Dua tahun yang lalu...
Hari ini kelas terakhir sudah berakhir. Tapi tidak seperti biasanya. Semua murid di kelasku masih betah berada di kelas. Ya, hari ini pengecualian karena hari ini kita semua sudah setuju untuk mengadakan rapat tentang kegiatan yang akan kita lakukan untuk acara perpisahan nanti.
Rendi sudah berdiri di depan meminta kami semua untuk diam terlebih dahulu.
"Jadi teman-teman, seperti yang kemarin sudah kita bahas, hari ini kita akan rapat untuk kegiatan acara perpisahan nanti. Seperti yang kalian semua tahu, setiap kelas diwajibkan menampilkan sesuatu untuk kita kenang nanti. Dan yang gue tahu, drama kelas itu sudah banyak sekali yang pakai. Kita harus bikin sesuatu yang berbeda ya. Nah sekarang ada yang mencoba memberi ide?" Rendi menatap satu-satu mata kami.
Semua terdiam memikirkan ide apa yang akan kita tampilkan. Tidak lama kemudian, seorang siswa yang duduknya paling belakang mengangkat tangannya.
"Iya, Hans?"
Begitu namanya disebut aku menoleh ke arah tempat duduk siswa tadi. Aneh, pikirku. Rasanya aku tidak pernah melihat laki-laki itu. Sejak kapan dia ada di sana?
"Eh, dia memangnya satu kelas ya sama kita?" Tanyaku pada Ira teman sebangku ku.
"Loh, lo gak tahu? Kalau gak salah dia selalu sekelas kok sama lo."
Aku bengong mendengar jawaban Ira. Aku tidak pernah merasa sekalipun pernah satu kelas dengannya selama ini.
"Ya jadi semua setuju ya?"
Lamunanku buyar.
"Setuju apa?" Tanyaku yang kemudian diiring tawa teman-teman sekelasku. Beberapa menyorakiku menyuruhku untuk tidak melamun.
"Sudah, sudah." Kata Rendi menenangkan.
"Jadi, tadi Hans kasih kita ide untuk membuat video tentang keseharian kita di akhir semester ini sampai nanti setelah kita selesai ujian akhir. Nah yang lain sih setuju banget sama ide ini. Kalau lo?"
Aku menangguk cepat kemudian melihat kembali ke arah tempat duduk Hans. Kuperhatikan ia sedang fokus mendengar beberapa masukkan dari Rendi sambil memainkan pensilnya.
"Nah, terakhir siapa yang mau jadi sukarelawan untuk merekam videonya?"
Seketika semua terdiam. Tentu saja tidak akan ada yang mau. Semuanya tentu saja ingin masuk ke dalam dokumentasi tersebut. Tidak ada satupun yang ingin dilupakan.
Aku hampir saja mengangkat tanganku ketika Hans sudah terlebih dahulu mengangkat tangannya.
"Gue aja." Katanya singkat. Semua memandangi Hans.
"Lo yakin? Nanti muka lo gak banyak bahkan hampir gak muncul loh di video."
"Gak apa-apa. Gue juga malu kalau harus banyak muncul di video." Katanya sambil tersenyum.
Setelah Hans berhasil meyakinkan bahwa dirinya tidak masalah menjadi seorang kameramen, kami semua bergegas pulang ke rumah masing-masing.
———
Aku berjalan menyusuri jalan yang tidak terlalu besar menuju rumahku. Rumahku memang berjarak tidak terlalu jauh dari sekolah. Aku masih memikirkan tentang Hans. Kenapa aku tidak pernah sadar bahwa ia adalah teman sekelasku.
Aku memiliki kebiasaan untuk selalu menatap ke bawah ketika aku sedang berjalan dan aku akan selalu mengarahkan pandanganku ke mana saja selain ke arah mata lawan bicaraku. Mungkin karena itu aku tidak menyadari kehadiran Hans. Atau memang karena dia yang terlalu pendiam dan penyendiri.
“Gue duluan ya.”
Seketika kutengok asal suara tadi. Kudapati Hans sudah berada di sampingku dengan sepedanya.
“Iya. Hati-hati ya.” Kemudian Hans sudah meninggalkanku dengan sejuta angan-anganku tentangnya.
———
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Yang membedakan adalah setiap jam istirahat Hans mulai merekam setiap aktivitas kami yang berada di kelas. Terkadang ia akan keluar kelas hanya untuk merekam lorong kelas atau kantin yang begitu ramai.
Semenjak hari Hans memberikan ide ini aku selalu memperhatikannya. Aku sadar terkadang Hans menyadari tatapanku dan ia akan segera pergi menghindari tatapanku.
Aku selalu berjalan lambat ketika akan masuk kelas, hanya demi bisa berjalan beriringan dengan Hans. Meskipun Hans hampir selalu terdiam, aku sudah senang.
Aku baru menyadari betapa tingginya Hans dibandingkan dengan tubuhku. Rambutnya hitamnya yang tebal dan selalu rapih, mata coklatnya yang begitu indah, suara beratnya yang begitu memabukkan, dan senyumannya yang sangat manis itu berhasil menyihirku untuk selalu ingin berdekatan dengannya.
Aku dan beberapa temanku menyadari bahwa aku dan Hans semakin dekat dan menyadari bahwa kini Hans terasa lebih hangat dibandingkan sebelumnya.
Meskipun begitu, Hans selalu menjaga jaraknya denganku. Ia tidak akan betah berlama-lama berada di dekatku. Mungkin ia merasa sebal atau terganggu karena aku dan ia sangat bertolak belakang.
Kalau Hans begitu pendiam dan penyendiri, aku adalah seorang yang begitu ceria dan selalu berbaur dengan banyak orang. Tapi entah mengapa aku merasa cocok dengan Hans. Padahal, mengobrol pun isinya hanya basa basi saja. Dan tentu saja aku yang akan lebih banyak berbicara. Aku hanya ingin sedikit mengenal Hans lebih dalam.