BAB 7: Kiamatnya Dunia Bima

1907 Words
Langkah kaki Reyna terasa berat, seolah sepasang kakinya terbuat dari timah. Jam kuliah telah usai, namun beban di pundaknya justru terasa berlipat ganda. Ia berjalan keluar dari kelasnya dengan gemetar. Udara siang itu terasa dingin di kulitnya, namun keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Tangannya meremas ujung buku teks farmakologi hingga kertasnya rusak dan hancur, sama seperti perasaannya saat ini. Setiap kali bayangan wajah pria di depan kelas tadi pagi melintas, rasa mual yang hebat menghantam ulu hatinya. Ketakutan menyiksa jiwanya—takut jika pria asing itu, yang ternyata adalah dosennya sendiri, akan membongkar kejadian semalam di depan teman-temannya. Reyna tidak pernah membayangkan, dalam mimpi buruk sekalipun, bahwa sosok "sampah" yang telah menodainya semalam ternyata adalah seorang intelek, seorang dosen yang akan menentukan masa depannya. Bagaimana dunia bisa begitu kejam? Bagaimana bisa seorang pria yang tampak begitu terhormat di depan kelas, bisa berubah menjadi monster yang tak mengenal ampun di dalam kamar hotel? Reyna mencoba mengambil rute keluar memutar melalui gerbang samping yang biasanya sepi, agar bisa mengontrol napasnya yang mulai tersengal. Setelah menyeberangi lapangan kampus, ia sampai di koridor ini. Lorong itu sunyi, hanya ada suara langkah kakinya yang bergema. Namun, saat ia melewati sebuah pintu gudang penyimpanan yang sedikit terbuka, sebuah tangan besar dan kokoh tiba-tiba terjulur keluar. "Ah!" Jeritan Reyna tertahan di kerongkongan saat tubuhnya ditarik kasar ke dalam ruangan gelap yang pengap. Pintu gudang ditutup dan dikunci dengan bunyi klik yang menakutkan. Reyna terhuyung, namun punggungnya segera membentur dinding beton yang dingin. Napasnya memburu, ia memejamkan mata rapat-rapat, seluruh tubuhnya gemetar menunggu serangan berikutnya. "Buka matamu, Reyna..." Suara bariton yang dingin itu membuat Reyna tersentak. Di hadapannya, berdiri sosok yang baru saja ia kutuk di dalam hati. Bima. Jarak mereka sangat dekat, begitu dekat hingga Reyna bisa merasakan napas panas Bima yang beraroma mint menyapu wajahnya. Aroma yang kini terasa seperti racun di hidungnya. Suasana di gudang itu gelap, hanya ada sedikit cahaya yang masuk dari celah ventilasi atas, namun itu cukup untuk memperlihatkan mata Bima yang berkilat tajam—penuh amarah dan penghinaan. Bima menatap Reyna dengan tatapan merendahkan, seolah-olah Reyna adalah kuman di bawah mikroskop. Ia meletakkan satu tangannya di dinding di atas bahu Reyna, mengurungnya dalam ruang yang sangat sempit. "Kenapa tadi pagi kamu pergi terburu-buru sebelum menerima bayaranmu, hm? Apa layananku semalam tidak cukup memuaskanmu?" suara Bima terdengar rendah, tenang, namun sangat berbisa. Reyna mematung. Kebingungan menyelimuti wajahnya yang pucat. Bibirnya bergetar, ingin memprotes, namun suaranya seolah hilang. Ketika suara itu muncul, suara itu begitu lirik seolah datang dari alam lain. "Ba-bayaran? Apa maksud Bapak?" Bima mendengus sinis, matanya menyapu penampilan Reyna dari atas ke bawah. Ia melihat tas kain yang sudah pudar warnanya, dan sepatu yang tampak sudah lama dipakai. Tidak ada barang glamour atau barang bermerek. Pakaiannya biasa saja, tasnya bahkan hampir robek di sudutnya. Apa dia sengaja berpakaian seperti ini di kampus untuk menjaga citra mahasiswi miskin berprestasi? batin Bima pahit. Bima kemudian menyentuh kerah turtleneck hitam Reyna dengan gerakan kasar, menariknya sedikit hingga Reyna terpaksa mendongak. "Jangan pura-pura polos di depanku. Saya sudah lihat profilmu. IPK sempurna, publikasi jurnal... Kamu bahkan selalu mendapat beasiswa, ya? Hebat, sekali... Jadi, untuk apa uang itu, Reyna? Untuk gaya hidup? Untuk membeli tas mewah yang selama ini tidak bisa kamu beli? Memang berapa yang kamu dapatkan semalam, Reyna? Apa prestasi akademikmu itu hanya kedok agar hargamu lebih mahal?" Reyna menggigil ketakutan, sama sekali tak memahami omong kosong dan tuduhan keji pria yang telah mengambil keperawanannya. Apa pria ini gila?! Setelah semua yang ia lakukan semalam?! Bima kemudian melangkah maju, menghilangkan jarak yang sejak awal sudah tipis itu. Ia menundukkan kepala dan berbisik di dekat telinga Reyna, sambil diam-diam menghirup aroma yang sejak kemarin seolah tertinggal di indera penciumannya. "Jangan pura-pura bodoh, Reyna. Kamu... Jangan-jangan sengaja mencari 'kerja sampingan' sebagai LC, menjadi 'Paket Gadis Lugu Premium' di hotel berbintang, hanya untuk menggoda pria kaya seperti saya, ya...?" Mendengar kalimat terakhir Bima, seketika kata-kata "Paket Gadis Lugu Premium" berputar di otak Reyna seperti proyektor yang diputar ulang. Ia teringat suara Bima di telepon semalam, sebelum pria itu tiba-tiba menerjangnya. Pria itu juga menyebut kata-kata yang sama. Potongan puzzle yang tadinya berantakan di kepala Reyna kini tersusun dengan sempurna. Ia baru sadar sepenuhnya, pria di depannya ini menganggapnya wanita bayaran yang dikirim ke kamarnya! Sesuatu dalam dirinya teremas hingga ke taraf sakit yang benar-benar menghancurkan. Rasa takut yang sejak tadi mencekik lehernya seketika menguap, digantikan oleh bara api amarah yang mampu menghanguskan segalanya. Reyna mendorong d**a Bima dengan tenaga yang tak terduga, sebuah dorongan kuat yang membuat Bima terkejut dan mundur selangkah. Air mata Reyna akhirnya menetes, melintasi pipinya yang pucat, namun tatapannya tidak lagi menunjukkan kerapuhan. Matanya berkilat murka, sepasang mata yang menuntut keadilan. "Cukup!" teriak Reyna, suaranya bergetar karena emosi yang meledak. "Bapak... Bapak yang semalam menodai saya! Bapak yang menarik saya ke dalam kamar itu dan melakukan hal biadab, tanpa peduli teriakan saya. Tapi sekarang Bapak malah bermain sebagai korban?!" Reyna maju selangkah, menantang tatapan Bima dengan keberanian yang lahir dari kehancuran. "Anda pikir saya apa?! Anda pikir saya w************n yang bisa Anda beri label semudah itu?! Demi Tuhan, saya tidak tahu apa itu LC!! Saya bahkan tidak begitu ingat jelas, kenapa saya bisa berakhir di kamar Anda! Karena malam itu saya..." Reyna terisak, napasnya tersengal. Ia tidak mampu melanjutkan kalimatnya. Semua rentetan kejadian ini, sejak Arkan yang menjebaknya, sampai ia yang berakhir sebagai "LC" di kamar hotel dosennya, terlalu absurd. "Bapak adalah seorang dosen, seorang intelek yang dihormati! Tapi bagi saya, Bapak tidak lebih dari seorang kriminal! Bapak pikir saya p*****r?!" Reyna menunjuk wajah Bima dengan jari gemetarnya. "Jika Bapak punya sedikit saja otak di balik gelar S3 itu, Bapak akan tahu bahwa tidak ada p*****r yang akan menangis sampai kehabisan napas karena telah kehilangannya kehormatannya yang paling berharga!" Reyna berbalik, memutar kunci pintu gudang dengan kasar, lalu lari keluar sambil terisak, meninggalkan Bima yang berdiri mematung di kegelapan. Keheningan kembali jatuh di gudang itu. Bima merasa seolah-olah baru saja dihantam badai. Getaran suaranya, sorot matanya yang penuh luka... itu adalah air mata kemarahan yang jujur. Kata-kata Reyna tentang "menodai" dan "kriminal" menghantam egonya dengan keras. Untuk pertama kalinya, keyakinan Bima bahwa Reyna adalah seorang wanita bayaran mulai goyah. Ada getaran kebenaran dalam ledakan emosi gadis itu yang tidak bisa dipalsukan oleh teknik akting mana pun! Dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa ragu yang mulai merambat, Bima merogoh saku jasnya. Ia menghubungi Arjuna. Ia perlu mendapatkan kebenarannya! "Halo, Jun," suara Bima terdengar parau. Belum sempat Bima berkata apa-apa, suara Arjuna di seberang telepon sudah menyela dengan nada panik. "Bim! Aduh, Bim, sorry banget! Aku baru aja dapet kabar. Gila banget, semalam ternyata mami kenalanku salah susun jadwal! Ternyata LC yang aku pesen buat kamu semalam itu nggak dateng ke hotel! Kau nggak telfon aku, sih?! Kamarnya jadi kosong semalam, kan? Sorry banget ya... Kau nggak jadi masuk ke dunia dewasa, deh. Hehe..." Tangan Bima lemas seketika. Seluruh sendi di tubuhnya terasa lepas. Suara Arjuna terus mengoceh, namun Bima sudah tidak mendengarnya lagi. Mati, aku. Batin Bima, dunianya seketika terasa gelap gulita. Ia telah melakukan kejahatan terbesar pada seorang gadis yang benar-benar tidak bersalah. Dan... Gadis itu ternyata adalah mahasiswi teladannya. Bima langsung teringat pada semua tuduhan kejinya pada Reyna barusan... Aku benar-benar gila! Bima bergegas keluar dari gudang, ia harus mengejar Reyna. Ia harus melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini, untuk menebus kesalahannya... Meski ia tidak tahu apa. Saat sampai di area parkir yang agak sepi, ia melihat Reyna di kejauhan. Namun, langkah wanita itu tiba-tiba terhenti. Ia dapat melihat Reyna diajak bicara oleh seorang pria. Bima tidak mengenal pria itu, yang pasti Reyna benar-benar terlihat berbeda dengan Reyna yang membentaknya di gudang tadi. Reyna yang ada di sana, tampak menciut. Tubuhnya gemetar hebat sambil memandang pria yang sedang bersandar pada mobil SUV mengkilap di hadapannya itu. Bima langsung bersembunyi di balik barisan mobil terdekat, menajamkan pendengarannya. "Kok buru-buru banget, Na? Mau pulang? Emang udah selesai matkul?" Pria itu bertanya dengan nada sok lembut yang memuakkan. "Semalam kenapa kamu pergi dulu?Aku cuma pengen kamu istirahat sebentar karena kamu pingsan. Maaf ya, kalau itu buat kamu ketakutan.." Reyna hanya diam, menyembunyikan ketakutan yang mendalam. Melihat Reyna yang hanya bungkam, pria itu melangkah mendekat, mencoba menyentuh pipi Reyna. Reyna langsung menepis tangan itu dengan jijik. "Jangan sentuh aku, Arkan. Tidak perlu berpura-pura lagi. Aku sudah tahu semuanya. Taruhan kamu... Minumanku yang kamu beri obat tidur... Dan apa yang kamu mau lakukan! Kamu... benar-benar menjijikkan, Arkan!" Melihat reaksi Reyna, senyum palsu di wajah pria itu—Arkan—menguap seketika. Wajahnya mengeras, menampakkan sisi bengis yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melangkah maju, menyudutkan Reyna ke salah satu mobil. "Oh, jadi si 'Robot' sudah pintar sekarang?" Arkan terkekeh sinis, ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Di sana terlihat Reyna yang sedang tertidur lemas di kasur hotel semalam. "Gara-gara kamu kabur, aku terancam kalah taruhan mobil sport itu, sialan! Sekarang, kamu harus ikut aku lagi ke 'pesta' malam ini untuk menebusnya. Kalau tidak, foto ini akan tersebar ke seluruh kampus dalam hitungan detik. Biar semua orang tahu mahasiswi teladan ini ternyata suka 'tidur' di hotel." "Kamu... iblis!" Reyna menjerit, mencoba lari, namun Arkan mencengkeram pergelangan tangannya dengan sangat kuat. Bima yang sejak mendengar kata-kata 'obat tidur' dan 'taruhan', bergetar penuh kemarahan, kini tidak bisa menahan diri lagi. Ia keluar dari persembunyiannya dan langsung menyambar kerah baju Arkan dan menyentaknya hingga pegangan Arkan pada Reyna terlepas. "Siapa lo?! Jangan ikut campur!" bentak Arkan. Bima tidak bergeming, ia mencengkeram kerah Arkan hingga pria itu tercekik. "Saya dosen di sini. Dan saya mendengar semua ucapan kamu barusan." Arkan terkejut melihat seorang dosen ada di sana dan berkata telah menjadi saksi perbuatan buruknya. Wajahnya langsung memucat, menatap Bima yang menatapnya dengan pandangan membunuh. "Pergi dari sini sekarang, atau saya sendiri yang akan menyeretmu ke pihak Dekanat dengan tuduhan pelecehan dan pengancaman. Saya punya cukup kuasa untuk mengeluarkanmu dari kampus ini dalam waktu satu jam." Melihat otoritas dan kemarahan Bima, Arkan mendesis kesal. Dengan umpatan kasar, ia melepaskan diri dan lari menuju mobilnya. Dalam hitungan detik, mobil itu pergi, meninggalkan debu yang mengepul. Keheningan jatuh. Bima berbalik, mencoba menyentuh bahu Reyna yang masih terguncang untuk menenangkannya. "Reyna, tenanglah... Kamu tidak apa-ap-" Plak! Reyna menepis tangan Bima dengan sangat kasar. Ia menatap Bima dengan mata yang penuh kebencian. "Jangan sentuh aku!" Reyna menepis tangan Bima dengan tenaga yang lebih besar daripada sebelumnya. Matanya merah, menatap Bima dengan kebencian yang sama besarnya dengan saat ia menatap Arkan. "Maaf, Reyna... Saya hanya ingin membantu—" "Membantu apa? Membantu menghancurkanku lagi?!" Reyna berteriak histeris di tengah parkiran yang sepi. "Jangan berlagak menjadi pahlawan di depan orang yang sudah kamu hancurkan, Pak Bima!" teriak Reyna dengan suara parau. "Arkan memang iblis, tapi kamu? Kamu iblis yang lebih jahat dari dia! Dia baru berniat, tapi kamu... Kamu sudah melakukannya!" Bima terdiam membeku. Kata-kata itu menghantam jantungnya seperti peluru. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa semua hanya salah paham, namun kenyataan bahwa ia telah menodai gadis ini tidak bisa dihapus. Kenyataan bahwa ia adalah "sampah" di mata Reyna, tidak akan berubah. Bima kini tahu, setiap kata yang diucapkan Reyna adalah kebenaran yang paling pahit yang harus ia telan malam ini. Setelah menguping tadi, kini sudah jelas, malam itu... Reyna dalam keadaan yang perlu bantuan, dan ia, Bima Adi Wijaya, malah semakin menenggelamkannya ke palung terdalam. Bima mendongak, menatap punggung Reyna yang tadi lari meninggalkannya dengan isak tangis yang menyayat hati. "Aku benar-benar sampah..." ………………………………
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD