Waktu adalah tabib yang aneh; ia tidak benar-benar menyembuhkan luka, ia hanya melapisinya dengan jaringan parut yang tebal agar rasa sakitnya tidak langsung bersentuhan dengan udara. Tiga minggu telah berlalu sejak operasi Lung Volume Reduction Surgery (LVRS) yang menyelamatkan nyawa ibunya. Kini, suasana rumah petak mereka terasa jauh lebih hidup. Bau obat-obatan yang menyesakkan berganti dengan aroma sup ayam hangat dan minyak kayu putih.
"Rey, kamu benar-benar beruntung asuransi kesehatan yang kamu cicil itu mau menanggung semuanya," ujar ibunya sore itu, sambil duduk di kursi teras, wajahnya sudah kembali merona. "Ibu tidak menyangka biayanya bisa tertutup sepenuhnya. Tuhan memang baik lewat jalan yang tidak terduga."
Reyna yang sedang mencuci piring di dapur kecil mereka hanya bisa membeku. Jantungnya berdenyut nyeri setiap kali kebohongan itu keluar dari mulutnya.
Tuhan memang baik, Bu, tapi perantara-Nya adalah seorang monster, batinnya pahit.
Reyna hanya bergumam mengiyakan, tidak sanggup menatap mata jernih ibunya. Uang Bima adalah rahasia gelap yang ia telan bulat-bulat, sebuah duri yang bersarang di tenggorokannya, membuatnya merasa kotor setiap kali ia menarik napas lega melihat ibunya sehat.
Melihat kondisi ibunya yang sudah stabil dan bisa ditinggal sendirian, Reyna tahu ia tidak bisa lagi menunda takdirnya.
Dengan jari gemetar, ia mengetik pesan singkat kepada nomor yang telah ia simpan dengan nama "B": Ibu saya sudah pulang. Saya bisa mulai bekerja besok sore.
Balasannya datang hanya dalam hitungan detik, seolah pria di seberang sana memang sedang menggenggam ponselnya menunggu kabar darinya: Baik. Jam empat sore di depan gedung riset. Terima kasih, Reyna.
Keesokan harinya, mendung menggelayut rendah di langit Jakarta saat Reyna memarkir sepeda bututnya di area parkir mahasiswa. Dengan langkah berat, ia berjalan menuju gedung laboratorium instrumen. Namun, langkahnya terhenti di sudut lobi yang sepi.
Di sana, di bawah naungan pohon kamboja yang menjorok ke arah taman lobi, ia melihat sebuah pemandangan yang tidak selaras dengan imajinasinya tentang seorang Bima Adi Wijaya.
Pria itu, yang biasanya terlihat angkuh dalam balutan jas atau kemeja mahal, kini sedang berjongkok. Jas labnya tersampir di kursi taman, sementara lengan kemeja birunya digulung hingga siku. Di tangannya ada sebungkus makanan kucing kering.
"Ayo, makan yang banyak. Kamu terlihat kurus sekali," gumam Bima lembut.
Seekor kucing liar berwarna oranye menggesekkan kepalanya ke tangan Bima dengan manja. Ada senyum tipis di bibir pria itu—senyum yang tulus, yang membuat garis-garis tegas di wajahnya melunak. Cahaya matahari sore yang menerobos celah awan menyinari profil wajahnya, menonjolkan rahang yang kokoh namun dengan ekspresi yang begitu... manusiawi.
Untuk sesaat, pertahanan Reyna goyah. Ia terpaku, mengagumi garis wajah Bima yang memang sangat tampan jika tidak sedang memancarkan aura d******i. Ada getaran aneh di dadanya, sebuah pemikiran berbahaya menyeruak: Apakah mungkin dia sebenarnya orang baik?
Namun, secepat kilat memori malam di kamar 404 melesat di benaknya. Rasa mual yang familiar naik ke kerongkongannya. Bau alkohol, suara pintu terkunci, dan perasaan tidak berdaya saat ia ditarik masuk ke dalam kegelapan.
Ingat, Reyna! Ia memaki dirinya sendiri dalam hati. Iblis pun bisa menyamar menjadi malaikat. Jangan tertipu oleh kasih sayang palsunya pada seekor binatang. Dia tetaplah monster yang merampas harga dirimu!
Reyna mengeraskan wajahnya, memasang topeng dingin yang paling tebal, lalu melangkah maju dengan hentakan sepatu yang sengaja dikeraskan.
Kucing itu terkejut dan berlari menjauh. Bima mendongak, matanya sedikit membelalak saat melihat Reyna. Ia segera berdiri, berusaha merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.
"Reyna, kamu sudah datang?" sapanya, suaranya kembali ke nada bariton yang terkontrol.
"Bisa kita mulai sekarang, Pak? Agar saya bisa cepat pulang dan menemui ibu saya," potong Reyna tanpa basa-basi, dengan suara sedatar mungkin. Ia tidak mau memberikan celah bagi percakapan personal sekecil apa pun.
Bima menghela napas, aura hangat yang tadi ia pancarkan sirna seketika, digantikan oleh gurat rasa bersalah yang kini seolah menjadi bayang-bayang tetap di wajahnya. "Baik. Mari ke bawah."
Laboratorium instrumen di lantai basement terasa seperti bunker yang terisolasi dari dunia luar. Suara dengung mesin SFE mengisi ruangan yang dingin itu dengan kebisingan mekanis yang ritmis.
Bau karbondioksida dan pelarut kimia menggantikan aroma udara segar.
Pekerjaan itu membutuhkan presisi tinggi. Reyna harus berdiri di sisi instrumen untuk mencatat tekanan gas setiap sepuluh menit, sementara Bima mengatur katup aliran di sisi lainnya. Jarak mereka tidak lebih dari satu meter. Setiap kali Bima bergerak untuk memeriksa indikator di dekat tangan Reyna, gadis itu secara refleks menahan napas atau sedikit bergeser menjauh, menciptakan tarian penolakan yang sangat kentara.
Atmosfer di laboratorium itu terasa menyesakkan. Lampu neon yang berkedip sesekali menciptakan bayangan panjang di dinding beton.
"Kamu ingin kopi? Atau mungkin sandwich?" tanya Bima memecah kesunyian, mencoba bersikap ramah. "Di lemari pendingin ada beberapa minuman dan snack. Kamu belum makan sejak jam kuliah tadi, kan?"
Reyna tidak mengalihkan pandangan dari monitor tekanan. "Saya di sini untuk bekerja, Pak Bima. Bukan untuk piknik. Simpan keramahan Anda untuk orang lain yang mungkin menginginkannya."
Bima terdiam sejenak, tangannya yang sedang memegang botol fraksi sedikit gemetar. "Saya hanya ingin memastikan asisten saya tidak pingsan saat menangani gas bertekanan tinggi."
"Jangan khawatir. Saya sudah terbiasa bertahan hidup dengan perut kosong," balas Reyna tajam. "Lagipula, menerima pemberian dari Anda, hanya akan membuat saya merasa semakin berhutang. Sekarang pun, saya sudah cukup muak dengan perasaan itu."
Jam yang seolah berputar lambat, akhirnya menunjukkan pukul sembilan malam. Kelelahan mulai menggerogoti Reyna. Kuliah dari pagi hari, ditambah tugas laporan farmakologi yang menumpuk, dan kini harus berdiri berjam-jam di lab, membuatnya merasa dunianya sedikit berputar.
Bima yang memperhatikannya sejak tadi mendekat selangkah.
"Duduklah di kursi itu, Reyna. Biar saya yang memantau tekanan untuk satu jam ke depan."
Reyna menoleh, menatap Bima dengan mata yang menyala karena kebencian yang mendalam. "Saya berdiri karena pilihan saya sendiri, dan saya merasa masih mampu, Pak. Setidaknya, walau lelah, saya masih punya kendali atas tubuh saya sendiri. Tidak seperti malam itu, di kamar hotel Anda."
Kata-kata itu menghantam Bima tepat di dadanya. Pria itu terpaku, wajahnya memucat seolah-olah seluruh darahnya baru saja disedot keluar. Ia tidak membela diri. Ia hanya menunduk, membiarkan keheningan yang menyakitkan kembali menguasai ruangan.
Hinaan Reyna adalah kebenaran yang tidak bisa ia bantah, dan setiap kali gadis itu melontarkannya, Bima merasa dunianya runtuh berkali-kali.
..................................
Malam itu, hujan badai tiba-tiba mengguyur Jakarta dengan ganas. Guntur menggelegar, getarannya terasa hingga ke ruang bawah tanah. Saat proses ekstraksi akhirnya selesai pada pukul setengah dua belas malam, Reyna baru menyadari bahwa ia terjebak.
Di lobi gedung riset, ia berdiri menatap tirai hujan yang sangat lebat. Angin kencang membuat air tempias masuk ke dalam lobi. Sepeda bututnya terparkir malang di kejauhan, basah kuyup.
"Hujannya tidak akan reda dalam waktu dekat," suara Bima terdengar dari belakang. Pria itu sudah mengenakan mantel wol panjangnya yang terlihat sangat elegan dan mahal. "Ayo, saya antar pulang. Tidak mungkin kamu menerjang badai dengan sepeda itu. Kamu bisa sakit, dan riset kita akan terhambat."
"Saya lebih baik menunggu sampai pagi daripada masuk ke mobil Anda," jawab Reyna tanpa menoleh. Tubuhnya sedikit menggigil karena AC laboratorium yang dingin dan kini suhu udara malam yang anjlok.
Bima tidak menyerah. Ia tahu keras kepalanya Reyna adalah bentuk pertahanan diri.
Tanpa berkata-kata lagi, ia mendekati Reyna. Sebelum Reyna sempat menghindar, Bima melepas mantelnya dan dengan gerakan cepat menyampirkannya ke bahu Reyna, membungkus tubuh kecil gadis itu.
"Apa yang Anda lakukan?! Lepas, Pak!" Reyna memberontak, berusaha meronta.
Namun, Bima memegang kedua bahu Reyna dengan tegas—bukan dengan nafsu, melainkan dengan sebuah otoritas yang tidak bisa dibantah. "Pakai ini. Ini perintah dari atasanmu, jika kamu lebih suka menganggapnya begitu. Saya tidak akan membiarkanmu pulang hanya dengan kaos tipis itu. Simpan saja mantelnya, berikan pada saya besok, di lab."
Aroma maskulin Bima—perpaduan sandalwood yang hangat dan mint yang tajam—langsung menyerbu indra penciuman Reyna.
Aroma sandalwood atau cendana seharusnya memberikan rasa aman, namun bagi Reyna, itu adalah pemicu trauma akan malam yang merenggut segala miliknya.
Meski begitu, kehangatan mantel itu perlahan mulai meresap ke dalam kulitnya yang membeku.
Bima melepaskan pegangannya sebelum Reyna meledak lebih jauh. "Jangan berani-berani melepasnya sampai kamu masuk ke dalam rumah. Mengerti?!"
Tanpa menunggu jawaban, Bima berjalan menembus hujan menuju mobilnya yang terparkir di depan lobi, meninggalkan Reyna yang berdiri mematung dengan jantung berdegup kencang. Reyna ingin sekali melempar mantel itu ke aspal, membiarkannya terinjak-injak air hujan.
Namun, rasa dingin yang menggigit dan kelelahan yang luar biasa mengalahkan egonya.
Dengan tangan gemetar, ia merapatkan mantel itu ke tubuhnya, membenci fakta bahwa ia merasa sedikit lebih baik dalam "perlindungan" pria itu.
Setengah jam kemudian, saat hujan sedikit mereda menjadi gerimis, Reyna akhirnya nekat pulang dengan sepedanya, mengenakan mantel mahal Bima yang terlihat sangat kedodoran di tubuhnya. Ia mengayuh secepat mungkin, ingin segera lepas dari area kampus.
Sesampainya di rumah petaknya, Reyna segera masuk dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia terengah, napasnya memburu bukan hanya karena lelah mengayuh, tapi karena perasaan sesak yang terus menghimpit dadanya setiap kali ia berdekatan dengan benda milik Bima.
Ia melepaskan mantel wol itu dengan gerakan kasar, bermaksud untuk segera mencucinya besok agar aroma Bima menghilang selamanya.
Namun, saat ia mengangkat mantel itu untuk diletakkan di gantungan kayu, ia merasakan sebuah ganjalan di saku bagian dalam. Sesuatu yang keras dan kecil.
Apakah dia meninggalkan penyadap suara? Atau alat pelacak? pikir Reyna paranoid.
Dengan ujung jari gemetar, ia merogoh saku gelap itu. Tangannya menarik keluar sebuah botol plastik kecil transparan. Reyna menyipitkan mata di bawah remang lampu bohlam rumahnya.
Alprazolam. Obat tidur. Dosisnya cukup tinggi. Nama yang tertera di label resep itu jelas: Bima Adi Wijaya.
Reyna terpaku, jemarinya terasa dingin saat menyentuh botol obat tidur itu.
Sebuah ironi yang pahit menghantam benaknya.
Monster yang telah merenggut ketenangannya, monster yang tampak begitu berkuasa dan tak tersentuh di laboratorium tadi, ternyata adalah pria yang bahkan tidak bisa memejamkan mata tanpa bantuan kimia.
"Ternyata kamu pun tidak bisa tidur nyenyak setelah apa yang kamu lakukan, Pak Bima?" bisik Reyna pada kesunyian rumahnya. Ada kepuasan pahit sekaligus rasa sesak yang baru saat ia menyadari bahwa pria itu juga membawa nerakanya sendiri di balik jas lab yang mahal itu.
Apa yang tidak Reyna tahu, di luar sana, sebuah mobil SUV hitam mewah melaju perlahan dengan lampu redup.
Bima menjaga jarak sekitar lima puluh meter di belakang sepeda Reyna sejak tadi.
Ia memastikan gadis itu tidak terpeleset di jalanan yang licin, memastikan tidak ada orang jahat yang mengganggu gadis itu di gang-gang sempit menuju rumahnya.
Bima hanya berhenti saat melihat Reyna masuk ke dalam rumah petaknya dan mengunci pintu. Ia mematikan mesin mobil sejenak, menatap rumah kecil yang remang-remang itu dari kejauhan. Tangannya meremas kemudi, matanya berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Reyna..." bisiknya pelan, sebuah permohonan yang hanya didengar oleh rintik hujan dan sunyinya malam.
Setelah memastikan lampu di dalam rumah itu menyala, tanda Reyna sudah aman di dalam, barulah Bima memutar mobilnya dan pulang dengan hati yang masih tertinggal di depan pintu rumah mahasiswinya itu.
................................