Diperjalanan hanya ada kesunyian, dimana keduannya fokus dengan pikiran masing-masing. Sudah 10 menit mobil yang mereka kendarai hanya diam ditempat karena macet yang cukup panjang mengingat daerah tempat mereka mengadakan makan malam berada di daerah wisata.
Melihat padat nya jalan, ira mencoba memperkenalkan kehidupannya kepada aldy, dirinya tidak mau menutupi masa lalunya kepada calon suaminya itu.
"Kak, ira mau jujur." Ucapan ira yang membuka pembicaraan membuat aldy mengalihkan atensinya kepada ira.
Ira pun menarik nafas panjang seraya memulai cerita nya dengan pandangan yang masih lurus menatap depan sedangkan aldy sudah memfokuskan dirinya pada ira.
Dulu keluarga ira sangat berantakan kak. Keluarga ira kembali membaik baru 2 tahun belakangan ini. Ayah dan ibu ira sempat mau berpisah. Mungkin kakak kira keluarga ira baik-baik saja. Bisa di bilang latar belakang kita berbeda kak. Kakak berasal dari keluarga terpandang dan kehidupan yang harmonis, sedangkan ira sangat berbeda jauh dengan kak dyan.
Puncak masalah keluarga ira semenjak usaha ibu ira maju, pada saat itu penghasilan ibu ira cukup terbilang besar dibandingkan ayah ira yang hanya seorang buruh harian. Ibu ira mulai memiliki smartphone, dia juga mulai mengenal aplikasi fac*****, di situ dia mulai berkenalan dengan beberapa teman online nya sehingga lanjut ke aplikasi pesan whats***.
Ira sering menemukan bukti transfer yang ibu ira kirim ke seseorang, bukan sekali dua kali, Tapi sering kak, ketika ira menegurnya, ibu selalu mengelak.
Suatu hari ira membaca isi chatan ibu dengan lelaki itu, dalam chat itu si lelaki sering meminta uang sama ibu dan bahkan banyak isi pesan yang tidak pantas diucapkan oleh seorang lelaki kepada wanita yang telah memiliki suami.
Usaha ibu ira mengalami penurunan karena proyek pembangunan dekat warung ibu ira sudah selesai, ibu ira semakin tidak sanggup hidup susah kembali, ibu ira juga mulai mengenal aplikasi ***tok dan memiliki beberapa grup.
Suatu hari ayah ira memergoki ibu ira yang telponan dengan lelaki lain di luar rumah, itu masih pagi banget kak orang-orang dirumah ira masih pada tidur. Bukan sekali dua kali ayah memergoki ibu, tapi sering kak.
Hingga puncak nya dihari itu. Ira yang awal nya masih terlelap terbangun saat mendengar keributan mereka, ira hanya mampu mendengar dan menangis di balik selimut. Ibu yang memaki-maki ayah hingga mengeluarkan hinaan buat ayah. Hingga ayah terpancing emosi dan menampar ibu.
Saat itu ira mencoba nangis sekencang mungkin untuk mengehentikan pertikaian antara ayah dan ibu.
Dan akhir nya ayah masuk ke kamar ira untuk menenangkan ira, dan satu kalimat yang paling menyakitkan yang ira dengar.
"Ra, ayah titip adik-adik ya, nanti belikan adik-adik makanan ya. Ayah lagi gak pegang uang. Ayah kerja dulu ya". Ucap ira mengulang kembali ucapan ayah nya dulu.
Masih terekam jelas diingatannya untaian kalimat yang ayahnya lontarkan, bahkan masih terasa jelas saat ayahnya mengelus bahunya untuk menenangkan dirinya.
Nangis ira pecah setelah menceritakan masa lalu nya, aldy pun mencoba menenangkan ira.
"Udah ra, kalau kisah itu hanya membuat kamu kembali terluka lebih baik kamu lupakan. Dan simpan cerita itu hanya buat kamu aja." Ucap aldy.
"Ra, maaf ." Ucap aldy seraya mendekat dan menghapus air mata ira dengan tangan nya.
Kedua nya pun saling tatap dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan keduanya dapat merasakan hembusan nafas keduanya. setelah beberapa detik terlibat kontak mayta yang cukup dekat. ira menundukkan pandangan nya untuk memutuskan kontak mata yang sedang terjadi antar keduanya.
"Maaf ra, saya lancang menyentuh kamu" Ucap aldy merasa bersalah dan kembali keposisi awal nya.
"Gak papa kak." balasnya.
"Itu kehidupan ira secara garis besar nya kak, sekarang semua keputusan ira serahkan kepada kak dyan. Jika kak dyan mau meneruskan perjodohan ini silahkan, tetapi jika tidak pun tidak apa-apa kak". Ucap ira berusaha kembali tegar setelah menceritakan masa lalu nya
Aldy menggengam tangan kanan ira.
"Jika saya tetap ingin meneruskan perjodohan ini apa kamu tidak keberatan?" Tanya aldy serius.
"Dari awal ira sudah memutuskan untuk menerima perjodohan ini sebelum pertemuan kita kak, tetapi jika kak dyan menolak dan ingin bersama wanita yang kak dyan cintai, ira akan coba bilang ke ayah agar perjodohan ini batal kak" ucap ira
"Ra..., boleh saya minta kamu untuk tidak memanggil saya dyan ra?" Tanya aldy
"Bukankah tadi sore kakak yang memperkenalkan diri kakak dengan nama dyan?"
"Panggilan dyan hanya untuk orang-orang yang asing bagi saya ra, dan kamu bukan orang asing bagi saya, jadi kamu bisa memanggil saya dengan panggilan aldy" ucap aldy sambil melirik ira.
22.10
Hampir 1 jam lama nya mereka terjebak macet dan kini mereka berdua sudah ada di pekarangan rumah ira.
"Kak aldy mau mampir dulu?" Tawar ira.
"Boleh ra, saya mau pamitan dulu sama orang tua kamu, pintu rumah kamu terbuka pasti orang tua kamu juga baru sampai"
Assalamualaikum... ucap kedua nya serempak
"Walaikumsalam, ayok nak silahkan duduk"
"Terimakasih yah, tapi aldy mau langsung pulang aja yah, lagi pula ayah pasti capek habis perjalanan jauh tadi. aldy cuman mau pamitan aja maka nya turun dari mobil" ucap aldy sambil tersenyum ramah.
"Ya udah kalau kamu tidak mau, ayah gak bisa maksa. Kamu juga pasti capek kan"
"Aldy pamit ya yah. Salam sama ibu dan yang lain. assalamualaikum" ucap aldy sambil mencium tangan ayah rahman.
"Mari kak, ira antar".
"Makasih kak udah mau antarin ira pulang. hati-hati dijalan kak, Jangan ngebut."
"Iya ra, Ra... saya boleh minta nomor whats*** kamu" tanya aldy sambil mengulurkan handphone nya kepada ira.
Ira pun menerima handphone aldy dan mulai mengetik nomor whats*** nya, dan kemudian mengembalikan nya kembali kepada aldy.
"Makasih ra, saya pamit. Assalamualaikum".
"Walaikumsalam kak, kalau udah sampai kabarin ira kak" ucap ira yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari aldy.