Waktu berlalu, aku dan Hans semakin dekat, ia tidak lagi menjauh. Tentu saja aku bahagia. Tanpa aku sadari kalau ternyata hatiku sudah kuberikan untuknya. Tentu saja bukan hanya aku yang bahagia, teman-teman sekelasku pun bahagia melihat perubahan Hans. Ia tidak lagi menyendiri dengan wajah dinginnya. Kini ia sudah lebih hangat, dan senyum di wajanya sering kali terlihat.
Ah, andai aku bisa menghentikan waktu. Mungkin aku akan menghentikannya. Hanya agar aku bisa menyimpan senyumnya untuk selamanya. Andai saja...
“Na! Lihat ke sini dong.” Hans masih terus mencoba mengambil gambarku.
“Gak mau. Gue lagi jelek.”
“Setiap hari juga bilangnya begitu.”
“Yang lain aja dulu.” Aku masih menolaknya.
“Yang lain udah semua, Na. Tinggal lo aja. Makanya sini dong liat mukanya. Nanti muka lo gak ada loh di layar.” Hans masih terus membujukku.
“Lo juga nanti gak ada kan? Gue temenin lo aja deh.” Aku masih menutup mukaku.
Seketika Hans terdiam.
“Lo suka ya sama gue?” Pertanyaan Hans yang tiba-tiba membuatku mengangkat wajahku.
“Nice!” Tiba-tiba saja Hans berlari setelah mendapat gambar wajahku.
Begitu sadar bahwa Hans sedang mengerjaiku, segera kuberlari mengejar Hans.
“Hans!! Hapus yang tadi. Gue lagi jelek banget!” Aku berteriak sambil mengejar Hans.
“Hans berubah ya semenjak dekat sama Rena.”
Aku bisa mendengar seseorang berbisik ketika aku melewati mereka. Dan itu membuatku merasa bahagia.
Tentu saja aku bahagia. Aku bisa melihat sisi lain Hans yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun. Aku berharap bahwa hari-hari indah ini akan terus mengikutiku dan Hans.