Aku pikir setelah dua minggu tidak masuk sekolah, aku sudah cukup kebal untuk menghadapi semua hal tak terduga. Tapi rupanya, luka-luka hidup tidak pernah datang sesuai jadwal. Mereka datang diam-diam, saat kau sedang tak bersiap. Seperti sore itu.
Hari itu jam pulang sekolah sedikit lebih sepi dari biasanya. Langit di luar jendela perpustakaan tampak abu-abu, seperti menahan hujan. Aku kembali ke sekolah masih dengan kepala yang berat dan langkah yang belum sepenuhnya stabil. Sebenarnya aku berniat langsung pulang. Tapi ada tugas Bahasa Inggris yang harus kukumpulkan, dan Kevin—guru Bahasa Inggrisku—memintaku untuk menaruhnya di meja kerjanya di ruang belakang perpustakaan.
Langkahku menyusuri lorong terasa tenang di luar, tapi di dalam tubuhku, ada sesuatu yang tegang. Seperti ada firasat kecil yang berbisik, "Jangan ke sana." Tapi aku tak menggubris. Kubuka pintu perpustakaan yang setengah tertutup, dan masuk tanpa suara. Sunyi, hanya suara detik jam dan rak-rak buku tua yang berdiri seperti penjaga waktu.
Aku menelusuri lorong rak, menuju meja kerja di bagian belakang. Tapi ketika aku berbelok di rak ketiga, langkahku terhenti. Seketika.
Aku melihat Mama.
Dan dia tidak sendiri.
Dia berdiri sangat dekat dengan Kevin. Terlalu dekat. Tangannya menyentuh lengan Kevin dengan cara yang membuatku ingin mundur. Tapi aku malah diam. Tubuhku membeku.
Lalu kulihat sesuatu yang membuat dunia di sekitarku berhenti berputar.
Mama mencium Kevin.
Ciuman itu bukan sembarang pertemuan bibir. Itu adalah pengakuan tanpa kata, rindu yang terpendam bertahun-tahun dan akhirnya tumpah seperti bendungan yang jebol. Mama memejamkan mata seperti sedang melarikan diri dari dunia, sementara jari-jarinya menggenggam kerah jas Kevin, seakan takut lelaki itu menghilang lagi. Bibir mereka tidak saling menyapa dengan lembut—mereka bertabrakan dalam ketergesaan, dalam rasa haus yang lama terpendam.
Kevin membalasnya dengan tangan yang sempat ragu, lalu menempel di pinggang Mama. Ada tarikan napas dari keduanya, dan sesaat dunia di sekitar mereka terasa benar-benar lenyap. Ciuman itu seperti pertemuan dua orang dewasa yang telah kehilangan banyak hal, dan kini hanya punya satu sama lain sebagai pelarian. Sebagai sisa harapan. Sebagai pelukan terakhir yang tak bisa diumbar di ruang terang.
Beberapa detik setelah bibir mereka terlepas, Mama menarik napas pelan. Matanya berkedip lambat, lalu ia menoleh sedikit, seperti merasa sedang diawasi. Tapi pandangannya tak sampai ke arahku. Ia kembali menatap Kevin, senyumnya tipis tapi getir.
Aku menahan napas di balik rak buku, tubuhku nyaris tak mampu berdiri. Aku ingin berbalik, ingin lari, ingin berteriak... tapi semua itu cuma jadi keinginan. Kakiku seakan melekat di lantai. Mataku panas. Dunia seperti meremas napasku.
Kupikir aku salah lihat. Mungkin itu hanya pelukan. Mungkin bukan Mama. Mungkin ini halusinasi dari kelelahan.
Tapi napasku mulai tercekat. Tenggorokanku serasa dipelintir dari dalam. Itu Mama. Itu Kevin. Itu... nyata.
Tanganku gemetar hebat. Kertas tugas dalam genggamanku remuk tanpa sadar. Aku merasa mual—seperti ingin muntah tapi dicegah oleh kehormatan terakhir yang tersisa.
Suara Kevin terdengar pelan setelah ciuman itu terlepas.
"Veronica... apa kamu yakin ini nggak salah?"
Mama menjawab dengan suara yang bergetar. "Aku nggak tahu. Tapi hari ini... aku merasa sendirian sekali."
Kevin mengusap lengannya pelan. "Aku juga."
Aku tak tahan. Perlahan aku mundur, memastikan langkahku tidak menimbulkan suara. Jantungku berdetak seperti genderang. Tugas yang tadinya ingin kuletakkan di meja kini terasa seperti batu di tanganku. Aku kembali ke pintu, mendorongnya perlahan hingga terbuka, lalu keluar. Nafasku sesak.
Aku berdiri di depan perpustakaan, punggung menempel ke dinding, mencoba memahami apa yang baru saja kulihat. Mama... ciuman... Kevin... semua terasa seperti adegan dari mimpi buruk yang tidak pernah kutulis dalam pikiranku.
Kupikir setelah perceraian, rasa sakit dari rumah sudah mencapai puncaknya. Tapi ternyata, rumah bisa retak dua kali—dan yang kedua lebih sunyi. Kali ini, tak ada suara bentakan, tak ada tangisan. Hanya bisu. Dan ciuman yang kulihat diam-diam, seperti tusukan dari belakang.
Kenapa harus di sekolah? Kenapa harus di perpustakaan tempat aku sering duduk diam, membaca buku puisi yang Kevin rekomendasikan? Kenapa harus dengan orang yang aku kenal dan hormati? Kenapa harus seperti ini?
Kupeluk buku tugas itu erat-erat. Rasanya seperti memeluk sisa harga diriku. Sejenak aku ingin membuang semuanya. Tapi akhirnya aku hanya berdiri di sana, terdiam, sampai jam bubar sekolah selesai dan suara langkah siswa mengisi lorong kembali.
Saat Jessica melihatku dari ujung koridor, ia langsung melambai. "Cell! Lo belum pulang?"
Aku tersenyum kecil. "Baru mau."
Dia tidak tahu apa yang baru saja kulihat. Dan aku tidak tahu... apakah aku akan pernah sanggup menceritakannya ke siapa pun.
Hari itu, aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan dan hati yang makin berantakan. Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti anak kecil yang berdiri di tengah reruntuhan bangunan besar—tapi yang terbakar bukan tembok, melainkan kepercayaanku. Tapi satu hal yang kutahu pasti—hubunganku dengan Mama sudah berubah bentuk. Dan aku tak yakin masih bisa memanggilnya rumah.
Apa aku akan tumbuh menjadi seperti Mama? Mencari pelukan di balik sunyi? Menukar kehormatan dengan kehangatan sesaat? Aku takut... takut jika luka ini akan menuntunku ke arah yang sama.
-------
Keesokan harinya, saat Sabtu sore, ketika udara kota terasa ganjil dan lengang, Jessica tiba-tiba muncul di depan apartemenku. Katanya, ada acara kumpul bareng teman kakaknya. Aku tidak bertanya terlalu banyak. Kepalaku masih berat, dan mungkin... aku memang butuh pelarian.
Ashley ikut, tapi sejak awal sudah bilang, "Gue nyetir aja. Gue nggak akan minum."
Kami tiba di sebuah rumah besar di pinggir kota. Musik berdentum, lampu-lampu redup menggantung, dan aroma alkohol bercampur parfum memenuhi ruangan. Jessica langsung menyodorkan gelas plastik padaku. Aku menolaknya awalnya. Tapi ketika dia tertawa dan berkata, "Cuma satu sloki, Cell... buat ngusir hantu-hantu itu dari kepala lo," aku menyerah.
Satu gelas jadi dua. Dua jadi entah berapa. Dunia mulai terasa ringan. Dan aku mulai tertawa. Tertawa keras. Joget kecil. Kepala terlempar ke belakang seperti semua luka bisa terbang keluar dari tengkukku.
Ashley hanya mengawasi dari pojok ruangan, memeluk botol air mineral. Tatapannya penuh waspada, tapi tidak menghakimi.
Aku melihat dua orang yang tidak kukenal saling memeluk di sudut ruangan. Mungkin mereka juga hanya ingin melupakan. Mungkin cinta bukan lagi soal benar atau salah, tapi soal siapa yang ada saat kau runtuh.
Aku duduk bersandar ke Jessica. Nafasku berat. Pipiku panas. "Lo tahu nggak, Jess..." kataku, separuh tawa, separuh tangis. "Gue udah pacaran sama Lucas. Udah sebulanan lebih... Dia bilang gue lebih nyata dari siapa pun. Termasuk lo."
Jessica diam. Wajahnya memucat pelan.
"Aku jahat, ya?" tanyaku lagi, masih setengah sadar. "Tapi... dia datang pas gue kosong. Dia datang pas semuanya hancur."
Ashley berdiri cepat dari tempatnya. "Cell... yuk kita pulang. Sekarang."
Jessica masih diam. Tapi matanya tidak. Wajahnya memerah, matanya berair, lalu dalam sekejap, ia bangkit dengan kasar dari sofa.
"Lo serius, Cell?! Lo pacaran sama dia pas gue belum move on sepenuhnya?!"
Aku terdiam. Jantungku berdentum tak karuan. Aku nggak bisa jawab. Nafasku masih berat.
Jessica menunjuk wajahku, tangannya bergetar. "Gue percaya sama lo! Gue anggap lo sahabat! Lo tuh..."
Dia terhuyung, dan untuk sesaat aku pikir dia mau menamparku. Tapi Ashley langsung menarik tubuh Jessica mundur.
"Jess, cukup. Lo lagi emosi, lo lagi mabuk. Lo jangan bikin semua makin parah," kata Ashley tegas.
Jessica mendorong tangan Ashley, tapi akhirnya mundur sendiri. "Gue pulang sendiri. Jangan ikutin gue."
Dia berbalik dan meninggalkan ruangan, membiarkan pintu depan terbuka dan musik dari luar menggema masuk.
Ashley menoleh ke arahku. "Ayo, Cell. Kita pulang sekarang."
Aku tidak melawan. Hanya mengikuti langkah Ashley dengan lutut lemas.
-------
Aku terbangun di kamar Ashley, di atas kasur empuk dengan lampu tidur menyala redup. Rambutku acak-acakan, dan kepalaku terasa seperti dihantam palu. Ashley duduk di lantai, memeluk bantal.
"Aku jahat, ya?" bisikku pelan.
Ashley menoleh, matanya lelah tapi lembut. "Enggak, Cell. Lo cuma... lagi salah waktu. Sebenarnya gue udah tahu, dari cara lo dan Lucas saling pandang. Tapi gue pikir, itu urusan kalian."
Aku menggigit bibir. "Jess gimana ya?"
Ashley menarik napas. "Kasih dia waktu. Ntar gue coba tanyain, oke? Tapi untuk sekarang, lo istirahat dulu."
Aku mengangguk pelan. Malam itu, aku menangis dalam diam. Bukan karena Lucas. Tapi karena kehilangan tempatku di antara orang-orang yang paling aku percaya.