Pagi itu, Terminal Kampung Rambutan terasa lebih menyesakkan daripada biasanya. Deru mesin bus antarkota dan teriakan para kenek menciptakan simfoni kekacauan yang memekakkan telinga. Reyna menggenggam erat tangan ibunya, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, satu-satunya jangkar dalam hidupnya itu akan hanyut ditelan lautan manusia.
Reyna telah memutuskan untuk mengirim ibunya ke Sukabumi, tepatnya ke sebuah desa terpencil di kaki Gunung Gede di daerah Cisaat. Di sana, adik ibunya—bibi Reyna—tinggal di sebuah rumah kayu sederhana yang dikelilingi kebun teh. Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, dan yang paling penting, jauh dari jangkauan tangan-tangan kotor Arkan.
"Rey, kamu benar tidak apa-apa Ibu tinggal dulu?" tanya ibunya saat hendak menaiki bus ekonomi jurusan Sukabumi. Wajahnya yang masih pucat, tampak menyimpan kecemasan.
Reyna memaksakan sebuah senyum yang paling meyakinkan yang bisa ia rakit. "Tidak apa-apa, Bu. Riset Reyna sedang padat-padatnya. Kalau Ibu di sini, Reyna malah tidak fokus karena kepikiran kesehatan Ibu. Di tempat Bibi, udaranya segar. Ibu fokus pemulihan saja, ya?"
Saat bus itu perlahan bergerak meninggalkan terminal, Reyna merasa separuh nyawanya ikut terbawa pergi. Ia berdiri mematung di tengah asap knalpot yang pedih di mata.
Kini, ia benar-benar sendirian di kota yang kejam ini.
Tidak ada lagi aroma sup hangat yang menyambutnya di rumah petak, tidak ada lagi suara batuk kecil ibunya yang biasanya membuatnya merasa "pulang".
Yang tersisa hanyalah dirinya, sepedanya, dan tumpukan rahasia yang kian hari kian merajam jiwanya.
Sore harinya, laboratorium instrumen di basement kampus terasa seperti ruang hampa udara. Reyna menyeret tubuhnya yang terasa remuk. Kurang tidur, kelelahan emosional, dan perut yang hanya diisi sepotong roti murah membuat konsentrasinya berada di titik nadir.
Di dalam laboratorium, mesin Supercritical Fluid Extraction (SFE) terus menderu pelan.
Bima sudah di sana, tampak sibuk dengan tumpukan jurnal di meja kerjanya. Pria itu hanya melirik sekilas saat Reyna masuk, namun matanya yang tajam seolah mampu memindai setiap inci keletihan di wajah mahasiswinya itu.
Reyna mencoba fokus. Ia harus memindahkan hasil ekstraksi Taxus sumatrana yang sangat pekat ke dalam labu Erlenmeyer untuk proses pemurnian selanjutnya. Namun, saat tangannya meraih leher botol kaca itu, dunianya mendadak berputar. Rasa pening yang hebat menyerang kepalanya.
Prang!
Hampir saja. Labu berisi zat iritan ringan itu miring berbahaya di tepi meja. Sebelum kaca itu menghantam lantai beton, sebuah tangan besar yang hangat menyambar pergelangan tangan Reyna, sementara tangan lainnya mengamankan labu tersebut dengan gerakan kilat.
Reyna tersentak, napasnya memburu. Ia mendongak dan menemukan wajah Bima hanya berjarak beberapa senti darinya. Mata Bima tidak lagi memancarkan rasa bersalah seperti kemarin, melainkan sebuah d******i yang dingin dan tegas.
"Cukup, Reyna!" suara Bima terdengar seperti guntur yang diredam. Ia meletakkan labu itu kembali ke tengah meja dengan hentakan pelan namun pasti. "Aku sudah mengatakannya berkali-kali. Aku tidak butuh asisten yang bekerja dengan ceroboh. Aku butuh profesionalisme murni tanpa celah sedikit pun!"
Bima mencengkeram bahu Reyna, memaksa gadis itu menatapnya lurus-lurus. "Satu kesalahan kecil di sini bukan hanya merusak riset miliaran rupiah, tapi bisa membuatmu cacat atau terinfeksi zat kimia berbahaya. Aku tidak akan membiarkan ada insiden lagi yang membuat kulitmu terluka, sedikit pun. Mengerti?"
Nada bicaranya begitu otoriter, seolah ia sedang mengklaim setiap sel di tubuh Reyna sebagai miliknya yang harus dijaga tetap utuh. Reyna hanya bisa menarik tangannya perlahan, menundukkan kepala. Ia terlalu lelah untuk mendebat, terlalu hancur untuk sekadar membalas tatapan intimidasi itu dengan kebencian.
Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Jakarta diguyur gerimis tipis yang membuat aspal jalanan tampak hitam mengkilap seperti kulit ular. Reyna mengayuh sepeda bututnya melewati jalan tikus yang biasa ia lewati untuk mempersingkat waktu menuju rumah petaknya.
Namun, saat ia berbelok di sebuah gang sempit yang diapit tembok tinggi pabrik tua, sebuah mobil sedan hitam tiba-tiba melintang di depannya.
Reyna mengerem mendadak hingga ia hampir jatuh tersungkur. Jantungnya berdegup liar. Pintu mobil terbuka, dan Arkan keluar dengan langkah limbung—aroma alkohol yang menyengat segera memenuhi udara.
"Mau lari ke mana lagi kau, Jalang?" Arkan berteriak, suaranya parau oleh kemarahan dan frustrasi. Sebelum Reyna sempat memutar sepedanya, Arkan sudah menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Reyna dengan kasar, menariknya menuju pintu mobil yang terbuka.
"Lepaskan! Arkan, kau gila!" Reyna meronta, kakinya menendang-nendang.
"Diam!" Arkan menampar wajah Reyna hingga gadis itu terjerembap ke aspal. "Gara-gara harga dirimu yang sok suci itu, aku ditertawakan teman-temanku! Mereka bilang aku pecundang! Sialan. Masuk ke mobil! Aku akan bayar berapapun untuk tubuhmu itu. Sejuta? Sepuluh juta? Kau butuh uang untuk ibumu, kan?! Cukup layani aku semalam, dasar wanita sial!"
Saat Arkan hendak menyeret Reyna masuk, sebuah suara debuman pintu mobil lain terdengar dari ujung gang. Sesosok bayangan bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Bugh!
Satu pukulan mentah menghantam rahang Arkan hingga pria itu terpental ke pintu mobilnya sendiri.
Bima berdiri di sana, dadanya naik turun dengan napas yang mengerikan. Jas lab yang ia pakai tadi sudah berganti dengan jaket kulit hitam, namun matanya... mata itu memancarkan haus darah yang belum pernah Reyna lihat sebelumnya.
Bima tidak berhenti. Ia menarik kerah baju Arkan dan menghujani wajah pria itu dengan tinju berkali-kali. "Sudah kubilang... jangan... pernah... menyentuhnya!" Setiap satu kata yang Bima ucap dengan penuh penekanan, sebogem hantaman mengenai rahang Arkan.
Arkan sudah tidak berdaya, wajahnya bersimbah darah, namun Bima seolah ingin melumatnya hingga tidak bersisa.
"Pak Bima, cukup! Anda bisa membunuhnya!" Reyna berteriak histeris, mencoba menarik lengan Bima.
Bima berhenti, tangannya yang berlumuran darah Arkan gemetar. Ia menatap Arkan yang merintih di tanah dengan pandangan jijik, seolah sedang menatap kecoa. Ia kemudian berbalik ke arah Reyna, menarik gadis itu bangun dengan kasar namun protektif. Ia lalu membopong sepeda Reyna dengan satu tangan tanpa kesulitan, lalu menarik—setengah menyeret—Reyna dengan tangannya yang bebas menuju ujung gang. Setelah sampai di dekat mobilnya, Bima menjatuhkan sepeda itu dengan suara dentum menakutkan.
"Masuk ke mobil, sekarang," perintah Bima.
"Lepas, Pak. Saya mau pulang. Kemarikan sepeda saya," isak Reyna.
Bima mengeluarkan ponselnya, menunjukkan sebuah foto yang diambil dari sudut gelap semalam. Di foto itu, tampak Arkan sedang berdiri di depan pagar rumah petak Reyna, mengintip ke dalam melalui celah jendela.
"Rumahmu tidak aman. Dia sudah tahu tempat tinggalmu. Kamu pikir kenapa aku selalu mengikutimu dari kejauhan setiap malam?"
Reyna membeku. Seluruh sendi di tubuhnya terasa lemas. Ketakutan akan Arkan kini bercampur dengan kesadaran bahwa Bima telah mengawasinya seperti bayangan selama ini.
"Ibumu sedang tidak ada untuk menjagamu. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjadi mangsa sampah ini di saat aku masih bisa menjagamu. Demi efisiensi riset dan keselamatan subjek riset... kamu... pindah ke tempatku malam ini juga."
Reyna menatap Bima dengan mata yang menyiratkan luka mendalam. "Atas dasar apa aku bisa mempercayai Bapak?" suaranya bergetar, menahan sesak.
"Bagaimana mungkin aku bisa masuk ke rumah orang yang sudah menghancurkan hidupku?"
Bima terdiam sejenak, menatap Reyna dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Apakah ada rumah saudara atau kerabat lain yang bisa dipercaya untuk melindungimu saat ini?"
Reyna menggeleng lemah. Nihil. Ia benar-benar sebatang kara di kota ini, sekarang.
"Kalau begitu, ini harga mati, Reyna. Pilihannya hanya dua," ancam Bima dengan suara yang tenang namun mematikan. "Kamu ikut aku sekarang, atau b******n ini akan kembali ke rumahmu saat aku tidak ada, dan dia akan melakukan hal yang jauh lebih gila lagi dari sekadar mengintip jendela."
Bahu Reyna berguncang hebat. Air mata kekalahan mulai mengalir, membasahi pipinya yang pucat.
"Ini gila... Anda tidak bisa memaksaku seperti ini..."
"Nyatanya aku bisa, Reyna." Bima memotong dengan tegas. "Sekarang pilih lagi: kau mau pulang untuk mengemas baju dulu baru ke rumahku, atau sekarang kita langsung berangkat dan besok kau pergi kuliah dengan pakaianku?"
Pilihan yang diberikan Bima bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah jeratan.
Dengan berat hati dan napas yang tertahan, Reyna akhirnya menyerah. Ia membiarkan Bima memasukkan sepeda bututnya ke dalam bagasi mobil mewah itu, dengan pasrah.
Bima kemudian menuntunnya masuk ke kursi penumpang seolah-olah Reyna adalah barang pecah belah yang berharga.
Hanya lima menit perjalanan, mobil itu kini berhenti di depan rumah petak Reyna.
Di sana, Bima dengan sabar menunggu di ruang tamu, sementara Reyna mengemasi beberapa helai pakaian dan buku-buku kuliah.
Rumah yang biasanya terasa hangat meski sempit, kini terasa dingin dan sunyi seperti kuburan tanpa kehadiran ibunya. Setelah semua selesai, mereka kembali meluncur membelah malam menuju Kuningan.
Apartemen Bima terletak di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang megah. Begitu pintu terbuka, kemewahan yang dingin segera menyergap indra Reyna. Lantai marmer yang mengkilap, dinding kaca raksasa yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta yang seolah berada di bawah kaki mereka, dan aroma sandalwood yang dominan—semuanya terasa seperti penjara berlapis emas.
Bima merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kartu akses berwarna emas—kunci cadangan pintu rumahnya—dan meletakkannya di telapak tangan Reyna yang kaku.
Pria itu mendekat, menunduk hingga hembusan napasnya terasa hangat di ceruk leher Reyna.
"Di sini, kamu aman sepenuhnya, Reyna. Tidak ada Arkan, tidak ada dunia luar yang bisa menyakitimu," bisik Bima parau.
Tangannya sempat bergerak pelan, mengusap helai rambut Reyna dengan gerakan posesif yang membuat Reyna bergidik. "Tak ada yang bisa menyentuhmu, bahkan bayanganmu sendiri tanpa seizinku. Jangan khawatir. Sekarang, kamu istirahat dulu."
Reyna tidak sanggup menjawab. Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar yang ditunjuk, memutar kunci pintu baja dari dalam dengan gerakan panik, dan merosot di balik daun pintu yang tebal.
Di dalam kesunyian kamar mewah itu, ia merasa kotor, hancur, dan benar-benar telah kalah oleh keadaan.
Lama ia terdiam dalam kegelapan di balik pintu, hingga indranya menangkap suara langkah kaki Bima yang berat. Langkah itu terhenti tepat di depan kamarnya.
"Reyna, keluar sebentar. Makan dulu. Jangan sampai kamu sakit," panggil Bima. Suaranya terdengar sangat lembut, namun bagi Reyna, itu adalah suara sirine bahaya.
Reyna tetap diam, memeluk lututnya sendiri. Baginya, segala perhatian Bima adalah umpan, dan pria itu adalah pemburu sabar yang sedang menunggunya lengah. Ia bertekad memperlakukan Bima layaknya sipir penjara.
Segala bentuk kebaikan pria itu bukanlah kasih sayang, melainkan bentuk penghinaan baru bagi harga dirinya yang sudah terkoyak.
Ia tak akan pernah membiarkan dirinya termakan oleh umpan apa pun.
Ada jeda yang sangat lama, di mana hanya ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka, dipisahkan oleh selembar pintu kayu jati yang kokoh.
Reyna bisa membayangkan Bima berdiri di sana dengan canggung, menatap pintu yang terkunci rapat itu dengan segala kerumitan di kepalanya.
Tapi Reyna tak peduli. Saat ini, kepalanya tak kalah rumitnya.
Setelah beberapa menit yang terasa abadi, barulah langkah kaki itu menjauh, perlahan menghilang menuju sayap apartemen yang lain.
Reyna bangkit dengan langkah gontai. Ia berjalan menuju balkon kamar yang luas. Dari lantai setinggi ini, manusia dan kendaraan di bawah sana hanya tampak seperti semut yang tak berarti. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun rasa dingin itu belum bisa menandingi beku yang ada di hatinya.
Reyna menatap langit malam Jakarta yang kelam tanpa bintang. Ia memang telah berhasil menyelamatkan ibunya, namun ia menyadari bahwa ia baru saja menukarnya dengan kebebasannya sendiri.
Kini, ia merasa telah menjadi tawanan "Si Monster Berdasi" di dalam sebuah sangkar berlapis beludru yang mungkin jauh lebih berbahaya daripada ancaman bahaya di luar sana.
Sebab di sini, musuh terbesar yang harus ia lawan bukan lagi Arkan yang kasar, melainkan rasa aman semu yang mulai ditawarkan oleh sang penghancur hidupnya sendiri.
..............................