Belinda menghantam pintu kamar mandi berkali-kali, setiap gedoran bergema keras hingga membuat gagang pintu bergetar.
“Keluar kau, dasar anak sialan! Jangan paksa aku menghancurkan pintu ini!” suaranya parau, tercekik amarah.
Emily menempelkan punggungnya ke dinding, tubuhnya gemetar tapi matanya tak mau lepas dari wajah pucat adiknya. Ainsley sudah tersedu, mulutnya ditutup rapat oleh tangannya sendiri agar isak tak meledak.
“Keluar!!” Bentakan terakhir itu diiringi dentuman keras. Lalu—hening.
Beberapa detik kemudian, suara bel rumah memecah keheningan. Ting-tong! Ting-tong!
Belinda berdecak kasar. “Sial.” Tumit sepatunya mengetuk lantai dengan tergesa, langkahnya menjauh dari pintu kamar mandi. “Jangan kira kalian selamat ...,” gumamnya lirih.
Tak lama, engsel pintu depan berdecit. “Akhirnya .…” suara Belinda berubah drastis, hangat, bahkan renyah.
Seorang pria berdiri di ambang pintu. Rambutnya disisir licin dengan minyak, kumis tipis melengkung di atas bibirnya. Pakaiannya tampak rapi, tapi ada kesan murahan, seperti seseorang yang terlalu sibuk menikmati dunia untuk peduli soal kesan yang dia tinggalkan.
Belinda menyambutnya dengan sorot mata yang berbinar. “Sayang …,” suaranya nyaris mendesah. Tanpa ragu, lengannya melingkari leher pria itu, menempel begitu dekat. Bibir mereka bersentuhan dalam ciuman yang sarat gairah.
Namun, pria itu lebih cepat menarik diri. Senyumannya tipis, agak hambar. Dia melirik ke dalam rumah sebelum bertanya, "Anak-anak itu di mana?”
Belinda mengangkat bahu, senyum sinis menghiasi wajahnya. “Di kamar mandi. Baru saja membuat sedikit keributan. Tapi jangan khawatir, aku sudah memberikan pelajaran yang cukup keras.”
“Pelajaran?” Pria itu mencondongkan tubuh, tatapannya tajam, curiga. “Kau menyakiti mereka?”
Belinda mendengus, matanya tertuju pada telapak tangannya sendiri. Ujung jarinya mengusap telapak tangannya yang masih terasa hangat, bekas dari tamparan keras pada pipi mungil dua anak tadi. “Hanya pelajaran kecil," katanya datar. "Mereka hanya anak-anak bodoh yang perlu diingatkan siapa yang berkuasa.”
Pria itu menghela napas. “Kau harus berhati-hati. Jangan sampai rencana kita terganggu. Kau tahu, warisan adikmu belum sepenuhnya jatuh ke tangan kita.”
Belinda mendongak, matanya menyipit, lalu tersenyum tipis penuh percaya diri. “Tenang saja. Mereka terlalu lemah untuk menentangku. Orang-orang juga begitu mudah percaya padaku. Mereka pikir aku malaikat penolong." Dia menyeringai. "Semuanya ada dalam kendaliku. Termasuk dua anak itu. Mereka bahkan tak sadar mereka sedang dijadikan pion.”
Pria itu memiringkan kepala, setengah mengejek, setengah memperingatkan. “Tetap saja … kau harus berhati‑hati.”
Belinda mendengus sambil memutar mata. “Oh, sudahlah. Suasana hatiku sedang buruk. Jangan menambahnya dengan ceramahmu.”
Pria itu menyeringai, lalu menepuk lembut bahunya, sebelum meremas dengan maksud yang jelas. “Aku tahu cara memperbaikinya.”
Alis Belinda terangkat, senyum nakal muncul di bibirnya. “Oh ya? Bagaimana? Coba jelaskan.”
Pria itu menegakkan badan, penuh percaya diri. “Pertama, kita pergi dari sini dulu. Aku sudah reservasi tempat paling hits di kota. Dinner spesial, hanya untuk kita berdua.”
Belinda menutup mulutnya dengan tangan, pura-pura terkejut. “Astaga … kau romantis sekali! Benar-benar pria idaman,” katanya sambil menepuk ringan lengan pria itu, tawa genit mengalir dari bibirnya.
Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Belinda, menariknya mendekat. Mereka berjalan bersama menuju mobil, langkah kaki dan tawa genit mereka menyatu, lalu suara deru mesin mobil menghilang, tenggelam di halaman rumah yang sunyi.
Di kamar mandi, Emily dan Ainsley masih meringkuk di sudut, tubuh mereka gemetar.
“Dia … sudah pergi?” bisik Ainsley, suaranya nyaris tersedak.
Emily menajamkan pendengarannya, lalu mengangguk pelan. “Sepertinya … iya.”
Dengan hati-hati, Emily memutar kenop pintu kamar mandi. Bunyi berderit kecil membuat mereka berdua terlonjak, tapi tak ada yang datang. Mereka mengintip keluar, suasana rumah terasa sunyi.
Emily menggenggam tangan Ainsley erat-erat. “Ini kesempatan kita, ayo cepat!”
Dengan langkah hati-hati, Emily dan Ainsley menelusuri lorong. Rumah itu terasa lebih besar dari biasanya, dindingnya dingin, seakan ikut mengawasi mereka. Setiap pintu menuju halaman terkunci rapat, Belinda memang selalu memastikan tak ada celah bagi mereka untuk keluar.
Ainsley menelan ludah, rasa putus asa mulai merayap. “Semua terkunci, kita tak bisa keluar.”
“Harus ada jalan … pasti ada …," ucap Emily, menatap sekeliling.
Mereka menyusuri dapur. Di dekat wastafel, sebuah jendela kecil tampak cukup muat untuk tubuh mungil mereka.
Ainsley melangkah pertama, hati-hati menapaki kursi yang digeser. Jendela perlahan didorong, angin malam langsung menerobos masuk.
Emily menggenggam lengan Ainsley. “Cepat … tapi hati-hati,” bisiknya, matanya menatap gelap di luar jendela.
Satu per satu, tubuh mereka menembus celah itu. Kaki kecil Ainsley menyentuh tanah dengan gemetar, diikuti Emily yang menekuk lutut agar bisa melewati jendela.
Kini mereka berdiri di halaman belakang, jantung berdegup kencang, tubuh masih gemetar, tapi mata mereka berbinar dengan rasa lega.
“Luar biasa … kita berhasil,” bisik Ainsley, napasnya berat.
Emily menoleh sejenak ke jendela yang baru saja mereka tinggalkan, menelan ludah. “Sekarang … kita harus pergi sebelum Bibi Bel kembali, Leyley.”
Ainsley mengangguk, tubuhnya sudah siap melangkah, tapi langkah itu terhenti. Dia menoleh ke Emily, ragu.
“Tapi … ke mana kita akan pergi?” suaranya pelan.
Emily menggigit bibir, menatap rumah yang akan mereka tinggalkan. Semua kenangan, semua kasih sayang dari orang tuanya ada di sana. “Aku … aku tak tahu persis,” jawabnya lirih. “Yang pasti … kita harus menjauh dari sini. Jauh dari Bibi Bel."
Ainsley mengangguk pelan, tangannya menggenggam erat tangan Emily. Mereka melangkah ke kegelapan malam, tanpa tahu apa yang akan menanti di ujung jalan.
Angin malam Sydney menusuk kulit, lampu jalan yang jarang membuat bayangan mereka tampak panjang. Akhirnya mereka menemukan perlindungan di balik perosotan tua di taman. Tubuh mereka saling berpelukan, berusaha menahan dingin. Lama-kelamaan, rasa lelah menguasai dan mata mereka mulai terpejam.
Pagi berikutnya, sinar matahari menembus celah-celah pepohonan, menari di atas embun yang menutupi rerumputan. Udara pagi yang sejuk membawa ketenangan, kontras dengan ketegangan malam sebelumnya. Ainsley dan Emily masih saling berpelukan, tubuh mereka hangat dalam dekapan satu sama lain.
“Ayo, olahraga ringan dulu di taman sebelum kita ke sekolah,” ucap seorang wanita, tampak menggandeng seorang anak laki-laki.
Suara itu cukup untuk membangunkan Emily. Matanya terbuka lebar, napasnya tersentak. Tanpa berkata apa-apa, dia segera mengguncang Ainsley. Keduanya menahan gemetar, menekuk tubuh agar lebih tersembunyi, berharap sosok yang ada di luar sana tak melihat mereka.
Mata mereka menelusuri setiap gerakan di taman. Suara tertawa, dedaunan yang bergesekan oleh angin pagi, dan langkah kaki wanita yang mendekat membuat hati mereka berdebar kencang. Emily menggenggam tangan Ainsley lebih erat, mencoba menyalurkan keberanian yang masih tipis.
“Kalian … kenapa di sini?”
Suara itu membuat keduanya menatap cepat, mata membulat kaget. Wajah yang familiar muncul—Bibi Irene, wanita yang dulu merawat mereka sebelum dipecat—kini berdiri di depan mereka.
“Ainsley? Emily …?” Irene menutup mulutnya, terkejut, lalu menunduk dan meraih tangan mereka dengan hati-hati. “Ayo, biarkan aku memeluk kalian. Bibi sangat merindukan kalian,” ucapnya, suara gemetar, mata berkaca-kaca.
Hening sejenak menyelimuti taman. Irene mengingat bagaimana dia dulu harus meninggalkan anak-anak ini tanpa bisa melindungi mereka. Sebagai orang luar, dia tak bisa berbuat banyak saat Belinda berkuasa, yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa dan berharap kebaikan menyertai mereka.
Mendengar kisah Ainsley dan Emily, kemarahan dan rasa bersalah Irene membuncah. Sejak saat itu, dia bertekad memberi mereka perlindungan. Untuk menghindari jejak dan ancaman Belinda, Irene keluar dari pekerjaannya, membawa kedua anak majikan lamanya, dan mulai hidup berpindah-pindah hingga mereka cukup dewasa.