Keesokan harinya, Cakra jemput Karina jam sepuluh pagi seperti yang dijanjikan. Karina udah siap di lobby apartemen, pakai dress hitam simple dan cardigan putih. Matanya masih agak bengkak meski udah dikasih eye cream. "Morning," sapa Cakra sambil buka pintu mobil. "Gimana tidur lo semalam?" "Nggak bisa tidur. Kebangun terus mikirin Papa." "Wajar sih. Kondisi Papa lo kemarin bikin khawatir banget." Di perjalanan ke rumah sakit, mereka mostly diem. Karina menatap keluar jendela sambil mikirin omongan Papa kemarin. Tentang nggak usah buru-buru nikah, tentang pilih yang terbaik buat dirinya. "Cakra, gue mau tanya sesuatu." "Apa?" "Lo pikir gue egois nggak, kalau gue mulai mikirin kebahagiaan gue sendiri?" "Maksud lo gimana?" "Ya selama ini gue selalu mikirin Papa, mikirin ekspektasi

