Pukul empat pagi adalah waktu yang sangat tidak manusiawi untuk terjaga, namun bagi Reyna, ini adalah waktu operasional "Protokol Hantu".
Misinya sederhana: Mandi, bersiap, dan menghilang sebelum pemilik apartemen ini membuka mata, lalu menghabiskan seluruh waktunya di kampus dan laboratorium.
Ia hanya akan kembali ke apartemen Bima untuk tidur!
Reyna yakin, dengan begitu mereka dapat hidup dalam sinkronisasi yang tidak pernah bertemu.
Sebuah strategi pertahanan diri yang menurutnya paling masuk akal di tengah situasi gila ini.
Sayangnya, kemewahan apartemen ini memiliki satu celah yang menyebalkan: kamar tamunya sangat mewah, tapi entah mengapa arsiteknya lupa memberikan kamar mandi dalam.
Dengan langkah berjinjit, Reyna membawa perlengkapan mandinya. Ia mengenakan sandal rumah yang empuk, berjalan melewati ruang tengah yang luas dan gelap, menuju satu-satunya kamar mandi di luar area kamar utama.
Hening. Hanya ada suara dengung halus dari sistem pendingin ruangan terpusat. Reyna menghela napas lega; Bima masih tidur.
Beberapa menit kemudian, uap hangat memenuhi kamar mandi. Reyna membiarkan air menyiram tubuhnya, mencoba membasuh rasa tidak nyaman yang terus merayap sejak ia menginjakkan kaki di sini, semalam. Setelah mandi secepat kilat, Reyna keluar dengan uap hangat yang masih mengepul dari tubuhnya.
Reyna hanya mengenakan kaos putih tipis kedodoran dan celana kain pendek. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai, meneteskan air yang membuat bagian pundak kaosnya putihnya menjadi transparan.
"Oke, aman. Jalur bersih," bisik Reyna pada dirinya sendiri.
Namun, baru saja ia berbelok di area dapur menuju kamarnya, langkahnya seketika terhenti.
Bau mentega yang hangus dan aroma roti panggang menyapu indra penciumannya.
Dan di sana, di depan kompor induksi yang canggih, berdirilah Bima Adi Wijaya.
Bima hanya mengenakan kaos singlet hitam yang sangat pas di badan—terlalu pas hingga otot-ototnya terlihat seperti pahatan—dan celana katun abu-abu yang longgar. Pria itu tampak sedang berduel sengit dengan sebuah penggorengan.
"Sial," umpat Reyna dalam hati. Ia hendak berbalik untuk kabur, tapi suara Bima lebih cepat.
"Sudah selesai mandinya?" Bima bertanya tanpa menoleh, suaranya parau, namun tetap terdengar merdu.
Reyna mematung. Ia baru menyadari satu hal yang fatal: karena ia terburu-buru, kaos putihnya yang basah terkena sisa air dari rambutnya kini menempel di tubuhnya, memperlihatkan siluet yang... sangat jelas. Dan ia tidak memakai bra!
Bima berbalik, bermaksud menawarkan omelet yang bentuknya lebih mirip orak-arik gagal.
Namun, waktu seolah melambat.
Mata Bima yang gelap dan dalam bertemu dengan mata Reyna yang melebar.
Tatapan Bima yang awalnya terkejut, perlahan turun, begitu matanya menangkap sosok Reyna yang berdiri kaku dengan kaos yang mencetak jelas lekuk tubuhnya, spatula di tangan Bima hampir jatuh.
Dapur yang luas itu mendadak terasa seperti oven. Udara terasa panas, seolah-olah oksigen di antara mereka baru saja terbakar.
Mata Bima menggelap, pupilnya melebar, dan ia memaku pandangannya pada satu titik yang sangat terlarang di balik kaos tipis itu.
Ada keheningan yang sangat canggung selama tiga detik—keheningan tiga detik yang terasa seperti tiga abad, mendadak memenuhi udara subuh itu.
Bima mematung, tenggorokannya bergerak naik turun saat ia menelan ludah dengan susah payah.
Kilatan di mata pria itu mengingatkan Reyna pada predator yang sedang menatap mangsanya—tapi kali ini, ada campuran antara gairah liar dan rasa bersalah yang tertahan.
Reyna tersentak, kewarasannya kembali secepat kilat. Ia segera mendekap handuk yang ia kalungkan di leher ke depan dadanya, menutupi tubuhnya dengan panik.
"Bapak... lihat apa?!" pekik Reyna, suaranya melengking oktaf ke atas. Ia segera menyilangkan tangannya di depan d**a, wajahnya memerah padam hingga ke ujung telinga. "m***m! Tidak sopan! Tutup mata Anda!"
Bima tersentak, langsung membuang muka ke arah tumpukan piring kotor dengan gerakan patah-patah. "Aku... aku tidak sengaja. Aku hanya sedang membuat sarapan. Lalu... kamu-.. kamu sendiri yang keluar dengan pakaian seperti itu di rumah pria lajang!"
"Ini jam empat pagi, Pak Bima! Siapa yang membuat sarapan sepagi ini?!"
"Aku tidak bisa tidur," jawab Bima pendek, suaranya parau. Ia mematikan kompor dan berbalik lagi, namun kali ini matanya dipaksa menatap langit-langit atau rak piring. "Aku membuatkan sandwich dan omelet untukmu. Kemari lah setelah bersiap. Aku ingin kamu makan dulu, sebelum berangkat."
Reyna melirik ke arah dapur. Ia terpaku sejenak. Dapur mewah yang biasanya bersih mengkilap itu kini tampak seperti medan perang.
Ada cangkang telur di lantai, tepung yang tumpah, dan roti yang gosong di satu sisi.
Jelas sekali bahwa Bima—yang biasanya menguasai laboratorium instrumen miliaran rupiah itu kini tampak dikalahkan oleh sebutir telur dan mentega.
Dan... melihat seluruh kekacauan itu, terlihat jelas bahwa Bima telah mengerahkan usaha yang luar biasa besar untuk memasak sesuatu yang sederhana ini.
Namun, alih-alih tersentuh, Reyna justru merasa terintimidasi.
"Saya tidak butuh. Saya sudah biasa tidak sarapan. Simpan saja sarapan gosong itu, untuk Anda sendiri."
Tanpa menunggu jawaban, Reyna berlari kecil masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu.
Di balik pintu, jantung Reyna berdegup seperti genderang perang, sambil memaki kebodohannya yang bisa-bisanya lupa sekalian membawa bra-nya tadi ke kamar mandi.
Reyna meremas kuat ujung bajunya.
Reyna membenci dirinya sendiri karena sempat terpesona oleh pemandangan penuh kehangatan dimana pria itu berjuang di dapur.
Ia benci pria itu karena bersikap ramah padanya, dan berusaha masuk ke rutinitasnya!
Dan yang terpenting, ia benci bagaimana mata pria itu menatapnya tadi!
Tiga puluh menit kemudian, Reyna keluar dengan kemeja flanel berlapis-lapis, seolah ia sedang bersiap menghadapi musim salju di Jakarta. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan aura permusuhan.
Bima sedang duduk di sofa ruang tengah. Ia tampak jauh lebih tenang, meski wajahnya masih menyisakan rona kemerahan. Ia tertegun melihat Reyna sudah siap pergi.
"Sudah mau jalan? Kenapa berangkat sepagi ini? Masih pukul setengah enam, Reyna."
Reyna tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju meja kopi di depan Bima, meletakkan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sangat rapi—hasil kerja kerasnya selama mengunci diri di kamar tadi.
"Sepertinya kita perlu membahas aturan main selama saya terjebak di sini, Pak," ucap Reyna dingin, suaranya terdengar profesional namun penuh jarak. "Saya tidak mau ada insiden seperti tadi terulang lagi."
Bima mengerutkan kening, namun ia memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Silakan. Apa yang kau inginkan?"
"Ini adalah perjanjian tertulis tentang batasan pribadi kita," Reyna menunjuk poin-poin yang sudah ia tulis dengan tulisan tangan yang tajam. "Pertama, Anda dilarang keras masuk ke kamar saya tanpa izin tertulis, apa pun alasannya. Bahkan jika ada kebakaran sekalipun!"
Bima mengangguk pelan. "Aku setuju."
"Kedua," lanjut Reyna, "tidak boleh ada pertanyaan bersifat pribadi di luar urusan riset. Jangan tanya 'Sudah makan atau belum?', 'Sedang apa?', dan jangan tanya kabar ibu saya kecuali dalam konteks formal."
Alis Bima menyatu. "Ini sama saja kau menyuruhku menjadi bisu di rumahku sendiri, Reyna."
"Tepat sekali. Itu poinnya," balas Reyna tanpa ampun. "Dan ketiga, tidak boleh ada kontak fisik apa pun. Sengaja maupun tidak sengaja."
Bima menghela napas panjang, namun ia meraih pulpen itu. Saat ia hendak menandatangani kertas tersebut, Reyna membungkuk sedikit untuk memastikan Bima menandatanganinya di kolom yang benar.
Posisi itu membuat rambut Reyna yang masih lembap jatuh menjuntai, mendekat ke arah wajah Bima.
Seketika, aroma vanila yang samar, berpadu dengan wangi murni tubuh Reyna setelah mandi menyerbu indra penciuman Bima.
Wangi itu... wangi yang sama dengan malam di kamar 404. Memori tentang bagaimana kulit Reyna terasa di bawah jemarinya, bagaimana suara rintihan gadis itu memenuhi ruangan, tiba-tiba membanjiri pikiran Bima seperti arus listrik ribuan volt.
Keheningan yang menyesakkan kembali muncul. Di dalam kepala Bima, ada perang antara pria terhormat yang penuh penyesalan dan insting dasar pria yang menginginkan gadis di depannya. Gairah itu meledak tanpa bisa dicegah, menciptakan reaksi fisik yang sangat nyata di balik celah celana katun tipis yang dikenakannya.
Kejantanan Bima menegang hebat, sebuah pengkhianatan dari tubuhnya sendiri di saat yang paling tidak tepat.
Bima tersentak, matanya berkilat liar. Dengan gerakan canggung yang sangat kentara, ia segera meraih bantal sofa terdekat dan memangkunya di atas paha, menutupi area depannya yang sudah menonjol.
"Ada lagi yang mau kau tambahkan?" tanya Bima dengan suara yang jauh lebih berat dan sedikit terengah, seolah-olah ia baru saja berlari maraton.
Reyna menyipitkan mata, merasa aneh dengan perubahan sikap Bima yang tiba-tiba gelisah.
Bima membubuhkan tanda tangannya dengan cepat begitu melihat Reyna menggeleng, tangannya sedikit gemetar.
Reyna kemudian menyambar kertas itu dengan puas.
"Sudah selesai. Saya pergi sekarang," ucap Reyna sambil berbalik.
"Tunggu, Reyna! Sarapanmu!" Bima berseru panik. Ia lupa akan kondisinya, dan secara refleks bangkit berdiri dari sofa untuk berlari menuju dapur, hendak mengambilkan kotak bekal berisi sandwich yang sudah ia siapkan dengan susah payah.
Namun, tepat saat ia berdiri, bantal yang ia gunakan untuk menutupi dirinya terjatuh ke lantai.
Reyna yang baru berbalik untuk melangkah, menoleh lagi karena mendengar suara bantal jatuh. Pandangannya secara alami turun ke arah pinggang Bima.
Dan... Ia langsung menangkap pemandangan di balik celana katun Bima yang tipis.
Di sana, di balik celana katun abu-abu yang tipis, terlihat sesuatu yang menonjol sangat jelas, membentuk garis yang tidak mungkin disalahartikan sebagai kunci motor atau ponsel.
Sesuatu yang sedang berdiri dengan gagah berani di pagi hari yang cerah.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Reyna.
Pupil matanya membelalak, mulutnya menganga membentuk huruf O.
Ia menatap benda itu, lalu menatap wajah Bima yang masih mematung.
"Anda..." Reyna terbata, wajahnya mulai memerah padam karena amarah yang meledak.
Bima segera tersadar. Ia melihat ke bawah, melihat "aset"-nya yang terekspos secara visual, lalu melihat kembali ke wajah Reyna yang kini mulai berubah warna dari merah menjadi ungu.
"Reyna, ini... ini hanya... sirkulasi darah pagi hari... ini normal secara medis—"
"DASAR MESUMMMMM!!!" teriak Reyna dengan suara yang mungkin terdengar hingga ke lobi apartemen.
Reyna menyambar tasnya, membuka pintu apartemen secepat kilat, lalu membantingnya dengan tenaga luar biasa. Ia lari tunggang langgang menuju lift tanpa menoleh lagi.
Meninggalkan Bima yang berdiri mematung di tengah ruangan dengan kejantanan yang masih mengeras, sembari meratapi harga dirinya yang baru saja hancur berkeping-keping di depan gadis yang paling ingin ia buat terkesan.
"Demi Tuhan," bisik Bima pada ruangan yang kosong, "aku baru saja menandatangani perjanjian yang seolah melarangku untuk bicara, tapi tubuhku malah berteriak seperti ini. Tamatlah riwayatmu, Bima!"
Bima segera jatuh terduduk di sofa sambil menutupi wajahnya dengan bantal, sementara di dalam lift, Reyna terus menekan tombol 'tutup' berulang kali dengan jantung yang mau meledak.
Ia bersumpah tidak akan pernah membiarkan pintu kamarnya terbuka sedikit pun malam nanti.
.............................