Ainsley berdiri di depan sebuah restoran modern dengan papan nama yang dulu hanya dia lihat lewat layar ponsel. Kini, bukan sekadar gambar di internet, dia benar-benar ada di sini, dipanggil untuk sebuah wawancara kerja.
Berbeda dengan Emily yang menapaki jalur lebih cerah, dia harus puas dengan kesempatan kecil semacam ini. Irene hanya sanggup membiayai satu anak ke bangku perkuliahan, dan pilihan itu jatuh pada Emily. Ainsley menerima nasibnya, memilih bekerja sebagai pelayan toko atau restoran. Baginya, kehidupan sederhana ini sudah lebih dari cukup. Dia tak berani bermimpi terlalu jauh.
Ainsley menarik napas panjang sebelum mendorong pintu kaca restoran itu. Dia melangkah pelan ke arah meja resepsionis, di mana beberapa orang sebaya dengannya sudah duduk, tampak memiliki tujuan yang sama sepertinya.
“Silakan isi formulir ini, lalu tunggu giliran,” ucap seorang staf ramah sambil menyerahkan kertas dan pulpen.
Tangan Ainsley sedikit gemetar saat menuliskan nama dan nomor teleponnya. Dia melirik ke sekitar, ada kandidat dengan jas rapi, ada pula yang tampak sangat percaya diri. Dibanding mereka, dia merasa penampilannya biasa saja, kemeja sederhana yang disetrika sekenanya dan sepatu hitam yang sudah agak pudar.
Tak lama, satu per satu nama dipanggil. Ketika gilirannya tiba, Ainsley berdiri kaku dan berusaha menahan degup jantung. Dia masuk ke sebuah ruangan kecil di mana seorang wanita berpenampilan formal menunggunya, sepertinya manajer restoran itu.
“Baik, Ainsley. Ceritakan sedikit tentang dirimu dan pengalaman kerjamu sebelumnya,” kata wanita itu sambil menatap lembar CV tipis di tangannya.
Dengan suara sedikit bergetar, Ainsley menjawab sejujur-jujurnya. Tentang pekerjaannya di sebuah toko kecil, keterampilannya melayani pelanggan, hingga kesanggupannya bekerja dengan jam panjang. Sesekali dia merasa kata-katanya tersendat, tapi dia tetap berusaha menampilkan senyumannya.
Wawancara berlangsung singkat, hanya beberapa pertanyaan standar. Setelah semua kandidat selesai, manajer berdiri dan menatap mereka yang duduk menunggu.
“Terima kasih sudah datang hari ini. Kami akan melakukan evaluasi, dan hasilnya akan kami kirimkan melalui email besok. Jadi, mohon pantau email kalian.”
Beberapa peserta mengangguk mantap, ada yang tampak kecewa, sementara Ainsley sekadar menunduk lega. Dia melangkah keluar restoran dengan napas berat, langkahnya tak buru-buru karena perhatiannya tertuju pada isi restoran.
Eden Table memang seperti yang dibicarakan orang-orang. Interior kayu gelap dipadukan lampu gantung kristal, aroma roti panggang dan daging steak bercampur harum wine, serta denting gelas yang terdengar halus dari arah bar. Staf berlalu-lalang cepat, tapi tetap sopan, seakan setiap gerakan sudah dilatih.
Ainsley sempat terpesona, lalu segera mengingat posisinya. Jika benar dia diterima, maka tempat penuh gengsi ini akan jadi dunia barunya. Dunia yang, entah kenapa, justru membuat perutnya mulas.
“Bos sedang dalam perjalanan ke mari. Semua diharap bersiap!” teriak manajer dari ujung ruangan.
Staf langsung bergerak lincah. Ainsley mengerutkan dahi. Bos? Kata itu langsung memicu alarm di kepalanya. Dia menunduk, langkahnya makin cepat. Tidak, jangan sampai mereka bertemu!
“Sialan, sialan, sialan ...,” gumamnya panik sambil mendorong pintu keluar.
Nyaris saja bahunya menabrak seorang pria yang baru akan masuk. Namun Ainsley tak menoleh, hanya kabur begitu saja.
Pria itu berhenti sebentar, menatap punggung perempuan yang seperti dikejar setan. Bibirnya terangkat tipis, geli sendiri.
“Oh, Bos sudah datang!” seru manajer penuh semangat. “Selamat datang, Sir Lewis. Bagaimana perjalanan dari Prancis?” lanjutnya.
Lewis mengangguk santai. “Menyenangkan.”
“Senang mendengarnya. Ah, soal wawancara … semua sudah selesai. Apakah Anda ingin meninjau hasilnya?”
Lewis menyipitkan mata, menatap manajer itu. “Kurasa kau tak perlu terlalu formal, Lexa Hart. Itu membuatku malas kembali ke restoran.”
Lexa terdiam sejenak, lalu menyeringai lebar. “Kalau begitu, kopi atau beer?” katanya sambil merangkul bahu sang bos dengan akrab. Beberapa pelanggan sampai menoleh heran, sedangkan staf hanya melanjutkan pekerjaan tanpa terganggu karena mereka sudah biasa dengan tingkah Lexa.
Lewis menghela napas kecil, menepis rangkulan itu dengan elegan. “Tolong bawakan aku sesuatu yang manis. Aku akan meninjau hasil wawancara.”
“Bos kita sepertinya tak dalam suasana hati yang baik,” gumam Lexa, setengah bercanda.
Lewis tak menanggapi, hanya melangkah melewati lorong hingga tiba di ruangannya. Kursi kulit hitam itu menunggu, masih sama persis seperti setahun lalu. Begitu dia duduk, gesekan kulit kursi dengan mantelnya menimbulkan bunyi pelan, dan sekaligus menyeretnya pada kenangan yang tak nyaman.
Tangannya bergerak pada tumpukan map baru di meja, berkas para pelamar. Satu per satu dia buka, matanya membaca, menilai, lalu menutup tanpa banyak reaksi.
Hingga sebuah nama menghentikan gerakan tangannya.
Ainsley Sterling.
Lewis terdiam. Jemarinya masih menempel di kertas itu. Matanya menyipit, seperti menimbang sesuatu. “Jadi … dia melamar pekerjaan di sini,” ucapnya akhirnya.
***
Ainsley selalu merasa waswas setiap kali harus berhadapan dengan atasannya. Sejak pengalaman buruk di masa lalu, dia lebih memilih menghindari pertemuan semacam itu. Di panti tempat dia dibesarkan, anak-anak percaya bahwa mengucapkan kata sialan tiga kali bisa menolak kesialan, dan anehnya, itu sering terbukti.
Dia menenggak isi kaleng soda di genggamannya, lalu meringis saat rasa karbonasi memenuhi mulut. “Ah, nikmatnya,” gumamnya.
Jarum arloji menunjukkan waktu makan siang. Dia mempercepat langkah. Hari ini bukan hanya ada wawancara kerja, tapi juga pertemuan keluarga tunangan Emily.
Ingatan percakapan mereka beberapa hari lalu kembali menekan dadanya. Emily akan bertunangan. Pikiran itu saja membuat Ainsley resah. Bukan hanya soal keamanan kakaknya, tapi juga tentang bagaimana rasanya kehilangan sosok yang selalu ada di sisinya. Bagaimana dia akan menghadapi hari-hari tanpa Emily?
Dia menarik napas panjang, kakinya terus melangkah. Saat akan mengangkat pandangan, tubuhnya menabrak seseorang. Kaleng di tangannya terguncang hebat, menyemburkan cairan ke pakaian orang itu. Dia langsung membeku, menatap jejak basah yang m*****i kain sebelum akhirnya kedua mata mereka saling bertemu.
Seorang pria tinggi dengan setelan rapi, yang sekarang terlihat seperti iklan minuman bersoda gagal tayang, menatapnya lekat-lekat.
"... Uh-oh.” Ainsley mengedip, lalu tanpa sadar bergumam, “Tiga kali sialan masih kurang, ternyata.”
Pria itu menaikkan alis. “Bukankah seharusnya kau minta maaf?”
Tangan Ainsley yang menggenggam kaleng minuman bergerak salah tingkah. “Oh, maaf, aku akan segera membersihkannya." Dia buru-buru mengusap noda itu dengan tangannya.
“Jauhkan tangan kotormu itu dariku.”
Ainsley langsung berhenti, menatapnya tak percaya, lalu tertawa getir. “Wah, kau memang …” matanya menyapu pria itu dari atas ke bawah, sedikit waswas dengan siapa yang baru saja ditabraknya. “… terlihat kaya, tapi bukan berarti bisa semena-mena menghinaku. Aku hanya berusaha membantumu, tahu.”
Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. “Tanganku ini juga terlalu berharga untuk menyentuh pakaianmu. Ini limited edition, langsung diberikan Tuhan! Beraninya kau meremehkannya!” teriaknya, meledak-ledak.
Beberapa orang di sekitar menoleh. Ainsley segera menyadari dirinya sudah bersandiwara kelewat jauh. Dia menurunkan tangannya dengan super dramatis, menghela napas panjang. “Sudahlah. Orang sepertimu memang takkan mengerti nilai original seperti ini," lanjutnya, lalu melangkah pergi.
Pria itu hanya berdiam diri di tempat yang sama, hanya tatapan matanya yang bergerak mengikuti setiap langkah wanita itu sampai menghilang di dalam restoran.
Lalu, perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan tawa lepas, melainkan senyum samar yang entah menghina, entah menahan geli. “Kuharap tak memiliki adik ipar sepertinya,” gumamnya singkat, sebelum melangkah keluar dengan tenang.