Bab 44

1008 Words

“Kamu tidak memberi tahu ibumu tentang pernikahan kita besok?” Melati bertanya seraya  mengambil paksa batang rokok yang sedari tadi dihisap Hasan.  Melati baru mengetahui bahwasanya Hasan menjadi seorang perokok sekarang. Jika dihitung-hitung dalam kurun waktu kurang dari setengah jam saja lelaki itu sudah menghabiskan hampir setengah slot rokok.   “Ke mana hidup sehatmu?” Melati kembali bertanya. Hasan melirik Melati dan bergeming.  Dalam hatinya ia menjawab bahwa Hasan yang dulu sudah hilang karena orang-orang yang menjadikannya sebagai b***k hawa nafsu mereka. Harga dirinya terkoyak, sebagai seorang lelaki rasanya begitu memalukan ketika kehidupannya di atur bahkan dijebak oleh ibunya sendiri.   “Tak usah dipikirkan, manusia memang selalu  berubah, bukan?” Hasan melemparkan seny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD