32. Sentuhan yang Terlarang

1641 Words

Aku duduk di lantai kamar, menunggu. Sabtu malam terasa lambat. Aku berdiri di depan cermin kamar mandi apartemen studioku yang sempit. Lampu neon di atas cermin berkedip-kedip, membuat bayanganku terlihat sedikit sakit. Di luar, suara knalpot motor bising dan teriakan pedagang nasi goreng menjadi latar suara hidupku yang menyedihkan. Tapi malam ini, aku akan keluar dari neraka ini. Walaupun hanya untuk beberapa jam. Aku memoleskan lipstik merah tua—satu-satunya warna bold yang berhasil kusembunyikan dari penyitaan Gabriel. Di tubuhku melekat gaun slip dress sutra warna champagne yang jatuh pas di lekuk tubuh. Aku melapisinya dengan trench coat panjang untuk menutupi “dosa”-ku saat melewati lobi apartemen kumuh ini. Pesan dari Emilio masuk tepat pukul 19.00. Vendor Oli: “Driver sudah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD