Jam dua pagi. Langit Jakarta berwarna ungu pekat, tercekik polusi dan awan tebal. Awan itu terlihat seperti mau hujan, tapi tidak pernah turun. Honda Jazz Dave berhenti perlahan tepat di depan gerbang besi hitam kosanku. Mesin mobil masih menyala, mengeluarkan dengungan rendah yang bergetar sampai ke alas kaki. AC mobil mengembuskan udara dingin, kontras yang tajam dengan malam yang lembap dan lengket di luar jendela. Musik jazz lembut dari perjalanan kami di Kemang tadi sudah memudar. Sekarang, lagu pop sedih berputar pelan, nyaris seperti bisikan. Harusnya aku membuka pintu. Harusnya aku melepas sabuk pengaman, bilang "makasih" buat dimsum dan bantuan skripsinya, lalu masuk ke kamar. Di sana, aku bisa memimpikan masa depan yang akhirnya terlihat cerah lagi. Tapi tubuhku rasanya terpak

