Bab 43

2148 Words

Bukan langit yang mendung, tapi hati Marni yang berkabung. Usahanya menutupi semua masa lalunya akhirnya harus ia hentikan. Ibarat mengambil satu duri busuk di dalam daging, meski sakit, tapi tetap harus Marni lakukan agar duri itu tak menggerogoti bagian lainnya yang masih sehat. Satu jam sejak kepergian Hasan, Marni bergeming nyaris tak bergerak. Terlebih setelah berkali-kali menghubungi putranya, tapi rupaya Hasan memilih mematikan ponselnya. Napas Marni terasa semakin sesak oleh perih yang mendera. Sesekali ia melihat ke arah pintu. Antara menunggu menantunya atau juga berharap Hasan kembali mendatanginya. Jangan harapkan Hasan. Lelaki itu sedang sibuk menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi, mirip dengan ayahnya malam dulu. Seseorang masuk, menderapkan langkahnya perlahan ke ara

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD