Prolog
Angin berhembus pelan melewati jendela kamarku. Aku masih menatap tulisan panjang yang berada di dalam majalah yang kupegang. k****a ulang secara perlahan.
“Rena! Sudah makan siang belum?” Suara Ibu membuyarkan fokusku.
“Sudah bu.” Kujawab semantap mungkin.
Sejujurnya aku belum mengisi perutku siang ini. Majalah remaja yang datang hari ini membuatku kehilangan napsu makan. Membuat kenanganku kembali ke masa itu. Membuatku kembali menyebutkan namanya.
Aku menghela napas kemudian melanjutkan acara membacaku yang sempat tertunda. Sudah lebih dari dua kali aku membaca tulisan itu. k****a sampai pada tulisan Rena Rahmawati. Ya, namaku tertera di sana sebagai seorang penulis.
Puisi itu aku buat untuk dirinya. Lelaki pertama yang menciumku setelah Ayahku. Lelaki pertama yang memutar balikan hidupku. Lelaki pertama yang membuatku merasakan yang namanya jatuh cinta.
Lagi-lagi kuhela napasku. Kini aku mengambil sebuah kaset video yang sudah lama tertumpuk di antara kaset-kaset lainnya. Kuputar kembali video tersebut. Aku pun kembali ke masa itu.
“Apa kabarmu? Aku rindu.” Bisikku saat melihat video tadi mulai berjalan.
Dua tahun lalu, ketika aku berada di kelas tiga SMA, aku pertama kalinya menyadari bahwa ia selalu berada satu kelas denganku. Semuanya berawal di semester akhir kelas tiga itu.