Jumat pagi. Shana duduk di bangkunya sembari menuliskan beberapa kalimat di lembar buku catatannya. Beberapa hari ini ia sama sekali tak konsentrasi dalam belajar. Setiap malam ia habiskan dengan mengobrol bersama ayahnya atau berbicara dengan Arthur lewat telepon. Kelas XI IPA 2 masih lah kosong. Jam sudah bergerak lebih dari angka enam. Shana memandang sekelilingnya. Kok tumben, satu pun temannya belum ada yang berangkat. Shana terkejut kala sebuah peluru meluncur cepat menembus kaca jendela kelasnya. Shana menundukkan kepalanya sejajar dengan meja sehingga peluru itu tak bersarang di kepala dan tubuhnya. Suara tembakan tadi sangat memekakkan telinga hingga telinga Shana terasa berdengung. Shana merasakan debar jantungnya berdegup tak karuan. Kenapa sih dia yang selalu

