Dunia Reyna seolah runtuh serempak dalam hitungan jam. Rentetan kejadian mulai dari pengkhianatan Arkan, pelecehan yang dilakukan Bima, hingga ancaman penyebaran foto di parkiran tadi, menghantam mentalnya hingga ke titik nadir. Ia berjalan pulang dengan tubuh yang terasa kosong, jiwanya seolah sudah tercerabut. Setiap pasang mata yang berpapasan dengannya di jalan terasa seperti sedang menghakiminya.
Namun, begitu ia sampai di depan rumah petaknya yang reyot, insting seorang anak mendadak mengambil alih. Ia mencium aroma yang tidak biasa—bau sesuatu yang terbakar dari dapur. Reyna segera berlari ke dapur, dan mendapati teko air dikompor sudah gosong, air di dalamnya sudah habis. Ia segera mematikan api, dan keheningan yang mencekam datang, menggantikan suara desisan menyedihkan teko tadi.
Firasatnya entah mengapa mengatakan ada sesuatu yang salah. Reyna segera berlari ke kamar ibunya.
"Ibu?" suara Reyna bergetar saat membuka pintu kayu yang berderit.
Tidak ada sahutan.
Reyna masuk ke dalam kamar, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tubuh ibunya sudah tergeletak di lantai dingin di samping tempat tidur.
Wajah sang ibu sudah membiru, tangan keriputnya naik ke atas kasur, mencengkeram kain sprei dengan sangat kuat seolah sedang bertaruh nyawa untuk satu tarikan napas. Suara napasnya terdengar seperti gesekan amplas yang kasar dan menyakitkan.
"Ibu! Bangun, Bu! Reyna di sini!"
Reyna meraung, memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin. Rasa hancur karena kehormatannya yang hilang seketika digantikan oleh ketakutan luar biasa akan kehilangan satu-satunya harta yang ia miliki.
Dengan tangan gemetar hebat, ia menghubungi ambulans.
"Tolong... Ibu saya... dia tidak bisa bernapas," isaknya parau di telepon.
Ruang Tunggu ICU Rumah Sakit Cipta Asih
Sirene ambulans yang memekakkan telinga tadi kini digantikan oleh kesunyian lorong rumah sakit yang dingin. Ibunya langsung dilarikan ke Unit Perawatan Intensif (ICU).
Dan sekarang, di depan pintu kaca besar yang tertutup rapat, Reyna duduk sendirian dengan kepala yang berdenyut hebat. Matanya menatap nanar lampu merah yang menyala di atas pintu. Lampu itu berpendar menyilaukan mata Reyna yang sembap.
Sudah setengah jam sejak ibunya masuk ke ruangan ini, namun belum ada kabar apapun dari dalam!
Di tengah kepanikannya menunggu kabar dokter, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah nama muncul: Pak Hendra – Pemilik Apotek.
Reyna jadi teringat, ia seharusnya sudah mulai sif siang dua jam yang lalu.
"Halo, Pak Hendra? Maaf, Pak... saya tidak bisa masuk hari ini. Ibu saya kritis, sekarang saya sedang di ICU—"
"Halah! Alasan saja kamu itu!" suara bentakan Pak Hendra memotong kalimat Reyna dengan kasar. "Dua minggu lalu kamu juga pakai alasan yang sama, kan? Ibumu sakit ini, sakit itu. Jangan-jangan kamu cuma mau makan gaji buta ya, di apotek saya?!"
"Astaga, tidak Pak... ini benar-benar darurat, saya tidak berbohong—"
"Sudah, tidak usah banyak bicara! Saya capek cari pengganti kamu terus. Mulai hari ini kamu saya pecat! Kamu tidak perlu datang lagi ke apotek saya. Cari saja tempat kerja lain yang mau memelihara karyawan pembohong seperti kamu!"
Tut... tut... tut...
Reyna menatap layar ponselnya yang gelap dengan pandangan kosong.
Aku dipecat...
Reyna baru saja kehilangan satu-satunya sumber penghasilan di saat ia paling membutuhkannya. Belum sempat ia mencerna kehancuran itu, pintu ICU terbuka. Seorang dokter dengan masker yang masih terpasang. Wajahnya menunjukkan gurat kelelahan sekaligus keseriusan.
"Keluarga Ibu Ratih?"
Reyna bergegas berdiri. "Saya, Dok. Bagaimana keadaan ibu saya?"
"Kondisi pasien sangat kritis. Paru-parunya sudah mencapai tahap kerusakan yang parah akibat infeksi kronis. Kami harus segera melakukan operasi Lung Volume Reduction Surgery (LVRS) untuk menyelamatkan nyawanya. Jika tidak dilakukan malam ini, saya takut beliau tidak akan bertahan sampai fajar."
Reyna menelan ludah yang terasa seperti duri. "Biayanya... berapa, Dok?"
Dokter itu menyebutkan estimasi angka ratusan juta rupiah untuk operasi, belum termasuk biaya ICU dan obat-obatan pasca-operasi. Angka itu seketika membuat kaki Reyna terasa seperti kapas. Ia menangis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu semalam? Menjual rumah petaknya pun tidak akan cukup. Bahkan seolah tak cukup menderita, ia baru saja dipecat dari pekerjaannya!
"Dok..." suara Reyna bergetar hebat. "Saya... saya baru saja dipecat dari pekerjaan saya. Apakah ada keringanan biaya? Saya benar-benar tidak punya uang sebanyak itu sekarang..."
Dokter itu menatap Reyna dengan iba, namun ia menggeleng lemah. "Mbak Reyna, coba menenangkan diri dulu. Setelah itu, Mbak coba bicara dengan bagian administrasi di depan. Saya sebagai dokter tidak bisa memastikan apa-apa soal biaya, karena itu bukan bagian saya. Saya hanya fokus pada tindakan medis."
Setelah dokter pergi, Reyna menunduk dalam. Ia menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan, mencoba menahan isak tangis yang ingin meledak. Ia merasa seperti domba yang dikepung serigala dari segala arah. Tidak ada pekerjaan, tidak ada uang, dan nyawa ibunya berada di ujung tanduk.
Tanpa Reyna sadari, di balik pilar koridor yang gelap, Bima berdiri mematung. Pria itu sejak di kampus tadi, mengikuti Reyna dan menyaksikan segalanya. Ia mendengar bagaimana Reyna dipecat dengan kasar, dan ia melihat bahu gadis itu terguncang hebat saat memohon keringanan biaya pada dokter.
Rasa bersalah yang menghantuinya, kini berubah menjadi rasa sakit yang mencekik. Bima segera melangkah menjauh.
.........................
Setengah jam kemudian, Reyna menyeret kakinya dan seluruh beban berat yang ia tumpu di pundaknya, menuju meja administrasi dengan wajah pasrah. Ia akan memohon dengan cara apapun. Ibunya harus selamat. Ia tidak akan kehilangan ibunya malam ini!
Begitu sampai di depan nurse station, ia menyapa salah satu Suter dengan senyum bengkok dan memulai pembicaraan.
"Suster, soal deposit operasi Ibu Ratih..."
Suster administrasi itu melihat layar sejenak. "Lho, wali pasien Ibu Ratih? Biaya operasi dan perawatan ICU ibu Ratih untuk satu minggu ke depan, tadi dibayar lunas, mbak. Depositnya sudah masuk sepuluh menit yang lalu."
Reyna tertegun. "Lunas? Siapa... siapa yang membayar?"
"Tadi ada seorang pria, tinggi, kemeja biru. Oh, itu, dia baru saja keluar lewat lobi," tunjuk suster itu.
Reyna menoleh. Punggung itu. Postur tegap dengan aura dominan yang sangat ia kenal.
Bima.
Amarah Reyna yang tadi sempat teredam oleh rasa sedih, kini meledak kembali dengan kekuatan berlipat ganda. Reyna merasa harga dirinya diinjak-injak untuk kesekian kalinya. Tidak hanya mengambil kehormatannya, tapi kini pria itu bahkan mencoba "membeli" dosanya, saat Reyna sedang berada di titik terendah hidupnya.
Reyna berlari sekuat tenaga mengejar Bima ke area parkir yang mulai gelap.
"PAK BIMA!"
Pria itu berhenti dan berbalik perlahan. Begitu Bima menatapnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya.
PLAK!!
Suara tamparan itu menggema di keheningan parkiran. Bima tetap diam, kepalanya terlempar ke samping, namun ia tidak menghindar sedikit pun.
"Apa-apaan Anda, Pak?! Siapa yang menyuruh Anda ikut campur?!" teriak Reyna histeris, air matanya tumpah lagi. "Apa Bapak kira dengan uang ini, kesalahan Bapak semalam selesai? Anda pikir saya serendah itu sampai bisa dibayar setelah Anda hancurkan?!"
"Reyna, saya tidak bermaksud menghinamu—"
"Dengar, Pak! Kalau saya menerima uang Bapak, saya benar-benar menjadi p*****r seperti yang Bapak tuduhkan!"
Reyna memukul d**a Bima dengan kepalan tangan kecilnya. "Saya lebih baik melihat ibu saya meninggal daripada harus berutang nyawa pada monster seperti Anda!"
Tiba-tiba, Bima menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas semen dingin dan kasar di parkiran rumah sakit. Sang dosen killer yang begitu disegani dikampus itu, kini bersimpuh di kaki mahasiswinya.
"Maafkan saya, Reyna. Saya melihat ambulans di depan rumahmu, dan membuntutimu karena ingin membantu. Tidak, karena saya ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam. Walau entah dengan cara apa." suara Bima parau. "Saya kemudian tidak sengaja menyaksikan semuanya. Saya mendengar telepon dari bos apotekmu, saya melihatmu memohon pada dokter."
Bima mendongak, matanya meredup. "Hukum saya sesukamu, Reyna.. Tapi jangan biarkan ibumu pergi hanya karena egomu. Uang itu bukan untuk membayar apa yang terjadi semalam, karena saya tahu itu tidak ternilai."
"Lalu apa?! Anda ingin saya menjadi b***k Anda?!"
Bima berdiri perlahan, ia mengatur napasnya. "Jika kamu tidak mau menerimanya sebagai bantuan cuma-cuma, maka terimalah sebagai kontrak kerja. Saya butuh asisten riset pribadi untuk proyek riset tesis saya yang baru. Gajinya akan langsung saya gunakan untuk menutupi seluruh tagihan rumah sakit ini sampai ibumu sembuh total."
Bima mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya, dan menyodorkannya ke depan Reyna. "Bekerjalah untuk saya, Reyna. Secara profesional. Kamu sama sekali bukan menjual dirimu, kamu menjual otak dan kecerdasanmu sebagai mahasiswi terbaik saya. Anggap saja ini beasiswa tambahan."
Reyna terdiam, napasnya tersengal. Ia menatap kartu nama itu dengan pandangan nanar.
Di satu sisi, ia ingin merobek kartu itu dan melemparkannya ke wajah Bima. Namun, di sisi lain, ia teringat bayangan wajah ibunya yang membiru karena sesak napas di lantai tadi.
Kesimpulannya hanya satu. Ia butuh uang itu. Tanpa uang Bima, ibunya akan mati malam ini.
Bima adalah satu-satunya harapan pahit yang ia miliki.
Reyna memejamkan mata, membiarkan air mata kekalahan mengalir di pipinya. Ia mengutuk pria di depannya, mengutuk takdir, dan mengutuk kemiskinannya sendiri yang memaksanya harus kembali ke pelukan sang penghancur.
"Aku membencimu... Sangat membencimu, Pak." bisik Reyna pelan, hampir seperti desisan. "Aku akan mengambil pekerjaan itu, tapi jangan pernah berpikir aku akan memaafkanmu."
Reyna merampas kartu nama itu.
"Dan jangan pernah berharap aku akan menatapmu sebagai manusia lagi, Pak Bima. Bagi saya, Anda hanyalah monster berdasi!"
Bima menatap punggung Reyna yang berjalan kembali ke dalam. Tubuhnya masih gemetar jika mengingat kebencian murni di mata Reyna. Tapi setidaknya ia telah berhasil.
Ia telah berhasil bertanggung jawab atas ketidakberuntungan gadis itu, walau ia tahu, ini adalah awal dari neraka yang ia ciptakan sendiri.
Di bawah lampu jalan rumah sakit yang remang, sebuah transaksi yang lahir dari dosa dan keterpaksaan telah resmi dimulai.
………………………………