14. Dave, Sahabat yang Terlupakan

1452 Words

Hujan di luar perpustakaan belum benar-benar berhenti, hanya menyisakan gerimis halus yang menempel di kaca jendela seperti keringat dingin. Aku masih duduk di sana, menatap satu kata yang tertulis di sudut meja kayu tua yang permukaannya sudah baret-baret. Dave. Tulisan itu kecil, ditulis pakai Tipe-X putih yang sudah mengeras dan mulai terkelupas pinggirannya. Peninggalan kelas sepuluh, waktu kami dihukum Bu Linda merangkum bab Perang Dunia II. Bukannya ngerjain tugas, Dave malah sibuk gambar karikatur guru, dan aku—dengan bodohnya—mengukir nama dia di sebelahnya. Waktu itu rasanya lucu. Rasanya kayak kami bakal selamanya jadi duo perusuh di sekolah ini. Sekarang, melihat nama itu rasanya kayak melihat hantu. Aku menyentuh tulisan itu dengan ujung telunjuk. Kasar. Dingin. "Lo ke mana

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD