BAB 11: Pemicu dan Pelindung

1510 Words
Kantong plastik di tangan Reyna terasa lebih berat dari biasanya, padahal isinya hanya selembar mantel wol yang sudah ia cuci bersih. Sejak pagi, ia menghabiskan waktu di binatu, memastikan setiap serat kain itu terbebas dari debu jalanan. Namun, saat ia mengeluarkan mantel itu untuk dilipat, sebuah paradoks menghantamnya. Bau detergen yang menyengat seharusnya sudah melenyapkan segalanya, namun entah bagaimana, indra penciumannya yang terlalu sensitif seolah masih bisa menangkap jejak samar aroma sandalwood dan mint milik Bima. Aroma itu seperti hantu; tidak terlihat, namun mampu memicu debaran jantung yang menyakitkan. Ada kenyamanan fisik yang khianat saat ia menyentuh kain lembut itu, namun mentalnya langsung berteriak, dan mengingatkannya, bahwa pemilik pakaian ini adalah sumber dari segala mimpi buruknya. Sore itu, Reyna melangkah masuk ke laboratorium basement dengan wajah kaku. Ia meletakkan mantel itu di meja depan tanpa sepatah kata pun. Bima, yang sedang memeriksa logbook, hanya melirik sekilas dan mengangguk dingin. ​"Terima kasih, Reyna," ucap Bima singkat, nadanya datar dan acuh, seolah-olah perhatian yang ia berikan tadi malam hanyalah bagian dari prosedur formal. ​Reyna tidak langsung beranjak menuju lokernya. Ia merogoh saku celananya, lalu meletakkan sebuah botol plastik kecil transparan di sebelah lipatan mantel wol tersebut. Suara ketukan botol plastik yang beradu dengan meja besi menarik perhatian Bima sepenuhnya. ​"Ini tertinggal di saku Anda," ucap Reyna dingin. ​Melihat botol Alprazolam itu, pertahanan Bima runtuh seketika. Sejak semalam, ia menyadari benda itu hilang dan ia sempat panik mencari ke seluruh sudut mobil dan kantornya. Bima segera bangkit dari kursinya dengan gerakan yang hampir membuat kursinya terjungkal. ​"Reyna, itu... obat itu..." Bima tergagap, wajahnya yang biasanya angkuh kini tampak goyah. Ia ingin menjelaskan bahwa insomnianya semakin parah sejak ia tahu dosanya pada Reyna, bahwa ia tidak bisa memejamkan mata tanpa bantuan kimia karena bayangan wajah penuh ketakutan Reyna terus menghantuinya. Tapi kebenaran itu tak bisa keluar dari mulutnya... Harga dirinya seolah mengunci mati kebenaran itu agar tidak merembes keluar. "Saya... hanya menggunakannya saat tekanan kerja terlalu tinggi—" ​"Saya tidak butuh penjelasan Anda, Pak," potong Reyna tanpa sedikit pun minat. Matanya menatap botol itu dengan rasa jijik yang sama seperti ia menatap pemiliknya. "Kehidupan pribadi Anda bukan urusan saya." ​Reyna berbalik, mengabaikan Bima yang masih berdiri terpaku dengan mulut setengah terbuka. Ia segera mengambil jas labnya, mengenakannya dengan gerakan tegas, dan mengancingkannya hingga rapat ke leher. Kain putih kaku itu terasa seperti baju zirah yang melindunginya dari tatapan Bima yang kini tampak goyah karena rahasia kerapuhannya telah terbuka lebar, di hadapan gadis itu. ​Bima menarik napas berat, mencoba menguasai dirinya kembali meski jantungnya berdegup kencang karena malu dan rasa bersalah yang semakin menumpuk. Ia kembali duduk, pura-pura fokus pada logbook, walau huruf-huruf di sana kini tampak mengabur. ​Kesunyian laboratorium malam itu terasa lebih mencekam. Hanya ada deru mesin SFE yang beroperasi dalam tekanan tinggi. Mereka sedang berurusan dengan sampel yang sangat krusial: ekstrak murni dari tanaman Taxus sumatrana, tanaman endemik langka yang mengandung senyawa antikanker alami. Riset ini bertujuan untuk mengoptimasi ekstraksi senyawa antikanker tersebut, agar bisa digunakan sebagai bahan baku kemoterapi pasien kanker. Satu miligram cairan bening yang menetes di ujung kolom kromatografi itu, bernilai lebih dari sekadar uang; itu adalah harapan bagi ribuan pasien kanker, dan investasi miliaran rupiah bagi universitas. Bip! Bip! Bip! Tiba-tiba, suara alarm peringatan memecah keheningan. Lampu indikator pada panel kromatografi kolom berubah menjadi merah darah. "Tekanan di kolom melonjak! Katupnya tersumbat! Kalau meledak, gas CO2 ini, bisa meracuni kita!" teriak Bima, suaranya meledak dalam kepanikan profesional. Reyna terperanjat. Pikirannya langsung melayang pada risiko kegagalan. Jika tekanan ini tidak segera distabilkan, sampel murni yang sudah diekstraksi selama berjam-jam akan terdegradasi karena panas berlebih, atau lebih buruk lagi, kolom kaca itu bisa meledak! "Saya coba buka manual, Pak!" Reyna, didorong oleh insting asisten yang tidak ingin risetnya gagal, buru-buru mendekat ke arah instrumen. Ia meraih katup besi di bagian belakang mesin, berusaha memutarnya dengan sekuat tenaga. Namun, katup itu macet total. Panas dari aliran fluida di dalamnya merambat ke besi luar. "Jangan disentuh langsung, Reyna! Itu panas!" Bima berteriak, tapi terlambat. Dalam sekejap, Bima sudah berada di belakangnya. Ruang di antara mesin dan dinding sangat sempit, memaksa Bima untuk berdiri tepat di belakang punggung Reyna. Ia melingkarkan kedua lengannya di sisi tubuh Reyna, meraih katup yang sulit dijangkau itu dengan tangan kekarnya yang dilapisi sarung tangan tahan panas. Reyna membeku. Posisi itu... seolah-olah Bima sedang memeluknya dari belakang dalam sebuah dekapan yang erat. Seluruh saraf di tubuhnya menegang. Ia bisa merasakan panas tubuh Bima menembus jas labnya, merasakan d**a bidang pria itu menempel di punggungnya. Napas Bima yang memburu karena kepanikan tadi, terasa hangat di ceruk lehernya, mengirimkan gelombang listrik yang salah ke sekujur tubuh Reyna. Di tengah ruangan yang bersuhu dingin karena pendingin udara khusus instrumen, Reyna dapat merasakan pipinya memanas. Klek! Bima berhasil memutar katupnya. Tekanan di monitor perlahan turun. Alarm berhenti berbunyi. Keheningan kembali menyergap, namun kali ini jauh lebih menyesakkan. Bima tidak segera menjauh. Untuk beberapa detik yang terasa abadi, ia tetap dalam posisi itu, seolah terhipnotis oleh kedekatan mereka yang tidak terencana. "Lepas..." bisik Reyna, suaranya bergetar antara marah dan ketakutan. Bima tersentak dan segera mundur beberapa langkah, napasnya masih belum teratur. Mata mereka bertemu. Sorot mata Bima yang biasanya tajam, kini tampak goyah. "Tanganmu," ucap Bima tiba-tiba, suaranya berubah parau. Reyna menoleh ke bawah dan baru menyadari bahwa telapak tangannya memerah dan melepuh kecil akibat gesekan paksa dengan katup panas tadi. Rasa perih baru mulai menjalar. "Hanya luka kecil. Saya bisa mengobatinya sendiri di rumah," ucap Reyna dingin, berusaha menyembunyikan tangannya di balik saku jas lab. "Duduk di sana," perintah Bima. Nada bicaranya tidak lagi sebagai rekan riset, melainkan otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah. "Ini perintah, Reyna. Saya yang membayarmu, dan saya tidak mau asisten saya bekerja dengan tangan terluka." Dengan paksa namun tetap berhati-hati, Bima menarik kursi lab dan menekan bahu Reyna agar duduk. Ia mengambil kotak P3K dari lemari dinding. Adegan selanjutnya menjadi mimpi buruk yang terasa sangat intim bagi Reyna. Bima menarik sebuah bangku kecil dan berlutut di depan Reyna. Ia meraih jemari gadis itu, memegangnya dengan sangat lembut, seolah ia sedang menggenggam kristal paling rapuh di dunia yang bisa hancur hanya dengan satu tekanan kecil. "Anda tidak perlu melakukan ini, Pak Bima. Berhenti bersikap seolah Anda peduli pada saya, setelah apa yang Anda lakukan malam itu!" maki Reyna, berusaha menarik tangannya, namun Bima menggenggam pergelangan tangannya dengan mantap. Bima tidak membalas makian itu. Ia membersihkan luka lecet itu dengan alkohol, lalu mengoleskan salep dingin. Fokus Reyna hancur berantakan saat Bima sedikit menunduk dan meniup pelan luka di tangannya, dengan napas yang hangat untuk mengurangi rasa perih dari alkohol. "Berhenti bertindak ceroboh, Reyna," bisik Bima tanpa mendongak. Suaranya terdengar gelap, lebih seperti sebuah obsesi yang ditekan daripada sekadar simpati. "Aku jadi terus terusik dan khawatir karenamu." Bima mendongak, menatap tepat ke mata Reyna. Memastikan gadis ini memperhatikan kalimat yang akan ia ucapkan selanjutnya, sebelum kembali fokus ke luka Reyna. "Dengar, ya, Reyna. Aku harap ini adalah kali terakhir kamu terluka. Jangan terluka lagi di hadapanku." Reyna tertegun. Kalimat itu terasa seperti jeratan baru. Ia melihat puncak kepala Bima, melihat bagaimana pria yang telah menghancurkannya itu, kini bersimpuh di kakinya hanya untuk mengobati luka kecil. Reyna merasa ada sesuatu yang aneh, dan salah, berderak dari dasar jiwanya. ............................. Esok harinya, rutinitas yang sama kembali dimulai. Sepanjang hari, perasaan Reyna lebih berantakan daripada hari-hari sebelumnya. Tangannya yang terbalut perban tipis masih terasa hangat, meninggalkan memori tentang sentuhan Bima yang begitu kontradiktif—penghancur, sekaligus pelindung untuknya. Kenapa dia terus melindungiku? batin Reyna kacau. Reyna benci harus mengakui, bahwa jika Bima tidak segera mengambil alih katup kemarin, tangannya mungkin sudah terbakar parah dan sampel riset itu akan musnah. Mereka berdua bahkan bisa saja celaka, kemarin! Reyna menggelengkan kepala dengan kuat, berusaha mengusir bayangan Bima dari benaknya. Jangan luluh, Reyna. Dia tetaplah monster! Saat ini, seperti biasa, Reyna berjalan menuju laboratorium instrumen setelah menyelesaikan kelas Farmakoterapi-nya. Namun, saat ia melewati lorong menuju tangga basement yang remang, bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Sebuah firasat buruk merayap di tengkuknya. Sret... sret... Suasana kampus saat ini sudah sangat sepi karena jam operasional kantor sudah berakhir. Namun ia dapat mendengar langkah kaki yang mengikuti ritmenya berjalan, di belakang punggungnya. Reyna mempercepat langkah, jantungnya berpacu. Ia menoleh dengan cepat ke belakang. Dan dunia seolah berhenti berputar. Di sana, kini bersandar pada pilar beton dengan seringai licik yang sangat ia kenali, berdiri seorang pria. Arkan. Pria yang malam itu memberikan minuman "beracun" padanya dan menyerahkannya pada nasib buruk, di hotel. "Hai. Apa kabar, Reyna?" Arkan menyapa dengan nada santai yang memuakkan. Ia melangkah maju, memperkecil jarak. "Kenapa kamu begitu sulit ditemui, akhir-akhir ini?" Reyna mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding dingin. Ketakutan murni kembali menguasai dirinya. Arkan berhenti tepat di depan wajah Reyna, matanya menatap liar. "Urusan kita belum selesai, kan? Kamu pikir kamu bisa lari begitu saja setelah membuatku kehilangan 'paket' berhargaku malam itu?" Reyna gemetar hebat. Di lorong yang sunyi ini, ia menyadari bahwa monster yang ia hadapi bukan hanya Bima. Dan berbeda dengan Bima, monster yang satu ini, tidak memiliki rasa bersalah sama sekali. .............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD