Maria Vance Christie menghentikan langkahnya di hadapan gedung tempat kerjanya selama empat tahun ini, gedung perpustakaan tertua dan terbesar di kota London, perpustakaan The Bloomsburry. Sejak kecil ia memang sangat gemar membaca buku. Bekerja di perpustakaan merupakan salah satu impiannya, tempat ia bisa membaca buku sepuas hatinya, tanpa diganggu, dan juga tanpa mengeluarkan uang.
Setelah kepergian David, Maria sedikit terhibur oleh rak-rak tinggi yang berbaris sunyi yang seolah mencerminkan kekosongan hatinya dan menjadi pelabuhan bagi jiwanya yang lelah.
Namun pagi ini berbeda. Maria sudah tak sanggup lagi. Perpustakaan ini, sudah tak bisa menjadi penawar bagi lukanya.
Maria dengan raut wajah kaku mendongakkan wajah, sambil menatap jauh ke atas gedung dengan pandangan menerawang. Perlahan Maria tersenyum sinis.
Hidup memang kejutan. Siapa sangka tempat yang paling ia sukai selama ini akan menjadi tempat dimana ia akan mengakhiri hidupnya? Sungguh ironi.
Maria memasuki gedung dan berjalan ke arah lift. Ada tulisan besar di sana. LIFT RUSAK. Maria mendengus. Benar-benar cara yang menyenangkan untuk mati. Sepertinya ia harus sedikit berolahraga sebelum mati. Maria kemudian menaiki tangga yang sama, yang setiap hari ia naiki dan berhenti di lantai teratas. Ia mendorong sebuah pintu besi yang mengarah ke sebuah tanah lapang di atas gedung. Dengan penuh tekad, ia melangkahkan kakinya ke tepi gedung dan menaiki bibir gedung.
Yang harus ia lakukan sekarang, hanya memberikan sedikit dorongan pada tubuhnya dan meluncur ke bawah dengan mulus. Cukup itu saja. Lalu semua rasa sakit dan sesak ini akan pergi dengan sendirinya. Maria menahan air matanya yang hampir jatuh setelah lama kering. Ia harus melakukannya sekarang, atau tidak sama sekali! Atau ia akan akan kembali bangun, bernapas, dan menghadapi rasa sakit yang sama dan menyesakkan ini lagi!
Maria membuka matanya dan melongok ke bawah. Setidaknya ketinggian gedung yang hampir mencapai 70 meter ini, dapat memastikan akan membuat tulangnya langsung remuk, dan hancur, detik saat tubuhnya menyentuh aspal di bawah sana. Maria melongok ke bawah sekali lagi. Matanya segera diliputi kengerian hebat.
“Dasar bodoh.” Desis Maria dengan bibir bergetar.
Maria baru saja menyadari. Kebodohan dan keegoisannya. Dirinya bagaikan kerakap yang tumbuh di atas batu. Ia terlalu takut untuk mati, tetapi ia juga terlalu takut untuk hidup dan menghadapi kenyataan. Tanpa sadar kepala Maria menunduk semakin dalam. Kabut bening muncul perlahan dan menghilangkan fokus kedua matanya dalam temaram. Teramat tipis, namun setelah berbulan-bulan selalu berhasil menekannya sampai ke sudut tergelap. Sebagian dari akal sehatnya yang telah lama dipaksanya untuk tidur, kini berontak hebat. Bangkit dari mati surinya yang panjang dan memaksa keluar.
Perlahan wajah orang–orang yang ia sayangi muncul di pelupuk matanya. Di tempatnya berdiri, Maria menggigil dalam ketidakmampuan total mengekang diri.
Maria menghembuskan napas. Panjang dan penuh tekad.
Baiklah.
Hari ini juga belum waktunya...
Sekarang yang ia harus lakukan adalah mundur perlahan dan turun ke lantai semen atap gedung. Ia merasa harus turun secepatnya, karena ia tidak yakin akan sanggup menangani dirinya sendiri jika pikiran untuk mengakhiri hidup yang tadi sempat memenuhi kepalanya, berhasil menyeruak keluar lagi.
Maria hampir saja mulus melakukannya saat tiba-tiba langkahnya tersandung dan tubuhnya malah jatuh ke arah sebaliknya. Ke bibir luar gedung.
Maria terlalu kaget untuk bereaksi. Satu gagasan memenuhi otaknya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa akhirnya ia akan mati dengan konyol seperti ini!
Maria menutup matanya dan bersiap untuk mati. Tapi sampai satu detik. Dua detik. Tiga detik… Sepuluh detik. Yang ia rasakan bukan kerasnya aspal jalan, malah bunyi gedebug nyaring. Dan anehnya lagi. Ia tidak merasakan sakit sama sekali di tubuhnya, selain rasa sakit di pergelangan kakinya yang kemungkinan akibat terkilir.
Apakah mati memang sedamai ini?
Maria membuka matanya dengan cepat, dan perlahan kesadarannya mencapai angka seratus persen. Ia belum mati! Dan saat ini ia berada di pelukan seorang pria tampan!
Astaga apa yang aku pikirkan. Tampan?! Di saat seperti ini? Tapi...
Maria sepertinya mengenal wajah di hadapannya ini. Maria mengerjap.
“Apa kau benar-benar ingin mati konyol seperti ini?!”
Suara pria di hadapannya, yang tajam dan lantang, membuyarkan pikiran Maria. Seorang pria dengan wajah pucat pasi dan d*da yang naik turun karena napas yang memburu, dengan sepasang mata cokelat itu langsung berhadapan dengan Maria begitu ia mengerjap. Maria tergegun. Napasnya tercekat sampai ia lupa untuk bernapas.
Demi Tuhan.. DAVID?!
Tanpa sadar Maria masih berdiri di tempatnya. Masih menatap lelaki di hadapannya dalam kebekuan dan keterpanaan. Masih tergegun. Ada torehan yang tercipta saat itu juga. Terlalu tiba-tiba, sehingga Maria sendiri tak langsung menyadarinya.
“Siapa kau sebenarnya?!” Suara pria itu lagi-lagi membuyarkan pikiran Maria.
Maria terdiam sambil menatap nanar.
Ah. Bukan. Dia bukan David. Sama sekali bukan.
Pada seribu tanya dan doa tanpa jawaban yang ia panjatkan tiap malam, ia tidak boleh lupa. Bahwa David telah tiada. Sore itu.. Mobil itu, dan kecelakaan itu.. Telah merenggut nyawanya. Jadi tidak bisa, dan tidak akan mungkin David kembali muncul di hadapannya.
Beberapa detik kemudian, seolah tersadar akan rasa perih di pergelangan tangan, Maria membalas, “Kau yang siapa? Lepaskan tanganku!”
Maria meringis kesakitan saat mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cekalan pria ini. Pria itu refleks melepaskan cekalannya saat menyadari bahwa cekalannya menyakiti Maria. Lalu ia mengusap wajah. Wajahnya terlihat lelah, dan frustasi.
“KAU!” Lelaki itu menunjuk hidung Maria.
“Sebenarnya kau siapa?! Kenapa kau selalu menggangguku?! Kenapa kau membuatku gila?! Kenapa kau-” Lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gemas, menatap Maria─yang sedang ternganga kaget─dari kepala sampai kaki, lalu kembali ke wajahnya dan berkata,
“Ah! Sial! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!" diam sejenak, "Coba pikirkan perasaan orang-orang yang akan kau tinggalkan... Dan... jangan pernah ulangi hal bodoh, seperti tadi! Kau paham?!”
Setelah mengucapkan kata terakhir, tanpa menunggu jawaban Maria, pria itu membalikkan tubuhnya sambil mengumpat. Lalu berjalan pergi begitu saja. Meninggalkan Maria yang masih ternganga di tempatnya berdiri.
Maria mengerjap kaget, membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Otaknya bingung mencerna kejadian yang baru saja terjadi.
Pada punggung yang berjalan menjauh dan kemudian hilang ditelan pintu besi tua berwarna merah tak jauh dari tempatnya berdiri, Maria mendenguskan tawa tak percaya. Seseorang yang bahkan tak ia kenal itu... Apa baru saja mengumpatnya?
Demi Tuhan apa yang baru saja terjadi?!
Dia...tidak waras, kan?
.....................................