Senin pagi di Cakung rasanya seperti bangun dari koma panjang, hanya untuk menyadari bahwa kau masih lumpuh. Gemerlap lampu kristal Hotel Mulia sudah hilang. Gaun backless satin hitamku sudah kembali terlipat di dasar koper, disembunyikan di bawah tumpukan kaus oblong murah. Wangi parfum mahal dan asap rokok Emilio Kusuma sudah menguap, digantikan kembali oleh aroma khas gudang: debu semen, keringat kuli panggul, dan solar yang terbakar matahari. "Celly! Bengong aja kamu!" Suara Pak Yanto meledak di telingaku, membuyarkan lamunanku. Dia melemparkan tumpukan faktur berwarna merah muda ke mejaku. "Itu retur barang dari Cikarang. Supirnya marah-marah di depan minta tanda terima. Cepat input, jangan mimpi jadi putri raja terus." Aku mengertakkan gigi, menahan keinginan untuk melempar stap

