Pagi itu aku menatap layar ponsel cukup lama. Jari-jariku gemetar pelan, entah karena gugup atau karena tahu bahwa kata-kata yang kutulis barusan bisa jadi akan diabaikan. Hey Jess, gue minta maaf. Bener-bener minta maaf. Please Jess, dengerin penjelasan gue dulu. Pesan itu terkirim. Lalu aku menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Dua jam. Tidak ada balasan. Kupikir, mungkin Jessica butuh waktu. Tapi sehari berlalu, dua hari... masih sama. Hampa. Kosong. Bahkan ketika aku melihatnya di sekolah, Jessica menoleh ke arah lain, seolah aku udara. Saat aku berpapasan dengan Ashley di lorong, aku mencoba tersenyum. Tapi Ashley hanya menunduk dan mempercepat langkah. Ternyata, semuanya lebih rumit dari yang kubayangkan. Dan lebih sunyi dari yang bisa kubayangkan. ------- Ashley, seperti yang

