“Kenapa kamu ngasih ini? Aku nggak lagi cari karyawan,” ujar Jendral ketika mengecek isi map yang diberikan Aletta. Pasalnya, itu berisi data diri wanita ini.
Mulai dari riwayat pendidikan, cek kesehatan, hingga daftar riwayat hidup.
“Karena Mas butuh itu supaya bisa menjawab pertanyaan orang tua Mas yang pemilih itu.” Aletta melipat kedua lengan di d**a. “Aku pernah menikah dan baru bercerai. Apa Mas nggak keberatan sama status itu?”
“Status janda bukan kekurangan, nggak ada masalah. Lagipula ... kamu lebih muda dariku.”
Jendral terus menatap Aletta sejak tadi, dia melihat wanita ini sepertinya tidak bisa dikendalikan. Namun, itu justru nilai bagus. Dia butuh wanita yang akan menentang hal-hal bodoh di pikiran orang tuanya.
Jendral tidak butuh wanita lembut apalagi penakut, sebab dia sendiri sedang berusaha menerobos tembok besar yang dibangun orang tuanya sejak dulu.
Perjodohan yang terjadi secara turun-temurun itu memuakkan.
“Kenapa Mas menyetujui persyaratanku? Apa uang satu miliar sepadan sama aku yang begini?” tanya Aletta yang membutuhkan kepastian dari Jendral.
“Aku bukan membayar untuk menikah, tapi untuk sebuah kebebasan.”
Aletta sedikit mengernyit, dia sebenarnya tidak mengerti. Namun, Jendral sepertinya bukan tipe orang yang mudah bercerita, apalagi ini tentang keluarga.
Aletta merasa, dia akan memasuki dunia di mana keluarga Jendral lebih rumit dibanding mantan ibu mertuanya.
“Baiklah—“
“Eeee ... ini serius Cuma jadi istri aja, kan?” potong Aletta. “Apa nggak ada hal lain selain itu?”
“Ya ... hanya itu. Apa pun yang dilakukan orang tuaku, jangan mundur. Perjanjian ini mulai berlaku dari sekarang, karena kalau kamu mundur, kamu harus membayar denda dua kali lipat dari uang yang kuberikan padamu.”
Aletta menelan ludah. Dasar perhitungan!
“Terus gimana sama permintaan papa Mas Jendral? Aku harus datang minggu depan?”
“Nggak perlu. Urus saja berkasmu, kita akan menikah di sini, di Bali ....”
Mendengar itu, seperti ada lonceng yang menari-nari di atas kepala Vita sambil berbunyi. Menandakan bahwa dia sungguh akan memasuki dunia baru, dunia Jendral Arsenio Kingsley.
“Aku sudah mengirimkan sejumlah uang ke rekeningmu sebagai uang muka. Sisanya akan kukirim setelah kita resmi menikah.”
“Oh ya?” Aletta melihat ponsel dan memang ada beberapa kali pengiriman uang ke rekeningnya. Melihat angka yang ada di M-banking itu, sepasang mata Aletta melotot.
Saldonya di awal hanya 3 ribu perak, sekarang menjadi 200.000.000!
“Aku kaya!” Aletta tidak berhenti tersenyum, dalam bayangannya langsung tergambar rancangan usaha dengan uang yang dia miliki. “Aku bisa buka salon rambut, aku bisa buka usaha sendiri ....”
Aletta memeluk ponselnya sendiri sebelum berpindah tempat ke kursi duduk sebelah Jendral.
“Mau ngapain?”
“Siapa tau Mas butuh apa pun, tinggal bilang aja, ya. Aku ada 1 kali 24 jam khusus buat Mas Jendral.” Aletta menggenggam lengan laki-laki itu. Meskipun Jendral segera menyingkirkannya.
Aletta cemberut.
“Cuma pegang doang, emang aku ini kuman, hah?” tanya Aletta masih cemberut.
Byur!
“Ah!” Tiba-tiba guyuran air mendarat keras ke wajah Aletta, sampai sepasang matanya terasa perih sebab air tersebut.
“Letta, kamu baik-baik aja? Kemarilah ....” Jendral langsung gesit memberikan air putih dalam botol untuk membantu Aletta membersihkan sisa-sisa air jus itu. Dia khawatir itu merusak matanya.
“Masih perih ....”
“Sial—“ Jendral menatap orang yang mendadak mengguyur Aletta di sana, dia adalah Sofia—mantan tunangannya. “Minta maaf!”
“Nggak akan. Jadi benar apa kata Mama Rita, kamu mau menikah sama wanita ini?” tanya Sofia.
“Kalau memang benar, kamu nggak berhak melakukan ini, Sofia. Kamu keterlaluan!”
“Lebih keterlaluan mana, kamu atau aku? Putus nyambung saat berhubungan itu bisa aja terjadi, tapi bukan berarti kamu bisa bebas memilih meninggalkanku secepat itu!”
Aletta masih mengelap wajahnya dengan tisu, mendengar pertengkaran mereka terasa menjengkelkan. Mereka yang punya hubungan, tapi aku yang disiram?!
Aletta lupa, jika dia sudah resmi terseret dalam apa pun konflik yang dimiliki Jendral.
“Kamu buta?” Aletta mulai bereaksi meski sesekali dia masih menyeka matanya yang perih. “Kalau dia nggak boleh bebas, kenapa nggak kamu rantai aja dia di rumah dan jadi pajangan?”
“Nggak usah ikut campur—“
Aletta menggandeng lengan Jendral terang-terangan. “Akui aja kekalahanmu, atau kamu malu karena kalah bersaing dan nggak bisa bikin Mas Jendral tergila-gila?”
“Kamu sama sekali nggak ada nilainya dibanding denganku.”
“Oh, ya? Tapi yang duduk di pelaminan nanti aku sama Mas Jendral, gimana dong?” ujar Aletta yang membuat Sofia terlihat semakin kesal. “Tapi nggak apa-apa, kamu udah lumayan cantik buat caper ke tamu undangan kok!”
Dia tersenyum sebelum mengajak Jendral pergi dari sana. Tidak peduli bagaimana reaksi Sofia yang mungkin akan membencinya.
Sesampainya di mobil, suara pintu mobil tertutup terdengar kencang. Aletta mengambil banyak tisu untuk membersihkan kembali wajah dan pakaiannya yang kotor.
“Sepertinya kamu tipe wanita pendendam, hm?”
Aletta menoleh.
“Gelas kopiku masih penuh, kamu nggak menggunakannya buat membalas?”
“Aku belum tau siapa dia, kalau aku guyur dia terus ternyata dia anak pejabat gimana? Aku yang rugi.”
“Dia memang anak pejabat daerah.”
Gerakan tangan Aletta terhenti dan hanya menggenggam tisunya yang sudah kusut. Ternyata memang benar.
“Tahun depan Papa berencana mencalonkan diri sebagai pejabat daerah kota ini, Papa dan ayahnya kenal baik sejak dulu.”
“Pantes.” Aletta menghela napas kasar. “Aku anggap ini pekerjaan khusus, ada banyak risiko yang akan kuterima. Seharusnya aku minta lebih dari satu miliar.”
Jendral terdiam, dia mengusap dagu dengan jemarinya seraya menatap Aletta yang tengah sibuk meredakan amarahnya. Dia tidak salah memilih ... atau ... bisa jadi rencana ini adalah rencana terburuk?
***
Aletta lantas kembali ke kampungnya dengan rencana mengurus berkas dan membicarakan ini dengan orang tuanya. Di rumah, dia hanya tinggal dengan sang ayah sebab ibunya tidak ada.
Orang tua Aletta bercerai sejak lama sekali.
“Kamu mau menikah lagi? Ini baru berapa bulan, Letta. Siapa calon suamimu? Kamu mengenalnya?” tanya Pak Subagja.
Aletta tengah mengeluarkan berkas penting di lemari, mencari data dirinya yang lain di sana. Namun, dia masih mendengar ayahnya bicara.
“Ya, dia tinggal di Bali. Nanti aku menikah di sana,” jawab Aletta. “Dia nanti datang ke rumah karena sekarang dia masih ngajar. Dia seorang dosen ....”
“Dosen? Dan dia mau sama wanita sepertimu?”
Aletta menoleh menatap ayahnya. “Sepertimu gimana maksudnya, Ayah? Apa yang salah denganku? Karena aku nggak sekolah tinggi?”
Aletta sedikit tersinggung, tapi sebenarnya itu adalah sebuah fakta yang tidak bisa dia bantah. Di kehidupan ini, orang-orang seperti Jendral pasti mencari pasangan yang setara, minimal dokter atau guru, kan?
Aletta membuka beberapa berkas di tangannya, dan dia tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak pernah dia buka.
Sebuah amplop hasil lab rumah sakit, saat dia diam-diam mengambil sampel sper-m Yusril sebelum mereka bercerai.
“Ini ... siapa yang nganter ini, Ayah?” tanya Aletta.
“Apa itu amplop dari rumah sakit? Temanmu Reni yang ngasih beberapa bulan lalu, tapi ayah lupa mau ngasih tau kamu.”
Aletta segera membuka itu, meskipun sepertinya dia tidak akan mengerti banyak.
“Apa ini? Aku nggak ngerti!” benar saja, Aletta sama sekali tidak mengerti cara mengartikan hasil lab itu.
Aletta lantas memfoto itu dan mengirimkan gambarnya kepada Jendral. Dia bertanya mengenai isi hasil labnya.
Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa sampel semen yang diuji tidak ditemukan adanya sel sper-m. Diagnosis tersebut mengarah pada azoospermia, kondisi medis yang menandakan kemandulan pada pihak laki-laki. Dengan kata lain, kemungkinan untuk memiliki keturunan secara alami dinyatakan sangat kecil.
“Apa?” Aletta sangat terkejut, lalu spontan tertawa. “Huahahahahha!”
Tawanya seakan-akan menggambarkan sesuatu yang seharusnya tidak dia lakukan. Menertawakan kesusahan orang, apa dia jahat?
Sekali lagi Aletta melihat lembar hasil lab di tangannya, sekarang dia tahu kenapa Yura tampak begitu ngotot ingin mendapatkan Yusril.
“Mereka berdua pasangan serasi.” Aletta bergumam sendiri.