Part 9

1245 Words
Hari ini adalah hari pertama ujian nasional disekolahku. Aku sudah mempersiapkan semua di otakku jauh sebelum ibu tiada, karena ibu menginginkan aku masuk disalah satu Universitas Negeri di Jakarta ini, awalnya ibu ingin aku menjadi seorang dokter, namun aku menolaknya. Biaya untuk menjadi seorang dokter tidaklah sedikit, dan aku tak ingin membuat ibu kelelahan mencari uang demi aku. Aku memilih jurusan Ekonomi atau Akuntansi saja, yang menurutku lebih mudah dan aku bisa mengusahakan lulus secepatnya. ‘Bu, restui Manda ya, agar Manda bisa mengabulkan permintaan ibu.’ Aku berbicara dan membelai bingkai foto yang terdapat foto ibu didalamnya. Aku mengambil tasku yang ada di meja dapur, kemudian berjalan menuju pintu apartemen. “Semangat Manda, kamu pasti bisa.” Aku berkata untuk menyemangati diriku sendiri. Membuka pintu dan berjalan menuju ke lift. Sesampainya di sekolah aku pengirimkan pesan kepada ke 2 sahabatku. “Semangat untuk kita semua, semoga ujian kita berjalan lancar dan dapat nilai yang terbaik. Supaya bisa cepet liburan bareng-bareng.” Aku mengirimkan pesan itu pada grup chat kami, kemudian mematikan ponselku dan masuk kedalam gerbang sekolah yang tinggi itu. Aku anak yang tidak disukai disekolah ini, bahkan teman-temanku sering membullyku, bukan dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan. Aku pernah di kunci didalam toilet, saat aku akan buang air kecil. Atau tiba-tiba terkunci didalam gudang olah raga saat guru olah raga menyuruhku mengembalikan bola kedalam gudang. Atau saat aku selesai melakukan praktek kimia di labolatorium, aku selalu keluar terakhir dari lab, bukan tanpa sebab, semua itu karena jika aku keluar bersama mereka, maka akan ada yang mendorongku dengan sengaja hingga aku terjatuh dan mereka pura-pura tak melihatku, hingga aku memutuskan untuk keluar dari lab yang terakhir, tetapi pintu tak bisa dibuka, anak-anak orang kaya itu selalu bisa mengerjaiku. Itulah sebabnya, kemanapun aku pergi pasti aku membawa hape ku. Jika dulu saat ibu masih ada, aku pasti akan menghubungi ibu untuk menolongku membukakan pintu yang terkunci, dan ibu selalu berkata ‘Sabar ya nak, pura-pura gak tau aja ya.’ Dulu saat pertama kali aku terkunci didalam gudang olah raga, aku tak membawa hape ku. Aku berusaha menggedor-gedor pintu gudang, tetapi tidak ada yang mendengar. Hingga 1 jam berlalu dan aku hanya terduduk dan menangis. Tiba-tiba terdengar suara ‘Ceklek..Ceklek..’ aku langsung beranjak dari dudukku dan berjalan mendekati pintu, aku membukanya dan ternyata pintu dapat dibuka, aku langsung menghapus air mataku dan keluar dari gudang itu. Saat itu mataku menangkap penampakan 2orang teman sekelasku, yang sedang berciuman tak jauh dari gudang olah raga. Aku tau itu Indri dan Roland, yang aku sering dengar dari teman-temanku yang lain, mereka adalah pasangan kekasih. Mereka sangat cocok, karena mereka adalah pasangan yang cowok dan cewek terpopuler disekolah kami, begitulah yang aku dengar. Aku langsung bergegas meninggalkan mereka yang nampak sedang berciuman, karena aku tidak ingin melihat hal-hal menurutku tak pantas dilakukan untuk anak seusia kami. Setelah kejadian digudang itulah yang membuat aku selalu membawa hape saat aku keluar dari kelas. **** Ujian Nasional telah selesai, dan kami sudah bisa sedikit bernafas lega, tinggal kami harus menunggu jadwal pemberitahuan kelulusan saja. Saat aku sedang duduk di kelas dan membaca novel yang aku pinjam dari perpustakaan, tiba-tiba seseorang menghampiriku. “Hai, Amanda kan?” Sapa gadis itu yang ternyata adalah Indri. Aku mengangkat kepalaku dan mengangguk. Indri berdiri didepan mejaku, aku duduk di barisan sebelah kiri dekat jendela, nomer 3 dari barisan depan, sedangkan dibelakangku ada 1 bangku yang adalah bangku kosong. “Ini ada undangan Prom, jangan lupa datang ya, semua anak juga datang low karena ini acara sekolah.” Indri menyerahkan undangan yang sudah bertuliskan namaku. “Aku usahakan ya.” Jawabku dengan sopan, sejujurnya aku tak ingin datang karena tak memiliki baju untuk pesta. “Mau bareng aku sekalian?” Tawarnya padaku. “Tidak usah, nanti malah merepotkan.” Aku kembali menolak dengan sopan. “Baiklah, jangan lupa ikut acaranya ya.”ucap Indri ramah padaku, aku hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian dia berlalu meninggalkanku. ‘Tumben Indri mau menyapaku? Biasanya juga menganggapku seperti gak ada.’ Aku membatin sendiri. Acara Prom akan dilaksanakan 1minggu lagi, dan aku tak memikirkan untuk mendatangi acara tersebut. *** Besok adalah hari sabtu, dan acara Prom Night di adakan besok. Saat aku sedang berjalan ke arah gerbang sekolah, ada yang memanggil namaku, “Amanda” aku menoleh kesamping dan berhenti. “Besok jangan lupa ya, harus datang ya.” Indri mengingatkanku untuk acara Prom besok, aku hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian Indri melajukan mobilnya meninggalkan gerbang sekolah. *** Ke esokan harinya, dari pagi setelah sarapan, aku membersihkan kamar ibu dan lemari ibu. Aku melipat semua baju ibu dan meletakkan nya kedalam kardus. Aku berniat untuk menyumbangkan baju milik ibu pada yang lebih membutuhkan. Aku menemukan sebuah gaun yang masih ada label harganya, bertuliskan angka Rp. 300.000. ‘Untuk apa ya ibu membeli gaun ini? Gaun ini bukan ukuran ibu sepertinya.’ Gaun itu terlihat lebih kecil dari baju-baju ibu yang lainnya. Aku menempelkan gaun itu didepan tubuhku, gaun cantik dengan panjang selutut, yang berpotongan sedikit menggembung di bagian pinggang ke bawah, dan dibagian tangannya sepanjang siku dan ada pita yang cantik, gaun berwarna peach yang segar. Aku meletakkan baju itu di tempat tidur ibu, ketika aku dengar ada panggilan masuk dari hapeku. Aku berlari menuju meja makan tempat aku meletakkan hape ku. “Hallo” jawabku “Woi lagi ngapain? Lama banget angkat teleponnya?” Astrid langsung menyemprot ketika mendengar suaraku. “Hahahaha, lagi nginem nih, mau bantuin?” Aku duduk di sofa ruang tamu. “Hiiii ogah. Libur begini masih nginem aja? Bukannya hampir tiap hari kamu bersih-bersih Man?” Tanya Astrid padaku. “Ya gimana lagi dong, cuma itu yang sementara ini aku bisa. Aku lagi beresin baju-baju ibu ini tadi, rencana mau aku sumbangkan ke yang membutuhkan sih.” Aku menyalakan tivi yang menggantung ditembok di hadapanku. “Iya mending gitu ya Man, mungkin lebih bermanfaat untuk orang lain, dari pada cuma tertumpuk dilemari aja kan.” “Aku juga rencananya mau pindah dari sini As, nanti kalau sudah pasti keterima di kampus mana.” “Ngapain pindah? Mau pindah kemana juga? Aneh-aneh aja sih Man.” “Apartemen ini terlalu besar untuk aku, disini aku selalu teringat tentang ibu. Mungkin aku mending ngekost dekat kampus aja kayaknya.” “Ya udah pokoknya jangan lupa ngabarin aku sama Adit ya.” “Eh ngomong-ngomong Adit, tumben tuh anak gak ikut telepon? Biasanya suka nimbrung kalau lagi telepon begini.” “Masih tidur kayaknya, aku telepon gak diangkat tadi.” “Tumben? Biasanya dia bangun pagi kan ya?” “Semalam dia habis clubbing deh kayaknya, soalnya dia sempet telepon aku ngomongnya gak jelas dan rame gitu, kayaknya dia mabok deh.” Astrid menjelaskan sesuatu yang mengagetkan aku. “Ha? Sejak kapan dia suka mabok sih?” “Dia kayaknya lagi ada masalah sama ortunya deh. Dia beberapa hari lalu sih cerita masalah kuliahnya, dia minta kuliah di Jakarta, tapi orang tuanya ngelarang. Adit cuma boleh kuliah disini aja, gak boleh jauh dari ortunya. Mungkin karena itu dia jadi frustasi deh.” “Ya udah sih, kuliah di Malang aja kenapa. Dikira enak apa hidup di Jakarta begini. Aku aja kalau bisa malah pengen balik ke Malang lagi.” Percakapan kami berlanjut, menceritakan rencana teman-temanku disekolah lamaku, akan kemana saja mereka. Tak terasa sudah lebih dari 3 jam kami bercakap-cakap, sesekali di selingi tawa dan tak lupa bergosip tentang teman-teman yang lain. Hingga batrai hape ku low dan aku pamit pada Astrid untuk mengisi daya hape ku dulu, dan mematikan sambungan telepon kami. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD