Empat belas hari. Itulah berapa lama keheningan bertahan sejak aku mengusir Dave dari mobilnya sendiri di depan gerbang kosanku. Empat belas hari yang terasa seperti neraka. Harusnya aku fokus pada persiapan wisuda. Harusnya aku booking MUA, fitting kebaya, atau membantu Mama memilih tas Corvelle-nya supaya warnanya tidak tabrakan dengan istri baru Papa—oh tunggu, Papa belum nikah lagi—dia cuma punya simpanan. Tapi aku tidak bisa fokus pada semua itu. Pikiranku terjebak dalam satu putaran kaset rusak. Aku terus memutar ulang suara Dave: "Pabrik lagi kolaps. Kita banyak utang." Dia mengorbankan dirinya demi uang. Demi sebuah pabrik tua di Surabaya. Demi kehormatan keluarga. Aku duduk di lantai kamar, dikelilingi rekening koran dan dokumen aset yang kucuri—atau lebih tepatnya, "kupinjam"—

