Jendral, Kamu Serius?

1326 Words
Aku di perjalanan, mau ke rumahmu. Aletta mendapatkan pesan dari Jendral ketika dia sedang berada di sebuah pasar tradisional. Sepasang matanya terbelalak, tentu saja terkejut. Jendral tidak mengatakan apa pun kalau akan datang hari ini. “Mas Jendral, kok mendadak banget sih? Kenapa? Katanya Mas mau datang minggu depan.” Akhirnya Aletta menelepon. “Ada sedikit masalah, orang tuaku ternyata pergi mencaritahu asal-usulmu. Mereka dapat informasi dan tahu kalau kamu sempat kerja di spa.” “Hah?” Aletta semakin terkejut, ini bukan hanya berita buruk, tapi kiamat! Seharusnya Aletta lebih tahu, bahwa kemungkinan ini bisa saja terjadi. “Terus Mas masih di mana sekarang?” “Aku baru sampai di bandara. Kalau orang tuaku datang lebih dulu, pastikan kamu jangan menjawab pertanyaan mereka secara spesifik. Kamu adalah calon istriku, kamu tekankan itu.” “Aku ahli untuk urusan itu, Mas nggak perlu khawatir. Aku Cuma ... sedikit kaget, ternyata orang tua Mas Jendral bisa posesif begini, padahal Mas kelihatan bukan anak mami.” Aletta melihat ponselnya sekali lagi, Jendral masih belum memutus panggilan. Aletta yakin, pasti ada alasan lain di balik keputusan orang tua itu terus menekan putranya yang sudah dewasa. Atau ... mereka murni pemilih? “Baiklah, aku nggak akan banyak tanya. Karena Mas membayarku mahal untuk pekerjaan ini, aku pastikan pekerjaanku nggak akan mengecewakan,” ujar Aletta. “Kamu terdengar menganggap sepele masalah ini, Aletta.” “Karena aku butuh uang, aku suka uang, dan aku akan dapat uang yang sangat banyak dari Mas Jendral.” “Kamu terlalu jujur, biasanya wanita selalu gengsi mengakui kalau mereka butuh uang untuk menopang gaya hidup mereka.” Aletta tersenyum kecil. “Aku butuh uang bukan buat gaya hidup, tapi untuk balas dendam. Kita sama-sama diuntungkan di sini, jadi aku harap Mas Jendral nggak ingkar janji.” Obrolan mereka terdengar seperti perjanjian pekerjaan biasa, tanpa ada rasa, tanpa ingin tahu masalah masing-masing. Namun, mereka sadar ke depannya tidak akan semudah itu. *** Aletta akhirnya pulang ke rumah membawa kantong belanja yang sudah terisi penuh. Hari ini, mumpung dia ada di rumah. Rencananya dia akan memasak dan makan malam dengan ayah dan adik-adiknya. Namun, sepertinya makan malam yang menyenangkan itu akan sedikit bergeser. Satu jam kemudian, sebuah mobil mewah datang dan parkir di depan rumah. Ada sekumpulan ibu-ibu yang sedang duduk di teras Rumah tetangga, melihat dengan raut wajah yang terkesan penasaran. Benar saja, orang tua Jendral datang. “Maaf, cari siapa, ya?” tanya Pak Subagja yang muncul dari samping rumah. Pakaiannya sedikit lusuh karena habis mengarit rumput untuk kambing peliharaan di belakang. “Ya, ampun ... Mas, apa benar ini rumah calon penggantinya Jendral?” Bu Delima memegang lengan suaminya sambil melihat sekeliling, lalu berpindah memandang Pak Subagja seperti orang yang begitu risi. “Kalian berdua tamu anak saya?” tanya Pak Subagja lagi. “Kami mencari wanita bernama Aletta, benar ini rumahnya.” “Ya, benar ... saya ayahnya,” ujar Pak Subagja seraya mengulurkan Tangan untuk bersalaman. Namun, tentu saja tindakan itu tidak diterima, mereka terlihat jijik padanya. Pak Subailantas menarik kembali lengannya, padahal dia baru cuci tangan. Hanya saja pakaiannya yang kotor karena baru hendak mandi. “Di mana putrimu sekarang?” “Ada di dalam, Pak. Silakan masuk, nanti saya panggilkan Aletta.” Meskipun ada ketidaknyamanan, Pak Subagja membiarkan tamunya masuk. Rumah yang terlalu sederhana bagi sepasang suami istri itu benar-benar mengejutkan mereka. Tidak ada yang menarik, tidak ada batang mahal, yang ada hanya perabot lama entah dibeli dari abad mana. Bu Delima bahkan sedikit memilih saat duduk. Sementara itu di kamar, Aletta sudah bersiap dengan penampilannya. Meskipun sebenarnya debar jantung Aletta sudah tidak teratur dan terasa hendak meledak. “Ada tamu, Om dan Tante ... orang tuanya Mas Jendral, kan?” sapa Aletta yang mendatangi mereka. “Ini kejutan, Om dan Tante sengaja datang? Tahu rumahku dari Mas Jendral?” Wanita itu mendekat, lalu bersalaman dengan keduanya. Dia duduk di seberang sofa mereka, aaasementara Pak Subagja sudah meminta adik Aletta untuk menaruh minuman dan makanan di atas meja. “Kamu dan Jendral nggak memenuhi undangan saya waktu itu, apa kalian berubah pikiran?” tanya Pak Rendra. “Untuk undangan itu ... sebenarnya kami berdua masih sama-sama sibuk, Mas Jendral kebetulan selalu ada jadwal dan aku harus pulang dulu ke sini untuk mengurus keperluan di rumah.” “Apa pekerjaanmu?” tanya Bu Delima yang seakan-akan meragukan kesibukan Aletta, lebih tepatnya dia tidak pernah percaya wanita yang baru dia temui ini. “Aku di Bali bekerja sebagai pelayan restoran, aku beberapa kali ketemu sama Mas Jendral di sana sebelum kami memutuskan menjalani hubungan serius.” Aletta sedikit berbohong, sebab dia tahu jawabannya akan selalu salah. Apalagi kalau dia jujur bekerja di Spa? “Sebenarnya ... kedatangan kami ke sini untuk satu tujuan, Aletta.” “Tujuan, apa itu, Om?” tanya Aletta. “Batalkan rencana pernikahan kalian. Saya nggak akan basa-basi karena ini menyangkut anak saya ...” Akhirnya kalimat itu muncul tanpa ada label kesempatan bagi Aletta. Karena dia sudah bertemu dengan mantan tunangan Jendral sebelumnya, dia tahu bagaimana kriteria menantu pasangan ini. Aletta berhadapan dengan calon mertua yang bukan memandang kapan anak mereka menghasilkan keturunan. Melainkan bagaimana bisnis mereka berjalan lancar. “Aku menolak ....” Aletta dengan tegas menjawab. Raut wajah Pak Rendra mulai berubah. Laki-laki berkacamata itu menatap Aletta dengan kekecewaan. “Saya akan kasih kamu uang, apa 50 juta cukup? Asal kamu menjauhi anak saya.” “Mas Jendral nggak bisa digantikan dengan uang sekecil itu.” Pak Rendra mulai kesal. “Aku tau bagaimana pandangan Om dan Tante tentangku, tapi sayang sekali itu nggak akan berpengaruh,” ujar Aletta seraya menatap keduanya. “Mas Jendral udah memilihku sebagai calon istrinya, aku akan mengikuti dia meskipun kalian berdua adalah orang tuanya.” “Kamu terlalu percaya diri. Jangan kamu kira, saya nggak tau apa pekerjaanmu sampai kamu memberi jawaban palsu. Kamu nggak akan pernah sepadan, saya tau karakter wanita sepertimu Cuma mengincar harta anak saya.” Aletta tersenyum kecil. “Bahkan wanita kaya raya sekalipun suka uang. Kalau aku menerima uang nafkah dari Mas Jendral dan aku senang karena itu, Om nggak bisa menilai kalau aku hanya mengincar hartanya.” “Kamu—“ Suara langkah seseorang datang, pusat pandangan mereka berada di arah yang sama. Di mana Jendral berdiri di ambang pintu rumah. Laki-laki itu dengan aura tajamnya, membuat Aletta merasa sedikit tenang. Dia pikir akan menghadapi ini sendirian. Pak Rendra beranjak dari kursi, dia mungkin tidak terkejut melihat Jendral datang ke sini. “Kalian butuh sesuatu di rumah calon istriku?” tanya Jendral. “Jendral, apa kamu nggak akan berpikir ulang? Bukannya Mama mau apa-apa, tapi dia bukan wanita yang tepat. Pergaulannya di Bali sangat buruk, dia pasti bukan wanita baik-baik.” Bu Delima yang berbicara lebih dulu. “Aku percaya dia adalah pilihan yang tepat, dan Mama tau orang bisa berubah? Dia berhak menjadi lebih baik versinya,” jawab Jendral. Kedua orang tua itu terlihat kecewa, mereka datang ke sini untuk sebuah kesepakatan tapi rencana mereka tidak berjalan. Aletta bukan wanita yang mudah kalah. “Sampai kapan pun papa nggak akan setuju, Jendral. Jangan harap kamu bisa membawa wanita ini ke rumah papa, kakinya haram menginjakkan kaki di sana.” Mereka berdua lantas pergi, Jendral tidak menahan orang tuanya untuk meredakan sedikit ketegangan mereka. Setelah satu menit, Jendral baru melihat ke arah Aletta. Sepertinya wanita itu sedikit banyak terluka atas perkataan orang tuanya tadi. Jendral pun melepas sepatu di depan pintu, kemudian masuk untuk mendatangi Aletta di sana. “Maaf atas ucapan orang tuaku.” Aletta menghela napas pelan. “Lagipula ucapan mereka benar, pekerjaanku memang selalu dipandang sebelah mata, dan pergaulanku di Bali cukup buruk.” “Kamu bukan wanita yang seperti itu.” Sepasang mata Aletta baru terangkat menatap Jendral sedikit lebih lama. “Mas mempercayaiku?” “Lebih tepatnya aku akan melindungimu.” Ada sedikit rasa yang aneh ketika Jendral mengatakan itu, bagi Aletta ... itu adalah kalimat yang tidak pernah diucapkan Yusril. Kalimat yang ingin Aletta dengar dari suaminya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD