04. Racun Kata-kata

1115 Words
Udara pagi menusuk, disertai embusan angin tipis yang membawa aroma tanah basah dan bunga krisan. Langkah kaki tamu pemakaman yang meninggalkan tempat itu terdengar sayup, sementara Emily dan Ainsley berjalan sambil menunduk sedih menuju mobil. Tiba-tiba, dari ujung jalan setapak, seorang wanita berlari dengan air mata berlinang. Tangisnya histeris, suaranya pecah, “Anakku yang malang .…” Seketika, dia memeluk Emily erat. Kata-kata yang keluar dari bibirnya terdengar lembut dan penuh penghayatan, “Jangan takut lagi. Aku akan merawatmu, melindungimu, dan memberimu semua cinta yang seharusnya kau dapatkan sampai napasku berhenti!" Emily menatap wanita itu dengan campuran rasa takut dan bingung. Sementara di mata semua orang, ini terlihat seperti momen hangat, reunian keluarga. Bibi memotong, suaranya hati-hati, “Nyonya Belinda ... saya tak tahu Anda akan datang." Belinda menatapnya dengan tajam tanpa melepas pelukan. “Tentu saja aku datang. Kau pikir aku siapa? Bukan bagian dari keluarga ini?” “B-bukan begitu ...," jawab Bibi dengan ragu. Belinda melepas pelukan, berdiri tegak dengan sikap dramatis, menatap sekeliling. Beberapa tamu pemakaman menoleh, penasaran dengan adegan yang mencuri perhatian itu. Dia menghapus air mata dengan gerakan lambat, seperti ingin menegaskan kesedihan yang ‘murni' di balik senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya. Ainsley memperhatikan semua itu. Sesuatu terasa salah. Segala kata-kata manis Belinda terdengar indah bagi telinga orang lain, tapi baginya, nada itu terasa seperti sesuatu yang dipentaskan. Minggu pertama berlalu dalam kabut duka. Rumah terasa sepi, tapi sedikit demi sedikit, mereka mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas baru. Belinda tampak ramah, tapi Ainsley tetap curiga. Keputusan Belinda memecat bibi yang telah merawat Emily sejak kecil membuat rumah terasa jauh lebih dingin dan asing. Belinda mulai mengatur segalanya—sarapan, pakaian, mainan—dengan kontrol halus, menjaga Emily dekat dengannya, dan perlahan memisahkannya dari Ainsley. Suatu siang, Emily tanpa sengaja menarik mainan dari tangan Ainsley terlalu kuat. Ainsley menahan diri, tapi wajahnya merah. Emily tersadar, mundur, lalu tanpa sepatah kata berlari meninggalkan Ainsley. Sepanjang hari, mereka tak bicara. Saat malam mulai menyelimuti rumah, Emily dan Ainsley bersiap untuk tidur. Belinda mengantar mereka ke kamar, lalu menutup pintu dengan suara klik yang cukup membuat ruangan terasa lebih hening. Ainsley terdiam sesaat di tempat tidurnya. Hanya terdengar detak jarum jam yang terasa lambat. Kemudian, dia menatap arah ranjang Emily. Dengan suara pelan, dia berkata, “Kau … sudah tidur?” Emily berbalik dari posisi tidurnya yang membelakangi Ainsley. Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar sejenak, sebelum berkata lirih, “Maafkan aku … aku bersikap buruk padamu hari ini.” Ainsley mengangguk pelan, sedikit lega. Sebuah senyum tipis muncul di wajahnya. "Tak apa. Kau tak sengaja, kan?" Emily memegang erat selimutnya, suaranya penuh rasa bersalah, “Tapi … kalau Ayah dan Ibu melihat, mereka pasti membenciku.” Kata-kata itu menghantam d**a Ainsley. Dia bangkit dari ranjangnya, lalu melangkah perlahan ke sisi Emily. Dengan hati-hati, dia meletakkan tangannya di bahu gadis itu. “Hey,” bisiknya lembut, “Ayah dan Ibu takkan pernah membencimu hanya karena merebut mainan. Mereka mencintaimu.” Emily akhirnya tak bisa menahan tangisnya, bahunya terguncang. "Tapi—!" Brak! Pintu kamar terbuka mendadak, diikuti suara Belinda yang diliputi amarah. “Kalian belum juga tidur? Dan kau berani membuat Emily menangis?!” Ainsley terlonjak, matanya melebar. Sebelum sempat bereaksi, pergelangan tangannya dicengkeram dengan keras. “Dasar anak tak tahu terima kasih! Kemari kau!” Ainsley menjerit pelan ketika tubuh mungilnya diseret, membuat Emily panik dan segera bangkit untuk meraih tangan adiknya. “Bibi Bel! Tolong jangan sakiti Leyley, dia adikku!” Belinda terhenti sejenak, lalu menoleh perlahan. Senyum miring melengkung di bibirnya. “Dia bukan adikmu. Sejak dia tinggal di sini, kesialan menimpa keluargamu. Orang tuamu meninggal karena dia!" Ainsley terperangah. “Tidak, Emily! Dia berbohong padamu!" “DIAM!” bentak Belinda. Ainsley membeku, tubuhnya ditarik lebih kencang. “Kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal!” Wajah Emily memucat, matanya bergetar tak percaya. Kata-kata itu menusuk hatinya, merobek keyakinan yang selama ini dia pegang. Bagaimana jika itu benar? Pikiran itu muncul tanpa bisa dia cegah. Sebelumnya, hidupnya terasa lengkap—ayah dan ibu selalu ada, rumah penuh tawa. Namun, sejak Ainsley hadir, segalanya berubah. Satu demi satu kebahagiaan mereka seperti pudar. Dan sekarang ... kedua orang tuanya tiada. Jantung Emily berdegup keras, matanya memandang Ainsley yang meronta dengan panik. Sebagian dirinya ingin berlari memeluk gadis kecil itu, tapi bayangan kata-kata Belinda menahan langkahnya. Apakah semua ini karena dia? bisiknya dalam hati, perasaan takut dan bimbang bercampur menjadi satu. Ainsley terus meronta sekuat tenaga, tumitnya menghantam lantai. Air matanya mulai bercucuran, menoleh ke arah Emily yang masih terpaku di sisi ranjang. “Emily! Tolong aku! Milmiiiiiiil!” Suara tangisan dan rintihan Ainsley masih bergema di lorong, menyisakan Emily yang terpaku dalam kegelapan kamar. Rasa takut mencekam, tapi di balik itu, tekadnya mulai muncul. Dia tahu Ainsley tak bersalah—mereka sedang bermain bersama saat Bibi memberi tahu kabar buruk yang menimpa orang tua mereka. Kebahagiaan mereka tak memudar sejak Ainsley hadir. Justru sebaliknya, rumah terasa lebih ramai dengan tawa baru, ayah sering menggendong Ainsley tinggi-tinggi, ibu selalu tersenyum melihat mereka berlari bersama di taman. Emily ingat bagaimana dia menggandeng tangan kecil itu, bersumpah dalam hati untuk selalu menjaganya. Air mata menggenang di pelupuk mata Emily. Tidak. Ainsley bukan penyebab semua ini. Dia adalah bagian dari keluarganya. Dengan langkah goyah tapi mantap, Emily melangkah keluar kamar. Setiap langkahnya, setiap napasnya, dia menimbang apa yang bisa dia lakukan. “Bagaimana aku bisa menyelamatkanmu … Leyley?” bisiknya lirih pada diri sendiri. Lorong terasa dingin dan panjang saat Belinda menyeret Ainsley. Gadis kecil itu menjerit, mencoba melepaskan diri, tapi tangannya dicengkeram terlalu kuat. Emily mengikuti di belakang mereka dengan langkah cepat. “Lepaskan dia!” Belinda menoleh sebentar, matanya menyipit. “Diam, anak bodoh!” Emily mempercepat langkah, berusaha meraih tangan Ainsley, menahan tubuh adiknya agar tak terseret terlalu jauh. “Tolong jangan sakiti Leyley! Kalau mau menghukumnya, maka hukum aku saja!" Belinda berhenti melangkah, ekspresinya berubah menjadi dingin. “Berani kau melawanku?” Dengan satu pukulan keras, dia menampar Ainsley. Ainsley terhuyung, terduduk di lantai, air matanya tumpah tak terbendung. Emily panik, berlutut di sisi adiknya. “Leyley!” Tapi sebelum dia sempat menolong lebih jauh, Belinda menampar Emily juga dengan keras. Gadis itu tersentak, jatuh ke lantai, tapi tetap menggenggam tangan Ainsley. Belinda menatap mereka berdua, napasnya terengah. "Dasar, anak-anak nakal!" Emily segera menarik tangan Ainsley dan berlari menuju kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka. Keduanya terengah, tubuh kecil mereka berdesakan di sudut lantai dingin. Emily menoleh ke Ainsley. “Kita harus keluar dari sini … tapi kita harus tetap bersama, Leyley. Aku janji.” Ainsley mengangguk, bibirnya gemetar, masih terisak. Mereka berdua menunggu Belinda pergi, sementara pikiran Emily sudah mulai mencari cara untuk melindungi mereka berdua dari cengkeraman wanita jahat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD