Udara di koridor menuju basement itu mendadak terasa tipis, seolah oksigen dihisap keluar oleh keberadaan sosok di depan Reyna.
Arkan tidak lagi menyembunyikan seringai serigala di wajahnya. Ia melangkah maju, memaksa Reyna memundurkan tubuh hingga punggungnya beradu dengan dinding beton yang dingin.
"Kenapa sulit sekali mencarimu belakangan ini, Sayang? Apa ada pekerjaan yang begitu menyita waktu, sampai kamu lupa punya urusan yang belum selesai denganku?" Arkan bertanya dengan nada meremehkan.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukan Reyna di laboratorium bawah tanah itu, yang ia tahu hanyalah Reyna, mangsanya, sedang berusaha bersembunyi.
Reyna mencoba menstabilkan napasnya yang mulai tersengat panik. "Pergi, Arkan. Aku tidak punya urusan apa pun lagi denganmu."
"Oh, benarkah?" Arkan merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintar terbaru, dan memutar sebuah video singkat.
Dunia Reyna seolah runtuh saat melihat layar itu.
Di sana, terekam jelas sosok dirinya yang lunglai, tidak berdaya, sedang dipapah—hampir diseret—oleh Arkan masuk ke dalam kamar hotel malam itu. Wajah Reyna terlihat jelas, pucat dan kehilangan kesadaran.
Namun wajah orang yang menyeretnya sama sekali tidak terlihat.
"Satu klik saja, Rey," bisik Arkan tepat di telinganya, "dan video ini akan mendarat di grup Wh*tsApp Fakultas Farmasi. Bayangkan apa yang terjadi pada beasiswa 'mahasiswi teladan'-mu itu. Dan jangan lupa, ibumu yang sedang sekarat itu... Bagaimana reaksinya jika tahu putri kesayangannya melayani pria di hotel bintang lima demi uang?"
"b******k kamu Arkan! Aku tidak pernah menerima uangmu sebagai ganti tubuhku!"
"Oh ya? Apa kebenarannya penting, Reyna? Di saat ada bukti video sejelas ini? Narasi apa pun bisa dengan mudah dibuat!"
Reyna tersentak. Tubuhnya menegang, teringat tubuh ringkih ibunya. Tubuhnya bergetar membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada ibunya yang syok.
"Jangan... kumohon jangan bawa-bawa ibuku," suara Reyna pecah, air mata mulai menggenang. Arkan baru saja menyentuh titik terlemahnya.
"Maka layani aku malam ini. Jangan lari lagi, atau aku benar-benar akan menghancurkan hidupmu sampai ke akarnya."
"Dia tidak akan pergi ke mana pun denganmu."
Suara bariton yang dingin dan penuh otoritas itu menggelegar di sepanjang koridor, menghentikan gerakan tangan Arkan yang hendak menyentuh dagu Reyna.
Bima melangkah keluar dari bayang-bayang pintu laboratorium. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras, dan sorot matanya memancarkan intimidasi yang membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.
Arkan mengnyernyit, lalu mencoba memasang wajah angkuh.
"Ah, Pak Bima? Maaf, Pak, ini urusan pribadi saya dengan teman seangkatan saya. Sebaiknya Bapak tidak perlu ikut campur."
Bima melangkah mendekat, berdiri di antara Reyna dan Arkan, seolah-olah ia adalah benteng kokoh yang tidak bisa ditembus.
"Reyna adalah asisten riset saya. Dia berada di bawah perlindungan saya secara hukum dan institusi selama berada di area gedung ini. Dan saat ini, kamu sedang melakukan pelecehan dan intimidasi di wilayah kerja saya."
Arkan tertawa sinis, meski suaranya sedikit bergetar.
"Perlindungan? Jangan bercanda. Saya tahu Bapak hanya dosen baru di sini! Bapak tahu siapa ayah saya? Dia punya kuasa untuk membuat posisi Bapak di universitas ini goyah hanya dalam satu telepon."
Bima tidak bergeming. Ia justru menyunggingkan senyum yang lebih mirip ejekan murni. "Aku tahu siapa ayahmu, Arkan. Seorang pejabat yang sibuk menutupi skandal korupsinya sehingga lupa mendidik putranya agar tidak menjadi sampah masyarakat. Pergilah sebelum aku kehilangan kesabaran dan memastikan bukan hanya kamu dikeluarkan dari kampus, tapi ayahmu yang agung itu juga kehilangan nama baiknya."
Melihat Bima yang sama sekali tidak gentar dengan ancaman kekuasaan ayahnya, nyali Arkan menciut. Ia menatap Reyna dengan penuh kebencian, lalu meludah ke samping sebelum berjalan pergi dengan langkah terburu-buru.
Begitu Arkan menghilang dari pandangan, pertahanan Reyna runtuh total. Ia merosot ke lantai, napasnya tersengal, dadanya naik turun dengan cepat.
Serangan panik itu datang seperti tsunami.
Ia merasa ruangan itu berputar, dan bayangan video tadi menghantuinya.
"Reyna! Lihat aku! Bernapaslah!"
Bima berlutut di depannya. Melihat Reyna yang histeris dan tidak menanggapi ucapannya, Bima mengambil tindakan nekat. Ia meraup tubuh kecil itu, mengangkatnya, dan membawa Reyna masuk ke dalam laboratorium basement.
Klik.
Pintu terkunci. Bima mendudukkan Reyna di kursi panjang, namun gadis itu terus meronta, tangannya memukul-mukul udara seolah sedang mengusir setan yang tak terlihat.
Tanpa pilihan lain, Bima menarik Reyna ke dalam pelukannya, mendekapnya dengan sangat erat secara paksa. Ia membiarkan Reyna memukul dadanya, membiarkan gadis itu menangis meraung di dalam dekapannya. Membiarkan kemejanya basah oleh air mata Reyna.
"Lepas... dia akan memberitahu Ibu... beasiswaku... aku kotor..." isak Reyna tak terkendali.
Bima tidak melepaskannya. Malah, pelukannya semakin mengerat, memberikan kehangatan yang menyesakkan sekaligus menenangkan.
Secara perlahan, detak jantung Reyna mulai sinkron dengan detak jantung Bima yang tenang namun kuat.
Setelah histeria itu mereda menjadi isakan kecil, Bima melepaskan pelukannya sedikit. Ia menangkup wajah Reyna dengan kedua tangannya. Telapak tangannya yang besar dan hangat, terus mengunci wajah mungil itu, seolah memastikan Reyna tidak bisa berpaling ke mana pun selain ke arahnya.
Mata Bima mulai memerah, bukan hanya karena amarah pada Arkan, tapi karena obsesi gelap tak dikenal, mulai menguasainya.
"Dengarkan aku, Reyna," bisik Bima, suaranya parau. "Selama kamu ada di dalam ruangan ini, di bawah pengawasanku, tidak akan ada satu pria pun yang bisa menyentuhmu. Tidak Arkan, tidak siapa pun. Aku akan menghancurkan siapa saja yang mencoba menyakitimu."
Ibu jari Bima yang sedikit kasar mulai bergerak. Awalnya hanya gerakan samar untuk menghapus sisa air mata yang menyangkut di sudut mata Reyna, namun gerakannya melambat saat mencapai bibir bawah Reyna yang masih bergetar hebat.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menenangkan. Ibu jari Bima menekan pelan, menelusuri lekukan bibir itu dengan gerakan yang sangat lembut namun penuh tuntutan.
Ia seolah sedang menandai wilayahnya, mengklaim kembali apa yang sudah ia "ambil" malam itu.
Reyna bisa merasakan panas dari kulit Bima merambat ke seluruh sarafnya, membuat isakannya terhenti bukan karena tenang, melainkan karena napasnya yang mendadak tercekat.
Mata Bima tidak lagi menatapnya dengan pandangan seorang dosen atau pelindung; ada kabut gelap yang pekat di sana—sebuah obsesi yang membuat bulu kuduk Reyna meremang sekaligus membuat jantungnya berdebar liar dalam ketakutan yang aneh.
Lama tertegun, Reyna akhirnya tersadar. Kesadaran akan posisi mereka—terkunci berdua di lab yang dingin dan duduk berdekatan—membuatnya segera menepis tangan Bima dengan sisa kekuatannya.
Ia bangkit berdiri dengan kaki yang masih agak lemas.
"Jangan bertindak seolah Anda pahlawan, Pak Bima!" suara Reyna serak. "Anda melakukan semua ini hanya untuk menutupi dosa Anda, bukan? Anda merasa dengan 'melindungi' saya dari Arkan, maka tangan Anda akan menjadi bersih dari apa yang Anda lakukan malam itu?"
Bima berdiri, menjulang di hadapan Reyna. Jarak mereka sangat dekat, hingga Reyna bisa mencium aroma maskulin Bima yang dominan.
"Mungkin. Atau mungkin karena aku memang tidak sudi membiarkan orang lain menyakitimu lagi, Reyna. Kamu asisten riset yang terbaik."
Ketegangan yang aneh merayap di antara mereka.
Reyna tidak memalingkan wajah; ia justru menatap lurus ke dalam manik mata Bima yang gelap, mencari sisa-sisa kejujuran yang mungkin terselip di balik kilatan obsesi yang begitu pekat di sana.
Ia ingin memastikan, apakah pembelaan pria ini murni karena tanggung jawab profesional pada asisten risetnya, ataukah hanya tameng untuk menutupi motif yang lebih gelap.
Pria ini memang telah menyelamatkannya dari monster, tapi entah mengapa Reyna merasa bahwa Bima adalah monster yang sama berbahayanya, dan Reyna... benci mulai merasa terbiasa dalam "perlindungan sangkar emas" yang dibangun Bima.
Setelah hening sejenak, Bima berdeham.
"Riset ditunda hari ini. Kamu tidak dalam kondisi untuk memegang instrumen," ucapnya dingin, kembali ke mode dosennya meski matanya masih berkilat gelap.
Selanjutnya, Bima bersikeras mengantar Reyna pulang, di saat Reyna bersikeras menolaknya, lalu kalah suara.
Perjalanan pulang di dalam mobil Bima dilalui dalam keheningan yang mencekam. Reyna hanya menatap ke luar jendela, tangannya masih sedikit gemetar. Saat mobil berhenti di depan rumah petaknya, Reyna turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan dengan kaki yang masih terasa seperti jeli masuk ke dalam rumah.
Bima hanya memperhatikan dari balik kemudi, menunggu sampai pintu tertutup rapat sebelum ia memacu mobilnya pergi.
Di dalam rumah, ketakutan Reyna tidak mereda. Ia melihat ibunya yang sedang duduk di tempat tidur, mencoba melipat pakaian dengan sisa-sisa tenaga pemulihannya sambil tersenyum.
Senyum hangat yang justru terasa seperti sembilu bagi Reyna.
Arkan gila. Dia pasti akan datang ke sini jika aku menolaknya lagi, batin Reyna kalut.
Reyna mendekati ibunya, lalu duduk bersimpuh di lantai, menyandarkan kepalanya di pangkuan sang ibu.
"Bu..."
"Iya, Nduk? Kenapa? Kamu kok pucat sekali?" tanya ibunya lembut sambil mengelus rambut Reyna.
"Bu, Reyna pikir... udara di Jakarta tidak bagus untuk paru-paru Ibu yang baru sembuh. Bagaimana kalau besok Ibu istirahat dulu di rumah Bibi di kampung? Udara di sana segar, banyak pohon. Reyna akan lebih tenang kalau Ibu di sana sementara Reyna sibuk dengan proyek riset kampus."
Ibunya terdiam sejenak. "Tapi nanti siapa yang mengurus makanmu di sini, Na? Kamu kan sibuk sekali."
"Reyna bisa jaga diri, Bu. Tolong... demi kesehatan Ibu. Reyna mau Ibu cepat pulih total," Reyna memohon dengan mata berkaca-kaca.
Ia harus menjauhkan ibunya dari jangkauan Arkan.
Ibunya tidak boleh tahu aibnya, ibunya tidak boleh menjadi sasaran intimidasi pria b******k itu.
Akhirnya, dengan sedikit bujukan lagi, ibunya setuju. "Ya sudah, kalau itu mau kamu. Ibu tidak mau jadi beban buat kamu."
Reyna memeluk ibunya erat-erat, air mata jatuh tanpa suara.
Maafkan Reyna, Bu. Maaf karena Reyna harus mengirim Ibu pergi, hanya karena kotornya hidup Reyna. Maaf karena Reyna harus berbohong lagi dan lagi.
Ibu.. Sedetik pun tidak pernah jadi beban untukku...
Malam itu, di bawah temaram lampu kamar yang mulai redup, Reyna menyadari bahwa ia baru saja menggali lubang yang lebih dalam dalam labirin dustanya.
Ia semakin terjebak antara ancaman video Arkan dan sangkar emas milik Bima, sementara satu-satunya orang yang ia cintai kini harus dijauhkan demi sebuah rahasia gelap yang terus menggerogoti jiwanya.
..............................