08. Hari Pertama

1596 Words
Begitu memasuki restoran, Ainsley langsung berpapasan dengan dua wajah yang tak asing—Emily dan Irene. Keduanya menatapnya seperti hakim yang sudah siap menjatuhkan vonis. “Lihat siapa yang akhirnya muncul,” ucap Irene datar, menyilangkan tangan di d**a. Ainsley tersenyum kikuk, berusaha menstabilkan napas. “Maaf, wawancaranya agak lama." Emily menghela napas panjang, suaranya terdengar campuran antara lega dan kesal. “Acara ini penting, Leyley. Keluarga Zack sudah pulang … begitu juga dia, beberapa menit lalu.” Ainsley menatap kakaknya, wajahnya menegang. “Tunggu. Maksudmu … acaranya sudah selesai?” Emily mengangguk pelan, lalu memperlihatkan cincin di jarinya. “Kami sudah bertunangan.” Ainsley menatap cincin itu dengan mulut setengah terbuka. “Kau bertunangan tanpa aku?!” Emily menatapnya pasrah. “Kami tak punya pilihan. Zack dan keluarganya sibuk, dan kami tak bisa menunggumu terus.” “Kau bahkan tak menunggu adikmu sendiri?” Ainsley mendengus kecil. Emily menatapnya lelah. “Kami sudah berusaha menghubungimu. Kau tahu itu, kan?” Ainsley menunduk, suaranya pelan. “Ponselku … mode silent.” “Itu salahmu,” ucap Emily cepat. “Yang penting, Bibi Irene sudah bertemu dengannya, dan juga menyetujui pertunangan ini.” Ainsley mendongak cepat. “Bibi … setuju?” Irene menegakkan punggungnya. “Ya, aku setuju. Zack pria yang sopan, berpendidikan, dan jelas mapan. Emily beruntung memilikinya.” Ainsley mengerutkan kening. “Mapan, sopan, dan manis di depan keluarga? Klasik, Bibi. Mungkin saja dia cuma memanfaatkan Milmil.” Emily menahan kesal. “Leyley, cukup. Aku tahu apa yang kulakukan.” “Kau pikir aku belum pernah lihat tipe pria seperti dia? Yang kelihatannya baik, tapi—” “Cukup,” potong Irene tegas. “Aku sudah menilai sendiri. Zack bukan seperti yang kau pikirkan.” Emily berjalan duluan keluar restoran tanpa menoleh, wajahnya tegang mendengar ucapan adiknya. Irene menyusulnya, sementara Ainsley masih bergumam sendiri penuh ketidakpuasan. “Entah kenapa aku yakin orang itu bermasalah,” desisnya sambil mengejar keduanya ke luar. Di trotoar, Emily mengangkat tangan memanggil taksi. “Kau bahkan belum mengenalnya cukup lama. Bagaimana kalau dia menyembunyikan sesuatu?” Ainsley masih tak rela. Taksi berhenti. Emily masuk lebih dulu, Irene menyusul, sementara Ainsley duduk di bangku belakang bersama sang bibi. Taksi melaju tak lama kemudian. “Ngomong-ngomong, bagaimana dengan wawancaranya? Lancar?” tanya Emily dari depan, mengalihkan topik. Ainsley menatap keluar jendela, suaranya datar. “Ya, seperti wawancara biasa. Mereka akan umumkan hasilnya lewat email besok.” “Semoga kau diterima,” ucap Irene dengan lembut. “Traktir aku pakai gaji pertamamu, ya!” seru Emily bersemangat. Ainsley bersandar ke kursi, tersenyum tipis. “Ya, kalau aku diterima.” “Sudah pasti,” jawab Emily cepat, menatap cincin di jarinya dengan senyum kecil. Ainsley hanya menatapnya sekilas. Melihat Emily tampak begitu bahagia, dia mulai bertanya-tanya, apakah kekhawatirannya memang berlebihan? Keesokan harinya, keraguan itu tenggelam bersama suara piring dan gelas yang beradu di dapur. Eden Table tak lagi terlihat semewah kemarin, kilau lampu gantungnya kini tertutup bayangan kerja keras di balik setiap meja. Ainsley mengenakan celemek baru berwarna krem, rambutnya digulung seadanya, dan tangannya cekatan menyeka meja yang baru saja ditinggalkan pelanggan. “Meja empat! Dua pasta carbonara, satu lemonade!” “Siap, siap!” Ainsley refleks menjawab, meraih nampan sebelum otaknya sempat memproses pesanan. Hari pertamanya sebagai pelayan ternyata tak seburuk yang dia kira, meski lelahnya bukan main. Di sela hiruk pikuk itu, pikirannya sesekali kembali ke cincin di jari Emily, serta nama yang belum juga bisa dia percaya: Zack. Saat jarum jam menunjuk ke pukul lima sore, riuh restoran perlahan mereda. Suara denting gelas dan piring masih terdengar, tapi tak seintens beberapa jam sebelumnya. Ainsley menghela napas panjang, bahunya pegal, rambutnya berantakan, dan kaus dalam seragamnya menempel lembap di kulit. Punggungnya seperti baru diinjak sepuluh pelanggan. Baru sehari kerja dan rasanya seperti sebulan penuh. “Restoran paling sibuk yang pernah kutemui,” gumamnya, lalu saat kesempatan istirahat tiba, dia mencari sudut kosong di dekat rak penyimpanan peralatan makan. Dia duduk di kursi kecil, menyandarkan kepala ke dinding. “Kenapa aku tak memilih jadi penjaga toko bunga saja ya,” keluhnya pelan, menatap langit-langit. Suara langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Ainsley tak langsung menoleh, dia pikir mungkin rekan kerja atau manajer yang akan menyuruhnya kembali bekerja. Tapi langkah itu berhenti tepat di depannya. “Lelah di hari pertama?” suara pria itu tenang, nada suaranya berat dan dalam. Seorang pria berdiri di sana. Rambut cokelat gelap yang disisir rapi, kemeja hitam lengan panjang yang digulung sampai siku. Ainsley terpaku beberapa detik, kemudian berusaha terdengar profesional. "Maaf, tempat ini tak bisa dimasuki pelanggan. Apa Anda pergi mencari kamar kecil dan tersesat? Biar saya bantu tunjukkan arahnya." Bukannya menyamai keseriusannya, pria itu tertawa dan membuat Ainsley bingung. "Sebaiknya Anda pergi dari sini sebelum situasi lebih rumit." "Baiklah, baiklah, aku akan pergi." Pria itu menyeka air mata di sudut matanya. "Tapi saat kita bertemu lagi untuk ketiga kalinya, kuharap aku tak membuatmu terkejut." Ainsley masih berusaha mencerna perkataan itu. Dia menggaruk pelipisnya bingung. Baginya ini adalah pertemuan pertama mereka. Sementara pria itu pergi, para staf yang melihatnya berjalan dari arah rak penyimpanan alat makanan memperhatikannya. Seorang staf berbisik ke rekannya, “Bos kita bicara dengan pegawai baru?” “Ya. Dan anehnya … dia terlihat senang.” Ainsley kembali dengan senyum cerahnya setiap kali pelanggan baru datang. Dia menulis pesanan, mengantarkan minuman, mengecek meja. Langit di luar jendela mulai memudar, warna birunya digantikan abu-abu mendung. Lampu-lampu jalan di seberang restoran menyala lebih awal. Ainsley menahan napas sejenak, melirik arloji di pergelangan tangannya. Hampir pukul lima sore. Lima belas menit lagi, dan dia bisa pulang. “Ayo, jangan sekarang …,” bisiknya, menatap awan yang kian berat. Satu pesanan lagi. Dia menuliskannya cepat di notes kecil. Saat mengangkat kepala, setetes air pertama jatuh di jendela kaca besar restoran. Satu, dua … lalu berubah jadi hujan deras. Begitu jam dinding menunjuk angka lima lebih sedikit, Ainsley akhirnya menarik napas lega. Dia berjalan menuju ruang staf, melewati lorong sempit di belakang dapur. Di dalam, dua orang pegawai baru sudah mengganti seragam mereka. Ainsley melepas celemek, menggantungnya di kait logam, lalu menatap pantulan dirinya di cermin kecil di pojok ruangan. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya merah dan hangat setelah berjam-jam mondar-mandir di ruang penuh pelanggan. Mereka berjalan keluar ruangan hampir bersamaan, lalu berpapasan dengan Lexa. Serentak, ketiganya menunduk sopan. “Kerja kalian hari ini bagus. Kuharap kalian tak kabur setelah hari ini,” ujar Lexa dengan senyum setengah menggoda. Mereka tertawa kecil, lega mendengar nada santai sang manajer. Lexa mengangguk singkat. “Setelah seminggu percobaan, kalian akan dapat shift reguler, sekitar enam jam per sesi, tergantung seberapa ramai restoran.” “Baik!” jawab mereka hampir bersamaan. Lexa tersenyum ramah. “Hati-hati di jalan. Dan jangan lupa, besok datang lima belas menit lebih awal. Kita ada briefing pagi.” Ainsley mengangguk sopan, lalu melangkah keluar bersama dua rekan barunya. Begitu pintu restoran terbuka, aroma hujan dan suara gemercik langsung menyergap. “Ainsley, kau bawa payung?” tanya salah satu dari mereka. “Tidak,” jawabnya, menggeleng sambil menatap payung di tangan rekannya tersebut. “Bagaimana ya, kami harus mampir ke tempat lain … arah kita juga berbeda,” kata gadis berambut pendek di sebelahnya. Ainsley tersenyum kecil. “Kalian berdua saja pakai bersama. Aku tak apa-apa.” “Bagaimana denganmu?” Ainsley menatap sekeliling, lalu menunduk pada tas yang digenggamnya. “Aku akan berlari ke halte, pakai tas ini buat pelindung. Hujannya juga tak separah itu, 'kan?” Mereka saling pandang, ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Baiklah.” Ainsley menarik napas dalam, lalu berlari kecil menembus hujan. Suara gemercik memercik di sekitar kakinya, udara dingin menampar lembut wajahnya. Pakaiannya perlahan basah, genggamannya pada tas makin erat. Di halte, Ainsley duduk di bangku logam yang dingin seorang diri. Jaket tipis yang menempel di tubuhnya sudah lembap, dan matanya menatap kosong ke depan, memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Tiga bus sudah lewat, tapi tak satu pun berhenti. Dia memeriksa papan jadwal digital di tiang halte, tulisan merah menyala di layar—Delayed due to heavy rain. “Bagus sekali,” gumamnya pelan, antara pasrah dan lelah. Dia memeluk tas di d**a, mengusap lengannya yang menggigil. Lampu halte berkedip sekali, lalu stabil kembali. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan hampir setengah tujuh. Jalanan depan restoran mulai kosong, hanya tersisa satu mobil hitam yang perlahan melaju di antara genangan. Ketika lampu depannya menyapu halte, Ainsley sempat menangkap sepasang mata di balik kaca. Tatapan itu hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. “Sialan,” desisnya pelan. “Dia pasti ingin minta ganti rugi karena noda di jasnya.” Dia segera berdiri, siap berlari menyeberang meski hujan semakin deras ... ... tapi sesuatu bergerak cepat dari sisi gelap jalan. Sret! Ainsley hanya sempat merasakan angin tajam di dekat tubuhnya sebelum perih menggores lengan kirinya. Refleks, dia menekan luka itu, darah hangat merembes di antara jari-jarinya. Seorang pria berdiri beberapa langkah di depannya, bermantel hujan hitam, wajahnya tersembunyi di balik tudung, hanya mata tajamnya yang tampak. Sorotnya dingin. Bengis. Ainsley mundur satu langkah, lalu satu lagi, napasnya tersengal. Hujan jatuh semakin keras di antara mereka. Saat pria itu mengangkat tangan, kilatan logam di bawah cahaya jalan membuat Ainsley menahan napas. Dan tiba-tiba, cahaya lampu mobil kembali menyorot ke arah mereka. Pria itu refleks menoleh, lalu melompat ke sisi jalan dan menghilang di balik tembok rendah. Ainsley terhuyung, menahan sakit di lengannya, basah kuyup dari ujung rambut sampai sepatu. Dia tak tahu berapa lama dia diam di sana, atau apakah dia masih di halte. Seseorang berlari mendekat dengan langkah terburu-buru. “Hei! Kau dengar aku?” Ainsley berusaha fokus, tapi pandangannya mulai gelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD