BAB 20: Lumpur dan Sandiwara Manis

1124 Words
"Pacar, Bu?!" Suara Reyna melengking satu oktav, nyaris memecahkan kesunyian dapur. Ia menatap Bima dengan pandangan 'apa-apaan-kamu-pak', namun pria di depannya justru menampilkan wajah paling malaikat yang pernah Reyna lihat. Reyna sampai muak melihatnya. "Iya, Bu," jawab Bima dengan nada lembut yang dipoles sempurna. Ia mengulurkan tangan, menjabat tangan ibu Reyna dengan takzim. "Salam kenal, Bu. Saya Bima. Maaf datang tiba-tiba tanpa kabar, soalnya Reyna kalau ditanya kapan bisa main ke sini selalu bilang sibuk belajar. Jadi saya nekat saja menyusul." Reyna membeku. Ingin rasanya ia berteriak bahwa pria ini adalah 'monster berdasi' yang menyekapnya dalam perjanjian gila, tapi melihat binar bahagia di mata ibunya, lidah Reyna kelu. Ibunya tampak sangat lega, seolah baru saja melihat keajaiban dunia. Maklum, selama ini Reyna hidup seperti mayat hidup yang hanya peduli pada buku dan angka. Mendapati putrinya memiliki "pacar" setampan dan sesopan Bima adalah jawaban dari doa-doa panjang sang ibu. Ibunya tidak bisa, untuk tidak antusias. "Duh, Nak Bima ganteng sekali. Mana sopan, lagi. Reyna kamu memang keterlaluan, ya... Punya pacar kok disembunyikan," ujar Ibunya sambil menepuk lengan Bima akrab. Ia kemudian mendongak menatap Bima. "Nak Bima sudah makan? Ibu baru saja masak sayur lodeh dan ikan asin." "Tidak usah, Bu! Pak Bima mau langsung pu—" Potong Reyna cepat, sampai tiba-tiba... Kruyuuukk!... Perut Bima berbunyi sangat nyaring di saat yang paling tidak tepat. Suasana mendadak hening. Reyna ingin menenggelamkan diri ke dalam sumur, sementara Bima hanya bisa tersenyum malu sambil memegangi perutnya. "Sepertinya perut saya sangat jujur, Bu. Bau ikan asinnya memang sedap sekali daritadi, Bu. Bikin perut saya bereaksi," canda Bima yang lantas disambut tawa renyah sang ibu. Makan siang hari itu terasa sangat absurd bagi Reyna. Mereka berempat—bersama ibu dan bibi Reyna—duduk melingkar di atas tikar pandan. Anehnya, Bima yang biasanya makan dengan sendok perak di restoran mewah, kini tampak sangat menikmati makan dengan tangan dengan natural, di rumah kayu itu. Ia terlihat begitu harmonis, seolah ia memang bagian dari keluarga ini sejak lama. "Ayo ditambah lodehnya, Nak Bima," sang ibu dengan telaten menyendokkan lauk ke piring Bima. "Terima kasih, Bu. Masakan Ibu enak sekali, jauh lebih enak dari restoran di Jakarta," puji Bima tulus. Ia bahkan sempat melontarkan beberapa lelucon ringan yang membuat Ibu dan Bibi Reyna terbahak-bahak. Diam-diam, sebuah perasaan aneh menyusup ke d**a Reyna. Ada rasa aman yang hangat melihat pria dominan itu bisa bersikap begitu lembut pada ibunya. Untuk sejenak, ia lupa bahwa mereka sedang dalam posisi 'tawanan dan penyandera'. Kegembiraan itu sedikit terdistraksi saat sebuah mobil boks berhenti di depan rumah. Dua orang teknisi turun membawa beberapa kotak peralatan. "Loh, Siapa ya, maaf?" tanya Reyna bingung. Bima bangkit, kembali ke mode bosnya yang efisien. "Saya minta mereka memasang CCTV di sudut-sudut rumah ini, Na. Tadi saya bilang ke ibumu, kamu pulang buru-buru karena khawatir soal berita pembunuhan berantai yang pelakunya belum tertangkap, itu. Jadi, untuk keamanan, saya tawarkankan ini dan ibumu setuju." Reyna tertegun. Ia tahu betul ini adalah cara Bima melindungi ibunya dari ancaman Arkan, tanpa membuatnya melepaskan beasiswa dan kuliahnya di Jakarta. Meski ia sadar utang budinya pada Bima kini setinggi gunung, Reyna belum siap melepaskan pendidikannya. Secara realistis ia membutuhkan perlindungan ini. "Terima kasih, Pak" bisik Reyna pada Bima sangat pelan, saat para teknisi mulai bekerja. Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Reyna mengajak Bima berjalan menyusuri pematang sawah yang hijau royo-royo. Angin pegunungan berembus sejuk, mempermainkan anak rambut Reyna. "Pak, tolong catat semua biaya CCTV tadi," ujar Reyna tiba-tiba tanpa menoleh. "Saya pasti akan membayarnya. Cicil atau apa pun, pokoknya Saya tidak ingin ada utang yang tidak terbayar." Bima tersenyum kecil, memandangi sosok mungil di sampingnya. "Tubuhmu sekecil ini, tapi harga dirimu besar sekali ya, Reyna?" "Itu satu-satunya hal yang masih saya punya, Pak," balas Reyna tegas. "Tenang saja. Aku catat," sahut Bima mengalah. Ia kemudian menatap hamparan sawah. "Kamu, sudah punya rencana selanjutnya? Kamu akan kembali ke Jakarta, kan?" "Bapak pulang saja duluan, besok pagi. Saya akan menyusul lusa setelah memastikan Ibu benar-benar aman. Saya tidak mau riset Bapak terhambat lebih lama karena saya. Maaf Pak, Saya menjadi beban Bapak." Untuk pertama kalinya, Reyna berani mengucapkan permohonan maaf pada Bima, diiringi senyum tipis. Jika diingat, aneh sekali bagaimana ia sedetik lalu sempat merasa nyaman menghabiskan waktu bersama pria ini, di saat sebelumnya, Bima adalah pria yang ia benci, dan pria pertama yang ingin ia jauhi dari semua pria yang ada di bumi. Mendengar ucapan Reyna, Bima berhenti melangkah, dan seketika langkah Reyna ikut berhenti. Secara spontan, Bima mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala Reyna dengan lembut. "Kamu sama sekali bukan beban, Na. Selama ini kamu sudah banyak membantuku. Tanpamu, riset itu nggak mungkin berjalan sampai sejauh ini..." Reyna terpaku. Sentuhan itu terasa berbeda—tidak ada nafsu, hanya ada penghargaan tulus. Ia bahkan sempat melupakan poin perjanjian 'Dilarang Menyentuh'. Namun, momen puitis itu hancur dalam sekejap ketika Bima mencoba selangkah melangkah lebih maju. Sreeett... Gebyur! Bima salah menginjak tanah yang lembek dan terperosok masuk ke dalam parit sawah. Kaki dan sebagian celana mahalnya kini berlumuran lumpur hitam yang pekat. Ia terduduk di parit dengan wajah syok. Reyna terdiam sedetik, lalu tawanya meledak. Ia tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya, sesuatu yang belum pernah Bima lihat sebelumnya. Bima terpana di tempatnya. Ia menatap wajah Reyna yang sedang tertawa lepas—mata yang menyipit, gigi yang rapi, dan rona merah di pipi. Sangat cantik... Bima merasa ia rela terperosok ke seribu parit lagi hanya untuk melihat senyum itu sekali lagi. "Sini, Pak... saya bantu," ujar Reyna akhirnya, sambil mengulurkan tangan, masih dengan sisa tawa. Namun, tanah di pinggir parit itu memang licin. Saat Reyna menarik tangan Bima, kaki Reyna justru ikut tergelincir. Gebyur! Kini mereka berdua terduduk di dalam parit, saling berpandangan dengan baju yang penuh lumpur dan rumput. Keheningan sesaat itu pecah menjadi tawa bersama yang menggema di tengah sawah. "Sepertinya sekarang kita harus mandi dulu, Pak," lapor Reyna sambil menatap kekacauan bajunya yang penuh lumpur. Bima terkesiap, matanya sedikit membelalak jahil. "Jangan gila, kamu! Mandi bersama?!" Mata Reyna membulat sempurna. Ia lantas berteriak sambil menyipratkan air parit ke arah Bima. ​"BAPAK YANG JANGAN GILA! Mandi sendiri-sendiri lah!" teriak Reyna sambil menyipratkan air parit ke arah Bima. ​Bima tertawa, lalu menatap Reyna dengan pandangan yang sedikit lebih serius namun jenaka. "Bima! Panggil saya Bima. Jangan sampai ibu kamu curiga, kamu panggil saya pak pak pak terus. Lagian saya masih muda, nggak sebapak-bapak itu." ​Reyna mendengus, berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. "Terserah saya, Pak. Mulut, mulut saya. Udah, saya mau pulang duluan. Kalau Bapak masih mau berendam di sini, saya tinggal saja!" ​Reyna bergegas bangkit dan merangkak naik ke pematang sawah, meninggalkan Bima yang masih tertawa pelan di dalam parit, menatapi punggung gadis itu dengan binar mata bahagia yang tak lagi bisa ia sembunyikan. .................................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD