Aku hanya manusia yang mengikuti kemana sang pencipta menuntunku, tanpa aku ingin berontak untuk mengakhirinya.
“Hei hei kenapa nangis?” Suara Adit terdengar membangunkan aku.
Aku terbangun dan duduk, “Aku mimpi ayah sama ibu.” Kemudian aku terdiam.
“Sudah ya, yakinlah mereka sudah bahagia, jika kamu bersedih terus, maka mereka akan ikut merasakannya.” Sambil mengusap air mataku, dia duduk di hadapanku.
“Sudah istirahat lagi sana, aku jagain disini.” Adit mengambil bedcover yang dia gunakan untuk alas tidur, kemudian menyelimutkannya padaku.
“Dit..”
“Udah tidur aja, aku disini jangan khawatir.” Adit mengambil kursi, dan meletakkannya di sisiku, kemudian dia duduk disitu.
Aku kembali merebahkan tubuhku, walaupun mataku belum sanggup untuk terpejam. Hingga tiba-tiba aku rasakan tangan Adit membelai rambutku perlahan, “Tidurlah yang nyenyak.” Ucapnya sambil terus membelai rambutku, hingga aku benar-benar tertidur.
Pagi hari, Astrid yang bangun terlebih dahulu dan melihat aku dan Adit masih tertidur, timbullah ide jahilnya, mengambil hape nya dan mulai memotret kami, kemudian dia tertawa.
Hahaha hahaha hahaha yang membuat aku dan Adit terbangun karena kaget mendengar suara Astrid.
“Kesambet ya kamu As?” Kata Adit sambil mengusap matanya.
“Kalian lucu banget, dah kayak orang pacaran aja.” Kata Astrid masih dengan tawanya yang ditahan.
Aku tersadar jika kepala Adit sedang berada di atas kepalaku, dan tangan sebelah kanannya masih berada di samping wajahku, dengan reflek aku langsung terduduk.
“Astrid kamu ngapain tadi?” Aku yang curiga saat melihat Astrid membawa ponsel dan menduga dia habis memotret aku dan Adit. Dengan mata yang mendelik aku menatap Astrid penuh dengan selidik.
“Hapus As, jangan sampe dikira orang aku sama Adit ngapa-ngapain ya As.” Ancamku pada Astrid.
“Buat kenang-kenangan aja ih Man.” Astrid menolak untuk menghapus foto, yang entah seperti apa tampilannya.
“Pagi-pagi dah bikin ribut aja nih bocah.” Adit yang terbangun dari tidurnya yang badannya miring ke arah kasur, tetapi b****g dan kakinya ada di kursi. Dia berjalan ke arah kamar mandi, dan tak lupa menggetok kepala Astrid dengan tangannya.
“Getok-getok kepalaku, aku sebarin juga nih foto.” Ancam Astrid.
“Emang gue pikirin.” Balas Adit sambil menutup pintu kamar mandi.
“Astrid, hapus dong. Ntar kalau ada yang lihat dikira aku gak bener lagi.” Ucapku
“Tenang aja, gak akan aku sebarin kok Man, lagian kan fotonya cuma foto biasa aja, cuma lucu aja kalau dilihat.hihihiihi.” Astrid kembali tertawa.
“Eh foto bareng yuk, mumpung si Adit udah selesai tuh.” Kata Astrid sambil mengarahkan hapenya ke arah kami untuk berfoto bersama.
Setelah selesai berfoto, aku mandi dan bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta.
Kami mampir ke makam ibu terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan menuju bandara. Adit dan Astrid turut serta bersamaku dan Om Adam, tante Sofi untuk bersama-sama ke makam ibu.
“Bu, Manda pamit ya. Maafkan Manda yang belum bisa jadi anak yang baik untuk ibu. Ibu pasti bahagia ya sudah ketemu ayah. Manda kangen ibu dan ayah.” Aku membelai pusara ibu yang terletak tak jauh dari makam ayah. Kemudian aku berjalan menuju makam ayah.
“Ayah, Manda sendirian yah. Ayah bahagia ya ketemu ibu. Manda cuma berharap bisa bertahan tanpa ayah dan ibu disisi Manda. Manda pamit ya yah, Manda harus selesaikan sekolah Manda, seperti yang ayah dan ibu harapkan.” Aku kembali menitikkan air mataku, kemudian berjalan menuju mobil Adit. Semua sudah menunggu ku di tempat kedua mobil itu diparkirkan, mobil milik Adit dan milik om Adam yang dikemudikan oleh seorang supir.
Astrid dan Adit ikut mengantarkanku sampai ke bandara. Astrid memelukku sesaat, sedangkan Adit hanya mengusap puncak kepalaku saja. Kami berpisah entah kapan kami akan bertemu kembali.
Aku bersama om Adam dan tante Sofi berjalan memasuki pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jakarta. Kembali pada kesepian yang seolah sedang menantiku, kembali pada kesendirian yang akan setia menemaniku, apa lagi saat ibu sudah tak lagi ada.
Selama perjalanan menuju Jakarta, aku hanya berdiam diri di dalam pesawat, menatap keluar jendela yang hanya nampak hamparan awan berwarna putih saja.
“Manda tinggal dirumah tante aja mau? Nanti berangkat sekolah bisa bareng anak tante, kan satu sekolah sama kamu.” Tante Sofi yang duduk disebelahku mencoba mengajakku berbincang.
“Bolehkah saya tinggal di apartemen tante? Banyak kenangan dengan ibu disana tante. Tapi kalau mau tante pakai apartemennya, saya bisa kost saja tante.” Aku menolak bukan hanya karena kenangan ibu disana tetapi juga karena aku tak ingin semakin merepotkan tante Sofi, apa lagi harus bareng dengan anak tante Sofi yang aku sendiri gak kenal, bahkan belum pernah bertemu.
“Kamu boleh tinggal di apartemen itu sampai kapan pun kamu mau nak. Tante hanya takut kamu kesepian aja.” Dengan tersenyum dan menggenggam tanganku.
“Terima kasih tante.” Aku membalas senyum tante Sofi.
Sesampainya di Jakarta, tante Sofi dan om Adam sudah di jemput oleh supir mereka.
“Ayo Manda naik, om antar ke apartemen dulu.” Om Adam menyuruhku untuk ikut dengan mereka, aku duduk di depan dengan pak supir, sedangkan om Adam dan tante Sofi duduk di belakang.
Mobil meluncur meninggalkan bandara dan menuju ke arah apartemen. Aku sudah 2 tahun tinggal di Jakarta, tapi belum hafal semua jalan, aku hanya tau jalan menuju sekolah dan dari sekolah ke apartemen saja, jika ibu mengajakku jalan-jalan ke mall pun ibu yang hafal angkot atau metro mininya.
Tak terasa mobil sudah sampai di depan lobby apartemen,
“Tante sama om mampir dulu yuk?” Ajakku pada tante Sofi dan om Adam.
“Lain waktu ya nak, om mu harus mengurus beberapa pekerjaan yang dia tinggal.” Tolak tante Sofi sopan.
“Iya Manda. Kalau gak sibuk, Manda main kerumah om ya, biar bisa ngobrol sama tante.” Timpal om Adam.
“Iya tante, iya om.” Jawabku seraya membuka pintu mobil. “Terima kasih om, tante untuk semuanya, maaf saya sering merepotkan.”
“Sudah jangan dipikirkan, istirahatlah agar saat unas kamu bisa berhasil.” Om Adam langsung menjawabku dan tersenyum, aku hanya mengangguk kemudian keluar dari mobil dan menutup pintunya.
Aku naik menuju unitku, membuka pintu yang 2 hari lalu aku tinggalkan. Terasa sepi, terasa sunyi. Masakan yang aku masak untuk ibu pun masih ada di atas meja dan membusuk. Aku menutup pintu, membuka semua gorden dan masuk ke kamarku, meletakkan tasku di atas meja belajarku, dan mengganti baju yang di pinjamkan Astrid dengan baju rumahku.
Aku mengambil sapu dan mulai membersihkan setiap sudut ruangan, termasuk kamar yang ibu tempati. Aku membersihkan kamar mandi dan mencuci baju ku dan baju yang ibu pakai sebelum tiada.
Aku menyibukkan diriku, karena jika aku hanya melamun maka aku hanya akan menangis dan bersedih lagi. Saat aku hendak menjemur pakaian, tiba-tiba suara hape ku berdering.
“Hallo.”
“Udah sampai Man?”
“Udah As.”
“Kok gak ngasi kabar? Adit khawatir tuh.”
“Cuma Adit yang khawatir nih? Kamu gak As?”
“Khawatir sih, tapi aku yakin kamu akan baik-baik aja Man.”
“Hehehehe, aku lagi bersih-bersih apartemen ini, mau jemur baju kamu telepon.” Aku meloadspeaker panggilan dari Astrid.
“Lagi apa Man?” Suara Adit terdengar menggantikan suara Astrid.
“Nih lagi jemur-jemur baju.”
“Udah makan?”
“Belum, bentar lagi mau masak.” Jawabku sambil menjemur baju.
“Ya udah nanti aku sama Astrid telepon lagi ya.”
“Okey siap.” Jawabku.
Bersambung..