Hari wisuda datang dibungkus panas Jakarta yang menyengat. Udara terasa berat oleh kelembapan dan asap knalpot. Bahkan AC mahal di Convention Center tidak bisa sepenuhnya menjernihkan udara. Aku bangun jam 5 pagi, bukan karena alarm, tapi karena tubuhku menolak untuk tidur. Sudah seperti ini selama dua minggu—sejak malam aku berjalan menjauh dari rumah Dave, meninggalkan hatiku di depan pintu pagar rumahnya. Aku duduk di meja rias, memperhatikan MUA menempelkan lapisan demi lapisan foundation ke wajahku. Dia mengoceh riang tentang betapa halusnya kulitku, bertanya apakah aku mau tampilan "bold" atau "natural". "Apa aja yang bisa nutupin pucatnya, Mbak," jawabku. "Bikin muka saya kelihatan hidup." Aku berdiri dan memakai kebaya itu. Sebuah mahakarya dari renda Prancis warna champagne. P

