06. Kembali ke Titik Awal

1174 Words
Enam belas tahun kemudian ... Suasana makan malam terasa biasa saja—roti hangat, sup di mangkuk, dan suara sendok yang beradu pelan. Tapi percakapan kali ini berbeda. “Aku sudah memikirkan satu hal,” Irene membuka suara sambil menyeka mulutnya dengan serbet. “Kita perlu merencanakan kepindahan berikutnya. Tempat yang lebih aman. Kalian setuju?” Emily dan Ainsley saling bertatapan. Mata mereka bicara banyak, lelah berpindah-pindah, lelah hidup di bayang-bayang. Emily akhirnya menaruh roti yang masih setengah termakan, menarik napas panjang. Ada sesuatu yang sudah lama dia simpan, sesuatu yang menekan dadanya setiap kali dia mengingat kota kelahirannya. “Baiklah … tapi kali ini aku yang memilih tempatnya.” Irene mengangkat alis. “Oh?” Kini justru Irene dan Ainsley yang saling berpandangan. “Kau sudah memikirkannya rupanya,” kata Irene datar. “Baiklah, beri tahu pada kami.” Emily merasa tenggorokannya kering. Dia meneguk air lebih dulu, lalu akhirnya berkata, “S–Sydney ...." Seketika wajah Irene berubah. “Apa?” Dia bangkit, kursi berderit keras di lantai. “Kau ingin kita kembali ke sana? Setelah apa yang kalian alami?” “Bibi … dengarkan aku dulu ….” Emily berdiri, menyentuh tangan Irene yang menekan meja. “Tidak!” Irene menatapnya tajam. “Itu gila! Sangat berbahaya! Bagaimana kau bisa berpikir untuk kembali, Emily? Kau tak memikirkan adikmu?” Emily menoleh ke Ainsley. Adiknya terdiam kaku di kursi, wajahnya sulit dibaca. Ainsley akhirnya menggaruk kepalanya canggung. “Sebenarnya … aku juga merindukan Sydney.” Irene terperangah. “Kau juga setuju dengan kakakmu, Ainsley? Kalian berdua benar-benar … anak-anak nakal! Aku tak tahu apa yang kalian pikirkan.” Emily tersenyum tipis, lalu memeluk Irene. “Oh, ayolah Bibi … kau tahu kami selalu menuruti perkataanmu selama ini.” Irene mendengus. “Menuruti? Bagian mana? Kalian bahkan sering tetap terjaga di tengah malam hanya untuk menonton televisi!” Emily terkekeh kecil. “Ya … karena acara dewasa selalu tayang tengah malam, Bibi.” Irene menatap ke langit-langit dengan wajah putus asa. “Oh Tuhan … anak-anak ini, selalu saja membuatku pusing.” Emily memeluknya lebih erat. “Tapi Bibi menyayangi anak-anak ini, kan?” Tatapan Irene melunak, berganti hangat. “Tentu saja … Bibi sangat menyayangi kalian.” Ainsley mendesah dramatis, berdiri dari kursinya. “Astaga … aku tak tahan dengan adegan penuh air mata begini.” Dia akhirnya ikut merangkul keduanya, masuk dalam pelukan itu. Tawa kecil pecah di meja makan sederhana itu. Sejenak, dunia terasa aman. Namun tak ada yang tahu, keputusan malam itu akan mengubah segalanya. *** Sydney. Kota yang dulu mereka tinggalkan kini kembali jadi latar hidup mereka. Jalanan sibuk, gedung-gedung menjulang, dan hiruk pikuk metropolitan yang tak pernah tidur. Emily merapatkan coat hitamnya sambil menatap bayangan tinggi gedung kaca. Ainsley berjalan di sisinya, sudah tak lagi anak kecil yang rapuh, sementara Irene … tetap dengan sikap protektifnya, meski usia mulai menorehkan garis di wajahnya. “Apakah kita … langsung mencari penginapan?” Ainsley bertanya. “Iya,” jawab Emily cepat. “Aku sudah mencari referensi … ada sebuah tempat yang cukup murah di dekat stasiun.” Mereka berjalan melewati gang sempit yang sunyi, kontras dengan hiruk pikuk jalan utama. Di ujung gang itu, berdiri sebuah bangunan tua bercat putih kusam. Jendelanya sempit, tirainya setengah tertutup, dan sebuah lonceng kecil tergantung di pintu kaca depan. Saat pintu didorong, bunyi lonceng berdenting, menyambut mereka dengan aroma karpet lembap bercampur kayu tua. Seorang perempuan tua di balik meja resepsionis menatap mereka sekilas dari balik kacamatanya, lalu tersenyum tipis. “Selamat datang. Mau menginap berapa malam?” suaranya serak, tapi ramah. Emily melirik Irene, lalu menjawab, “Untuk sementara … tiga malam.” Kunci kamar diberikan, dengan gantungan kayu yang usang. Mereka menapaki tangga kayu yang berderit, sampai ke lantai dua yang lorongnya remang, hanya diterangi lampu bohlam kuning. Kamar yang mereka masuki sederhana—dua ranjang kecil, satu sofa tua, meja kayu, dan jendela yang menghadap jalan sepi di bawah. Tirai putihnya berkibar perlahan, menyusupkan udara kota bercampur bau garam laut dari kejauhan. Ainsley langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang terdekat. “Akhirnya … tempat tidur.” Emily meletakkan koper, menghela napas panjang, menatap jendela. Ada perasaan aneh yang menyeruak—antara lega karena akhirnya kembali ke Sydney, dan gugup karena mereka tahu kota ini bukan sekadar tempat biasa. Irene duduk di sofa reyot, melepas syalnya dengan gerakan lelah. Tatapannya tajam pada dua gadis di depannya. “Kita di sini … tapi jangan lengah. Sydney bukan tempat ramah untuk kita, ingat itu.” Emily menelan ludah. Dia berjalan pelan ke jendela, menutupnya rapat hingga suara jalanan siang itu meredam. “Aku tahu, Bibi. Kami akan berhati-hati.” Tatapannya singgah ke Ainsley, yang hanya mengangguk tipis tanpa suara. Hening sejenak, hanya suara kipas angin tua berputar lambat di langit-langit. Mereka bertiga menatap ke atas dan menghela napas. “Kita harus segera mencari tempat tinggal yang bisa ditinggali lebih lama,” kata Irene akhirnya. Emily menoleh. Ada ketegangan di wajahnya, bercampur dengan tekad. “Tak perlu, Bibi. Sebenarnya … ada alasan lain kenapa aku kembali ke Sydney.” Alis Irene terangkat. “Kupikir kau hanya merindukan kota kelahiranmu. Lalu, apa alasannya?” Emily menunduk, suaranya bergetar tapi tegas. “Aku … akan bertunangan.” Irene dan Ainsley serentak membelalak. “Apa?!” suara mereka bersamaan, memantul di dinding sempit penginapan. Ainsley bangkit dari ranjang. “Kau tak serius, kan?" Emily mengangkat wajahnya. “Aku serius." Ainsley menepuk jidat dengan keras. “Dan kau baru memberi tahu hal sepenting ini sekarang?" Emily menghela napas berat. “Aku hanya tak ingin membuat keadaan makin rumit … karena itu aku menahannya.” “Menahannya?!” Ainsley hampir tertawa getir. “Justru ini yang paling rumit dari semuanya!” Irene menekan emosi dengan susah payah. “Siapa dia? Apa seorang pria dari Sydney?” Emily terdiam sepersekian detik, jelas tak menduga pertanyaan itu. Akhirnya dia mengangguk pelan. “Ya … dia bosku.” Ruangan itu kembali hening. Hanya suara kipas angin tua yang berdecit, seakan ikut menertawakan rahasia besar yang baru saja pecah. Ainsley menatap Emily dengan sorot mata yang tak bisa diartikan. “Bosmu?" Emily tak sanggup menatap balik. Tangannya meremas ujung bajunya sendiri, wajahnya memanas. Irene menghela napas berat, lalu bersandar ke sofa. “Astaga, Emily … seharusnya kau mengatakan ini sejak awal agar tak ada yang merasa dikhianati." Ainsley menggeleng cepat. “Aku tak merestui kalian." Bukan hanya Emily, Irene juga terkejut. "Kau tak setuju?" kata mereka serempak dan bingung. Ainsley menatap dengan penuh keyakinan. "Aku harus melihat seperti apa pria itu lebih dulu, dan memastikan bahwa dia tak sama dengan Bibi Bel." Kata itu membuat udara kamar seolah berhenti bergerak. Irene menatap Ainsley, lalu kembali menoleh ke Emily, menunggu jawaban. Emily menelan ludah, suaranya rendah tapi mantap. “Aku mengerti kekhawatiranmu, tapi dia bukan Bibi Bel." Dia justru satu-satunya jalan keluar yang kupunya, pikir Emily dalam hati. Di luar jendela, suara kota terus bergemuruh diwarnai dengan decit kipas angin yang terus berputar. Emily memejamkan mata, tapi pikirannya tetap mempertanyakan apa benar ini jalan keluar … atau hanya awal dari sesuatu yang lebih besar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD