Kevin dan Veronica menghabiskan malam itu bersama di sebuah hotel tak jauh dari pusat kota. Setelah ciuman penuh rindu yang mereka bagi di perpustakaan sekolah, ada semacam keheningan yang mengikuti mereka—bukan canggung, melainkan padat oleh ingatan dan rasa yang belum selesai. Kamar hotel itu hangat, lampunya redup keemasan. Begitu pintu ditutup, waktu seakan tak berjalan biasa. Mereka seperti tenggelam dalam gelombang yang sudah lama mereka tolak. Satu pelukan mengalir ke ciuman. Satu ciuman memanjang jadi pelampiasan bertahun-tahun kehilangan. Mereka tak berbicara banyak. Hanya napas, hanya sentuhan yang mengenal jalan pulang. Veronica merindukan Kevin. Merindukan caranya menyentuh, memeluk, mencium. Merindukan caranya dipandang seolah dia satu-satunya wanita yang pernah ada. Mereka

