17|| Teror dan Rumah Sakit Jiwa

1466 Words

    Kamis pagi. Ini adalah hari hujan ke sekian. Shana menggunakan jaket tebalnya berdiri di depan rumah menunggu kedatangan Arthur. Ya, untuk yang kesekian kali mereka juga berangkat bersama.     Mobil Arthur berhenti di depan rumah Shana. Arthur turun dan menghampiri Shana yang berdiri di teras rumah.     "Pak Gerald mana? Mau izin jemput lo sekalian anter pulang nanti sore." Arthur menengok ke dalam rumah.     "Ayah, ada Arthur." Shana berteriak nyaring.     Tak lama setelahnya Gerald keluar dari rumah. Ia segera menghampiri Arthur.     "Pagi, Pak Gerald. Saya izin jemput Shana. Nanti pulang sekolah saya juga antar balik Shana." Arthur mencium tangan ayahnya Shana sekalian meminta izin.     "Boleh. Silakan-silakan, saya senang kalau ada yang jagain Prim. Dia nggak perlu naik angku

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD