BAB 5: "Aku Tidak Menggigit" & Wajah yang Kini Bernama

1741 Words
Aroma kuah kaldu yang gurih dan uap panas mengepul dari mangkuk porselen di hadapan Nathaniel Alexander. Ia memejamkan mata, menikmati mi udon yang kenyal itu meluncur di tenggorokannya. Sejenak, Nathaniel melupakan udara dingin London yang menyiksa di luar sana. “Aku sudah bilang, kan? Udon di restoran ini adalah yang terbaik. Tidak ada tandingannya,” gumam Nathaniel puas. Namun, saat ia membuka mata, ia mendapati lawan bicaranya tidak menyentuh makanan sama sekali. Michael Elias Thorne duduk mematung. Sesumpit penuh mi masih menggantung di tangannya, namun fokus matanya bukan pada makanan. Pandangannya kosong, menembus dinding apartemen, seolah pikirannya sedang berkelana ke tempat yang sangat jauh. Detik berikutnya, Michael meletakkan kembali sumpitnya ke dalam mangkuk dengan bunyi klik pelan. “Kau tidak makan?” tanya Nathaniel heran. Michael mengusap wajahnya yang pucat, terlihat sangat lelah. “Gadis itu... gadis yang tinggal di apartemen seberang...” Michael menunjuk pintu kayu unitnya dengan dagu, mengarah ke apartemen nomor 4. Nathaniel memiringkan kepala. “Siapa? Tetangga galak yang menuduh kita pasangan gay tadi? Kenapa dengannya? Kau mengenalnya?” Michael menggeleng perlahan, namun raut wajahnya menunjukkan kegelisahan yang mendalam. “Aku pernah melihat dia... jauh sebelum hari ini.” “Kapan?” Nathaniel meletakkan sumpitnya, mulai tertarik. “Apa kau pernah memotretnya di jalanan? Atau dia salah satu model yang pernah bekerja denganmu?” “Tidak. Di sini,” Michael menunjuk pelipisnya sendiri. “Aku melihatnya beberapa bulan belakangan ini... di dalam mimpiku.” Keheningan seketika menyelimuti meja makan itu. Nathaniel memandang Michael dengan tatapan heran, mencari tanda-tanda apakah pria di hadapannya sedang bercanda atau tidak. “Maksudmu? Semacam déjà vu?” “Bukan, Kak! Ini bukan déjà vu. Dia mendadak muncul begitu saja, seperti potongan kenangan yang dipaksa masuk ke sudut-sudut otakku,” Michael mengusap wajahnya dengan gusar. “Sampai detik aku bertemu dengannya tadi pagi, aku bersumpah belum pernah bertemu dengannya seumur hidupku. Tapi dia... dia tampak seperti seseorang yang sudah sangat aku kenal. Aku terus melihat potongan-potongan wajahnya sepanjang hari.” Michael menatap Nathaniel dengan keseluruhan konsentrasinya, matanya berkilat penuh ketakutan yang jujur. “Dan akhirnya kini kami benar-benar bertemu! Beri tahu aku, Kak... apa yang terjadi padaku? Apa aku gila?” Nathaniel terdiam, menyadari bahwa Michael tidak sedang berbohong. Ia bisa melihat rasa kesepian yang mendalam di mata Michael saat pria itu membicarakan tentang mimpinya. “Mm... Bagaimana perasaanmu saat melihatnya dalam mimpi itu?” tanya Nathaniel pelan. Michael terdiam sejenak, tatapannya menerawang ke dinding kosong. “Aku merasa... sangat kesepian. Rasanya seperti aku sedang mengenang seseorang yang sangat berarti bagi hidupku, tepat sebelum aku mati karena usia tua. Perasaan itu... sangat menyesakkan.” Michael menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa dingin yang merayap di punggungnya. “Aku butuh bantuanmu, Kak. Kakak punya detektif kenalan yang biasa kakak pakai itu, kan? Aku ingin mencari informasi tentangnya.” Nathaniel hanya bisa menghela napas, menyadari bahwa Michael sudah mulai terobsesi. Michael memang mudah terobsesi. Biasanya hanya pada pekerjaan. Nathaniel tidak menyangka ada harinya Michael akan terobsesi dengan wanita. .............................. Keesokan paginya, Michael Elias Thorne memundurkan mobilnya keluar dari area parkir apartemen dengan hati-hati. Saat ia melajukan mobilnya menuju jalan utama, sosok yang ia bicarakan semalam terlihat di kejauhan, sedang berjalan menuju halte bus. Tanpa sadar, Michael tersenyum kecil mengingat kejadian semalam—terutama saat ia memprovokasi gadis itu dengan mengaku bahwa Nathaniel adalah "pasangannya". Bagaimana mungkin gadis itu bisa berpikiran sekonyol itu? Gadis itu memang terlihat menyebalkan dan penuh curiga, tetapi Michael harus mengakui bahwa gadis itu cukup menyenangkan untuk digoda. Namun, saat mobilnya semakin mendekati halte, senyum Michael perlahan memudar. Ia mengunci sosok Maria dalam fokus matanya. Maria mengenakan dress cokelat muda polos selutut dengan rambut cokelatnya yang dibiarkan terurai ditiup angin pagi. Deg. Michael mendadak mengerem mobilnya. Bulu kuduknya meremang. Visual itu. Wajah murung itu, cara ia berjalan, hingga tempat ia duduk di halte... semuanya mutlak sama dengan potongan mimpi Michael semalam. Michael menghentikan mobilnya tepat di depan halte. Ia membuka pintu dan berdiri tegak di hadapan wanita itu. Wanita itu mendongak, seolah terpana selama beberapa detik, kemudian seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi mendung yang gelap. Ia membuang muka, terlihat sangat enggan melihat Michael. “Mau berangkat kerja?” tanya Michael mencoba mencairkan suasana. Wanita itu diam. Ia justru merapatkan tasnya ke d**a, bibirnya mengerucut tanda ia masih sangat marah dan tersinggung atas kejadian kemarin. “Hei,” Michael melangkah selangkah lebih dekat, mengibaskan tangannya. “Kau masih marah soal kemarin?” Wanita itu mendongak, matanya berkilat galak. “Menurutmu? Kau menciumku tanpa izin, lalu muncul sebagai tetangga yang membanting pintu tepat di depan wajahku. Kau pikir itu hal yang bisa dilupakan begitu saja?” semprot wanita itu. Michael mendesah pelan, ia tahu ia harus menurunkan egonya jika ingin mendapatkan jawaban. “Baiklah, aku minta maaf. Aku mengaku salah.” Wanita itu mendengus sinis, masih tampak enggan. “Dengar,” lanjut Michael, suaranya melembut namun tetap tegas. “Soal ciuman itu.. Kau menggila di tepi gedung setinggi 70 meter. Kau meronta seolah ingin melompat lagi saat aku menarikmu. Hanya itu satu-satunya cara tercepat untuk membuatmu diam dan sadar. Aku hanya sedang menyelamatkan nyawamu, ingat?” Wanita itu tertegun. Ia menggigit bibir bawahnya, amarahnya mulai surut digantikan oleh rasa malu karena ia tahu Michael benar tentang kejadian di atap itu. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya. "Kalau soal aku membanting pintu di depan wajahmu, benar-benar hanya karena terkejut. Sekali lagi, aku benar-benar buka penguntit atau penjahat kelamin seperti yang kau kira. Aku pun sama terkejutnya saat melihatmu kemarin." Jeda sejenak. "Tapi kau benar. Aku salah. Ucapanku gedung perpustakaan kemarin, terlalu kasar. Aku.. punya alasan tersendiri." “Tidak kau tidak perlu minta maaf... aku juga kasar padamu. Bahkan menuduhmu yang bukan-bukan. Seharusnya aku berterimakasih padamu, karena menyelamatkanku kemarin.” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Michael tersenyum tipis, sebuah sensasi hangat muncul di dadanya. “Baguslah. Jadi, bisa kita anggap kita impas sekarang? Kalau begitu, sebagai tanda perdamaian, mau aku antar berangkat kerja?” “Tidak perlu!” jawab wanita itu cepat, kembali menunjukkan sisi defensifnya. “Aku bisa sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri.” Michael mengulum senyum geli. Tidakkah jawaban dan ekspresi gadis ini terlalu berlebihan? Toh, ia hanya berbasa–basi. Namun ekspresi panik gadis itu, membuat Michael ingin menggoda gadis itu lagi. “Ayolah.. Aku tidak keberatan. Lagipula aku juga sedang tidak buru–buru.” Ujar Michael lagi sambil melangkah mendekati mobilnya dan membuka pintu kursi penumpang. Gadis itu menggoyangkan tangannya lagi. Kali ini lebih cepat. “Sungguh aku tidak perlu diantar. Aku bisa berangkat sendiri. Aku sudah terbiasa sendiri.” Katanya cepat sambil meraih tas jinjingnya. Ketika ia melihat Michael membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, Maria cepat–cepat membungkuk dan berjalan ke tepi trotoar. Berdiri menjauhi Michael. Michael mengatupkan mulutnya. Kini menahan tawa gelinya. Suatu sensasi baru yang menggelitik muncul dari dalam dirinya saat ia menggoda gadis itu. Suatu sensasi yang anehnya, terasa menyenangkan? “Baiklah–baiklah, aku tidak akan memaksamu.” Michael menutup pintu mobilnya kemudian berdiri menyejajari gadis itu. Gadis itu melirik curiga pada Michael. Michael yang menyadari lirikan itu tersenyum tipis. “Kenapa? Aku tidak menggigit, kau tahu?Aku hanya akan menunggu sampai bus mu datang.” Gadis itu mengangguk acuh tak acuh, terus berusaha melihat apa pun selain Michael. Michael mengusap tengkuknya. Aneh. Ia merasa gadis ini tak menyukainya. Atau malah takut? “Ini sudah ketiga kalinya kita bertemu ...” Ucap Michael memecah keheningan dengan suara tergantung. “Tapi aku masih belum tahu namamu.” Lanjutnya. Gadis itu bergeming. Michael sampai perlu mengibaskan telapak tangannya lagi di depan wajah gadis itu untuk menarik perhatiannya. Entah apa yang dia pikirkan. Kemudian ia menoleh dengan pandangan heran. “Apa?” “Namamu. Kurasa aku perlu mengetahuinya, kan? Kita tetangga.” “Oh.” Keheningan kembali menyeruak. “Maria.” Ujar gadis itu akhirnya. ​“Maria...” Michael mengulangi nama itu pelan, seolah sedang mencicipi sebuah kata yang sangat akrab di lidahnya. “Nama yang bagus. Aku Michael. Senang akhirnya bisa berkenalan secara normal denganmu, Maria. Semoga kita bisa berteman dengan baik.” Michael menjulurkan tangannya. Tapi sampai beberapa detik tangan itu masih menggantung di udara. Tak ada yang menjabatnya. “Baiklah jika kau tak mau bersalaman.” Michael menarik tangannya dengan canggung. “Jadi Maria, kau bekerja dima-” “Bus ku datang.” sela Maria cepat sambil menunjuk sebuah bus bernomor 207 yang ternyata telah berhenti dengan jarak beberapa meter dari tempat mereka berdiri. Dengan canggung dan tanpa menatap mata Michael, gadis itu berjalan cepat ke pintu bus, dan menaikinya. Astaga. Bila mata Michael tak salah menangkap, gadis itu bahkan hampir setengah berlari! “Maria...” Bisik Michael tanpa sadar. Menatap bus berbadan besar yang baru saja membawa wanita itu pergi. Wajah di mimpinya kini memiliki nama. Lama, Michael masih terdiam di tempatnya. Mengingat wajah yang terasa begitu akrab baginya. Setiap gerak-gerik, sorot mata, dan cara Maria duduk, mungkin sudah ia hapal di luar kepala karena semuanya seperti adegan yang sudah diputar ribuan kali dalam tidurnya. Sebenarnya dia siapa? Kenapa ia terus muncul di mimpiku? Kenapa ia terus menarik perhatianku? Apa yang membuatnya terlihat begitu kesulitan, bahkan sampai ingin bunuh diri? Michael menghela napas panjang. Berusaha mengusir rasa penasaran kuat yang membelitnya. Michael kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon Nathaniel. “Kak, tentang yang aku minta tolong semalam… Apa detektif itu sudah berhasil mendapatkan informasi tentang gadis tetangga seberang?” ................................... Di dalam bus, Maria menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menyenderkan tubuhnya yang lemas di kursi. Detak jantungnya masih berpacu liar. ​Demi Tuhan, saat Michael muncul begitu saja dan matanya bertemu pandang dengannya, Maria hampir pingsan. Di hadapannya, sepasang mata cokelat itu menatapnya dengan kehangatan yang sangat ia kenali. ​David! Pikirannya menjerit. David berdiri di depanku! ​Rasanya seperti ada banjir bandang yang tiba-tiba menenggelamkan jalanan itu hingga ia sesak kehabisan napas. Ia merasa tersedak, ingin menyerah saja sampai tubuhnya mengambang. Namun halusinasi itu hilang saat ia tersadar Michael bukan David. Sama sekali bukan. ​Maria memeluk tubuhnya sendiri, menggigil di bawah sinar matahari pagi. David memiliki kulit pucat dan tubuh agak kurus, sementara Michael berkulit agak gelap dan bertubuh atletis. Namun mata itu... binar itu selalu menipu kewarasannya. ​Maria menatap keluar jendela. Langit biru cerah di atasnya tiba-tiba berwarna abu-abu, dan seakan runtuh satu per satu menimpanya. Bagaimana ia bisa hidup tenang jika setiap hari ia harus memandang wajah pria yang terus membangkitkan bayangan David dari dasar luka yang belum kering? ​Maria memejamkan mata, membiarkan dunia yang kelabu itu menelan sisa-sisa kekuatannya pagi ini. ....................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD