Karina bangun dengan mata sembab dan kepala yang rasanya mau pecah. Semalam setelah ngomong sama Papa, dia nggak bisa tidur sama sekali. Papa yang udah tenang akhirnya bilang dia bangga sama keputusan Karina, tapi tetep aja hati Karina hancur. Ponselnya udah penuh notifikasi. 52 missed calls dari Devandra, puluhan chat yang nggak dibaca, bahkan ada voice note yang suaranya udah serak. "Karina, aku tau kamu marah. Tapi please, kasih aku kesempatan jelasin." "Aku udah nelpon Rara. Dia setuju tes DNA. Kita bisa buktiin itu bukan anak aku." "Papa kamu pasti kecewa banget. Aku nggak bisa bayangin gimana perasaan dia." "Please jangan cabut semua yang udah kita bangun. Aku mohon." Karina baca satu-satu sambil nangis. Dia tau Devandra juga sakit, tapi dia nggak bisa. Kepercayaan udah hancur.

