentu tak bisa melihat anggukannya. "Papa cuma bisa berharap semuanya bisa membaik, Matt. Papa tahu ini berat, tapi semoga masalah ini nggak sampai ngerusak kesehatan mental kalian. Tolong... sering-sering hubungi Cell. Dia nggak bilang apa-apa, tapi Papa tahu dia sedang patah banget." Papa menutup telepon tanpa banyak kata lagi. Lama dia diam, menatap layar yang kini gelap. Aku pikir dia sudah selesai bicara, tapi kemudian dia menghela napas pelan. "Papa nggak nyuruh dia langsung hubungin kamu karena... kamu lagi rapuh banget, Cell. Papa nggak mau kamu ngerasa digempur sama perhatian keluarga pas kamu bahkan belum sempat napas. Tapi Matthew tahu kamu butuh dia. Dan dia janji bakal hubungi kamu malam ini." Papa akhirnya menoleh padaku. Aku hanya mengangguk pelan. Beberapa jam kemudian, ponselku bergetar. Nama Matthew, kakakku muncul di layar. Aku ragu menjawab, tapi akhirnya menekan tombol hijau. Suara Matthew di seberang terdengar hangat tapi cemas. "Hey, Cell. Papa udah cerita. Kamu gimana?" Aku menelan ludah. “Aku... nggak tahu, Kak. Rasanya kayak semuanya pecah dalam semalam.” "Nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita sekarang. Tapi kamu harus makan, ya? Jangan sampai Papa panik dua kali." Aku hanya menggumam pendek. Lalu... sunyi itu datang seperti kabut. Mengisi ruang antar kata kami. Tapi anehnya, aku tak mau menutup telepon. Rasanya seperti ada seseorang yang menahan tanganku dari jauh. Hening yang nyaman, tapi tetap berat. ------- Kabar perceraian itu rupanya sudah lebih dulu menyebar di sekolah. Suatu siang, Ashley dan Jessica datang ke rumah lamaku. Namun, yang menyambut mereka hanya Bi Maryam. "Nona Marcella dan Tuan pindah ke apartemen. Nyonyanya sudah tidak tinggal di sini lagi," ujar Bi Maryam hati-hati. Ashley dan Jessica saling pandang. Di perjalanan pulang, Jessica menggigit bibirnya. "Ash... kira-kira dia oke nggak, ya?" Ashley menghela napas. “Gue nggak tahu... tapi Cell nggak pernah nggak cerita apa-apa ke kita. Sekarang dia malah ilang gini.” Jessica menunduk. “Gue kangen banget sama dia. Rasanya pengen langsung peluk dia, biar dia tahu dia nggak sendirian.” ------- Seminggu pertama itu, pesan demi pesan dari mereka tidak pernah kubalas. Telepon hanya berdering tanpa jawaban. Bahkan Lucas dan Dave, yang biasanya selalu bisa membuatku membuka pintu hati, tidak berhasil. ------- Dua minggu kemudian, aku kembali ke sekolah. Pagi itu, saat aku mengenakan seragam sekolahku, sebuah kenangan melayang begitu saja—tanpa kuundang. Aku masih dua belas, mungkin tiga belas tahun, meringkuk di atas karpet ruang keluarga sementara Papa duduk di sofa, membaca koran di sebelahku. Mama ada di dapur, bersenandung pelan lagu dari masa mudanya. Lagu yang sama yang dulu sering ia nyanyikan di dalam mobil saat kami masih utuh sebagai keluarga. Matthew sedang liburan di rumah, mengganggu Gabriel seperti biasa, dan rumah kami saat itu penuh dengan tawa dan kebisingan—kebisingan yang dulu kuanggap biasa. Dulu, aku pikir kebahagiaan itu ya... hal yang wajar. Sesuatu yang nggak perlu dijaga mati-matian. Aku nggak sadar kalau kebahagiaan bisa hilang. Atau hancur. Langkahku menyusuri koridor. Suara tumitku bergema aneh. Di kepala, potongan-potongan kecil berkelebat: Mama yang menangis di meja makan. Papa yang membanting pintu. Aku yang berdiri di antara dua suara yang sama kerasnya. Rasanya seperti dunia melambat satu detik setiap kali aku melangkah. Begitu aku melangkah ke gerbang, Ashley dan Jessica langsung memelukku erat. "Cell... kita kangen banget sama lo," bisik Jessica sambil menahan tangis. "Lo nggak sendirian, oke? Apa pun yang lo rasain sekarang, kita di sini," tambah Ashley sambil menepuk bahuku. Ashley, meski masih menyimpan rahasia tentang hubunganku dengan Lucas, memilih mengesampingkan itu semua. Hari itu bukan waktunya untuk mengungkit luka lama. Jessica meraih tasnya. "Nih, gue bawain catatan dua minggu terakhir buat lo." Aku mengernyit. "Lo nyatet?" tanyaku, lalu langsung menyesal. Kalimat itu keluar lebih cepat dari rasa syukurku. Mungkin aku terlalu terbiasa bersikap sinis sebagai cara bertahan hidup. Jessica menyeringai, lalu cepat-cepat menoleh ke Ashley. "Ehm... ya itu... sebenernya gue nyuruh Ashley minjemin catatannya terus gue fotokopi." Ashley mendecak, sementara aku nyaris tertawa untuk pertama kalinya dalam dua minggu terakhir. Momen kecil itu memberi sedikit hangat di tengah kekacauan. Baru saja suasana mulai terasa sedikit ringan, Dave terlihat di ujung koridor. Dia melangkah ragu-ragu ke arahku, tapi tiba-tiba Lucas sudah lebih dulu muncul di sisiku. "I'm so sorry, buat kejadian yang menimpa keluarga kamu," ucap Lucas pelan. Dave menghentikan langkahnya, menatap sebentar, lalu memilih mundur. Mungkin karena canggung, mungkin juga karena masih ada perasaan yang belum sembuh. Dari tempatku berdiri, aku sempat melihat tangannya mengepal lalu perlahan dilepas. Seperti seseorang yang memutuskan untuk tidak memperjuangkan sesuatu. ------- Di luar sekolah, Mama masih berusaha keras menghubungiku. Hari itu, ia menunggu di dekat pintu gerbang saat jam pulang sekolah. Namun, ketika aku keluar, aku hanya berjalan cepat tanpa menoleh, pura-pura sibuk dengan ponsel. Mama terdiam, dadanya perih. Ia segera masuk ke toilet sekolah untuk menghapus air mata yang mulai jatuh. Keluar dari toilet sambil menunduk, tanpa sadar Mama mengubah arah langkahnya. Satu langkah ke kiri saja—dan dunia masa lalunya menabraknya tanpa aba-aba. Ia menabrak seseorang. Tas tangannya hampir terjatuh. "Maaf..." ucapnya refleks, sambil mengusap pipinya dengan tisu. Ketika ia mendongak, matanya membelalak. "Kevin...?" suaranya tercekat, seperti tak percaya sosok di depannya benar-benar ada. Kevin—guru Bahasa Inggrisku—terpaku sesaat, lalu tersenyum samar. "Veronica? Sudah lama sekali." Ada jeda panjang sebelum Mama menjawab, seakan memproses kenyataan. Mereka lalu mengobrol singkat. Kevin mendengar sekilas soal perceraian itu. Mama, yang biasanya menjaga jarak, kali ini bercerita lebih banyak. Tentang rasa bersalahnya, tentang rumah yang hilang, dan tentang aku yang kini menghindar darinya. Kevin hanya mendengarkan. Sesekali ia mengangguk, sesekali matanya menerawang, seperti sedang membuka kembali lembar lama yang dulu pernah mereka bagi bersama. Pertemuan singkat itu mengawali kembali sebuah kedekatan yang lama terkubur. Dan aku... tidak tahu sama sekali bahwa semua itu terjadi. Tapi kadang, di malam paling sepi, ada suara kecil di kepalaku yang mengetuk pelan, terus-menerus. Bukan suara siapa-siapa. Mungkin suara dari dalam diriku sendiri. Mungkin... peringatan akan badai berikutnya. Aku masih sibuk bertahan, satu hari demi satu hari, di tengah kepingan rumah yang tak mungkin kembali utuh. Tapi yang lebih menakutkan dari semua itu... mungkin aku tak yakin ingin menyatukannya lagi. Aku sering bertanya-tanya, apakah kepingan yang pecah itu benar-benar harus disatukan lagi? Atau, apakah ada keindahan dalam membiarkannya berserakan, tajam, dan tak tersentuh? Setiap kali melihat pantulan wajahku di cermin apartemen yang asing ini, aku melihat seorang gadis yang perlahan-lahan belajar untuk tidak lagi mengharapkan "selamanya". Karena pada akhirnya, rumah bukanlah tempat yang bisa dihancurkan oleh palu hakim atau dokumen perceraian. Rumah adalah perasaan aman yang sudah lama menguap, meninggalkan aku kedinginan di tengah keramaian. Dan entah kenapa, rasa dingin ini mulai terasa... nyaman. Mungkin karena aku sudah lelah berpura-pura hangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD